Rabu, 26 November 2014

Kerinduan ini

Ketika rindu itu memuncak
Ada hasrat untuk dapat bersua
Namun ruang dan waktu seolah enggan menyerah...
Terus mengintimidasi atas nama perbedaan.
Antara kerinduan dan hasrat untuk memeluk...
Hadir sehelai keraguan..
Dapatkan kerinduan ini terobati ketika ruang dan waktu masih tetap kokoh dalam keangkuhan mereka?
Mencoba meraba di dalam khayalan, berusaha mengobati rindu dalam impian.

Minggu, 16 November 2014

Berikan aku satu alasan saja

Gelombang-gelombang yang berkeliaran di sekelilingku... Dapatkah kalian mengerti bahwa aku butuh sebuah alasan untuk tetap berada di sini, di sudut ruang hati, yang sempit, yang tak mengijinkanku menatap keindahan pelangi, bahkan untuk merasakan hangatnys mentaripun tak dapat.
Aku ingin bergerak bebas seperti kalian, menari kian kemari tanpa hambatan namun kalian sungguh tahu tujuan kalian.
Berikan aku satu saja alasan untuk dapat duduk manis dan menikmati keteraturan tanpa makna bagiku ini, setidaknya aku  tau bahwa aku memang perlu berada dsni, bukan karena "harus"

Kamis, 16 Oktober 2014

Hawa yang tersakiti

Seorang hawa tersakiti
Bukan karena sakit melahirkan
Bukan pula karena tersayat pisau,
Tapi karena disakiti orang yang paling dicintainya.
Cintanya ternodai kekerasan.
Ketulusannya terciderai ketidakpercayaan.
Ditekan...
Dilecehkan...
Dinomor duakan...
Dikasari bahkan dilukai.
Cintanya berubah menjadi rasa sakit,
Tapi tetap setia dalam sebuah janji suci.
Haruskan ia berhenti mencintai?
Tapi ini cinta!
Haruskan ia melarikan diri?
Tapi ini rumah tangganya!
Tetap mencintai di dalam rasa sakit.
Tetap tersenyum di dalam tekanan.
Seorang penolong yang butuh pertolongan,
Seorang hawa yang menjadi dingin
Karena cinta yang ternodai.

16 Oktober 2014
@SSP SoE- pelatihan konseling

Rabu, 15 Oktober 2014

Aku Perempuan

Aku perempuan...
Seorang yang dianggap lemah,
Tapi tak seperti itu.
Aku perempuan...
Seorang yang dulu dianggap nomor dua,
Tapi juga tak seperti itu.
Aku seorang perempuan...
Sang pemilik rahim yang kudus.
Rahim yang dianugerahkan sang pencipta.
Rahim yang akan mengandung sebuah anugerah.
Rahim yang akan menjadi awal sebuah kehidupan.
Aku perempuan...
Yang berjuang antara hidup dan mati
Demi sebuah kehidupan baru.
Aku perempuan yang akan selalu tersenyum karena sebuah kehidupan.

SoE, 15 Okt 2014
*Selamat buat kelahirannya kaka nona. Sayang kamu.*

Kamis, 02 Oktober 2014

Kisah kami dan dua orang yang sangat kami cintai

            Nama saya Sherly Leo. Saya lahir di sebuah kota kecil di Kabupaten Timor Tengah Selatan, 27 tahun yang lalu dari dua orang yang luar biasa yang selalu kami panggil Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i. Bo’ i. dalam bahasa Rote (daerah asal Mama Bo’ I artinya sayang.)
Saat ini saya tidak berencana menulis tentang siapa saya, saya hanya ingin menulis tentang dua orang ini, dua orang yang sangat saya cintai ini.
            Papa Bo’ i lahir di sebuah daerah pegunungan di kecamatan Kuanfatu, daerah selatan dari Kabupaten Timor Tengah selatan ini, 62 tahun yang lalu tepatnya 18 Juli 1952. Sejak kecil yang saya tahu Papa Bo’ i adalah seorang yang tenang, seorang yang sangat sabar. Dan sampai sekarang kesan itu masih tetap kokoh, karena itulah Papa Bo’ i yang selalu tenang dan sabar dalam melihat segala sesuatu.
            Mama Bo’ i lahir di pulau Rote, pulau paling selatan di Indonesia, pada tanggal 27 November 1959. Mama Bo’ i adalah  perempuan paling luar biasa yang pernah saya kenal dan saya sangat bersyukur dilahirkan dari rahimnya. Mama Bo’ i orang yang sedikit cerewet, tapi memiliki hati yang sangat lembut. Seorang perempuan sederhana tapi tak pernah ingin melihat anak-anaknya bermalas-malasan.
            Menurut cerita, perkenalan mereka itu diawali di Kupang, ibu kota propinsi NTT. Ketika itu rumah Mama Bo’ i letaknya tepat di belakang gereja Koinonia Kuanino tempat Papa Bo’ i sering berlatih paduan suara, dan ternyata mereka adalah teman paduan suara di gereja itu. (Mungkin karena itu ada banyak orang yang mengatakan bahwa kami 6 orang bersaudara memilki suara yang bagus saat bernyanyi. Hahahahha)
            Pada tanggal 26  Februari 1980 Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i diberkati menjadi sepasang suami istri, yang kemudian diberkahi dengan 5 orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
Masa kecil kami, kami kategorikan dalam kategori bahagia. Kami hidup dengan sederhana tapi bahagia dan teratur. Semuanya masih sangat kental dalam ingatan saya, bagaimana saat bangun pagi papa bo’ I telah menempatkan gelas-gelas berisi susu di atas meja. Bagaimana setiap sore kami berebutan antri di sumur untuk dimandikan Papa Bo’ i sementara Mama Bo’ i menunggu kami di dalam rumah untuk mengenakan pakaian pada kami.  Bagaimana kami berhamburan lari ke dalam kamar untuk berpura-pura tidur siang saat menyadari kalau sekarang saatnya Papa Bo’ i pulang dari kantor dan akan memarahi kami jika kedapatan tidka tidur siang.
            Setiap malam sehabis makan, kami diharuskan belajar bersama di dalam sebuah ruangan yang tidak begitu luas. (waktu itu rumah kami hanya berukuran sempit dan dihuni oleh banyak sekali orang, ada saudara-saudra kami dari kampung yang bersekolah di sini tinggal bersama kami). Setelah belajar dan sebelum tidur, kami harus bersama-sama keluar, kami harus mencuci kaki kami, dan harus embuang air kecil  (walaupun tidak merasa ingin buang air kecil tapi kami harus buang air kecil agar tidak buang air kecil di tempat tidur), dan setelah itu baru boleh naik ke tempat tidur.
            Satu hal yang masih sangat saya banggakan sampai saat ini, yang mungkin tidak dialami oleh semua anak kecil pada umumnya, Mama Bo’ i adalah seorang perempuan yang pandai mendongeng, setiap kali akan tidur, kami semua akan mendengar dogeng yang diceritakan oleh Mama Bo’ i hingga terlelap. Ada dongeng terjadinya Bintang Tujuh-Tujuh, Putri Henderina, Cebol, dll.
            Sewaktu kecil kami juga diberi kesempatan untuk berkarya semampunya kami, tak pernah ada larangan untuk tidak berkarya, walaupun kami masih dibatasi soal waktu (semua orang tua pasti melakukan ini). Apapun yang kami lakukan selama itu positif, Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i tak pernah melarangnya. Saking mendukungnya, jika kami terlambat pulang latihan  menyanyi,, Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i rela mencuci piring yang sebenarnya adalah tugas kami anak-anak.
            Sejak kecil, tak pernah satu kalipun kami mendengar Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i bertengkar. Mereka selalu saling mengerti dan memahami dalam segala hal. Hal yang paling saya suka adalah ketika melihat Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i bercanda, mereka terlihat sangat bahagia.
            Mereka adalah tipe pekerja keras. Tak pernah sekalipun kami melihat mereka duduk dan berpangku tangan ketika melihat ada sesuatu yang belum beres dalam rumah, mereka akan mengerjakan apa saja yang bisa mereka lakukan. Bias gender sangat kuat dalam keluarga saya, Papa Bo’ i tak pernah malu melakukan pekerjaan rumah yang kata orang banyak adalah tugas seorang perempuan (Papa Bo’ i sering membuat kue walaupun tak semahir Mama Bo’ i).
            Mama Bo’ i adalah seorang yang sungguh memperhatikan kami anak-anaknya. Kalau ada kisah-kisah inspiratif yang menceritakan tentang seorang ibu, kisah itu belum berhasil mengalahkan kisah yang dibuat Mama Bo’ i bagi kami. Kadang Mama Bo’ i rela makan cuma dengan cabe (kami menyebutnya kurus) hanya agar kami bisa makan dengan lauk yang seharusnya untuk Mama Bo’ i. Mama Bo’ i belum akan makan sebelum kami anak- anaknya makan, bahkan hingga kini, kami anak-anaknya sudah besar, dua orang kaka saya sudah menikah, kami semua sudah bekerja dan adik saya yang bungsu sudah kuliah, Mama Bo’ i masih tetap membagikan makanan bagi kami di piring kami masing-masing sebelum Mama Bo’ i makan. Di usia 27 tahun ini, saya baru akan makan jika sudah disiapkan dalam piring oleh Mama Bo’ i. Menurut orang lain itu sesuatu yang tidak pantas kami lakukan, tapi bagi kami itu memilki makna tersendiri, kami masih membiarkan Mama Bo’ i memperlakukan kami seperti gadis kecilnya di rumah, tapi kami akan selalu menopangnya dan membahagiakannya di hari tuanya sebagai wanita dewasanya.

            Sampai hari ini, saya belum pernah mencintai seseorang seperti saya mencintai mereka. Mereka adalah segalanya bagi kami. 

Rasa Itu

Kadang- kadang rasa itu adalah untain kata indah yang menyejukkan hati,
kadang-kadang rasa itu adalah lantunan lagu yang menggetarkan jiwa,
kadang-kadang rasa itu sederetan kata membentuk puisi,
tapi...
kadang-kadang rasa itu hanya diam, tak bersuara namun dapat dipahami oleh dua hati yang saling merasa.

SoE-Sumba, 03102014

CINTA

Sebuah rasa tak bernama,
Rasa yang menyejukkan walaupun bukan seperti air.
Rasa yang menenangkan, walaupun bukan sebuah ayunan.
Rasa yang muncul tanpa diundang,
Rasa yang kembali hadir setelah lama terkubur dalam kalbu.
Rasa yang ingin kusebut CINTA.
Dan memang benar… itu CINTA.
Cinta yang tak beralasan,
Hanya ada sebuah rasa.
Cinta yang tak menuntut,
Hanya ada pengertian.
Ada jarak tapi tak memisahkan.
Itulah CINTA.


Special for My Agung

MALAIKATKU

Ketika aku dilahirkan,
aku hanya seorang anak kecil dengan tangisan
yang menggemaskan bagi setiap orang yang datang melihatku.
Yang kuketahui hanya aku aman bersama bunda.
Aku mulai beranjak menjadi seorang anak yang aktif dengan celotehan-celotehanku,
Dengan kekanakanku, dengan sikap agresifku,
Yang aku tahu, senakal apapun aku,
aku tetap aman bersama ayah yang akan selalu menjadi pahlawanku.
Aku mulai beranjak dewasa,
aku semakin mengerti apa arti mereka dalam hidupku,
Mereka bukan hanya pelindungku dan pahlawanku.
Mereka adalah malaikat bagiku.

Aku mencintai mereka

Rabu, 01 Oktober 2014

CILIK (Cinta lama Infeksi Kembali)


            Malam itu aku terlalu letih untuk sekedar menonton sinetron favoritku setiap malam. Tanpa membuang waktu aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur kesayanganku ketika masuk ke dalam rumah, setelah sejak pagi beraktivitas dengan sangat padatnya. Perlahan-lahan mata ini mulai tertutup dan aku hampir masuk ke dunia mimpi, namun seketika aku terjaga karena deringan hapeku yang ternyata lupa ku non- aktifkan. Dengan sedikit memejamkan mata tanganku mulai meraih hape yang kuletakkan di atas meja di samping tempat tidur. Kulihat ada 12 angka tertera di layar hape, nomor yang tak kukenali.

Halo…” Jawabku dengan lemas setelah menekan tomboh answer di layar hapeku.

Halo…” Terdengar suara di seberang sana.

Aku masih tak mampu mengenali suara itu

Halo…” Suara itu kembali terdengar mungkin hanya untuk memastikan kalau aku  masih terjaga dan tidak kembali ke dalam mimpiku.

Iya, halo… maaf ini sama siapa?” Tanyaku masih dalam keadaan setengah mengantuk.

coba tebak ini siapa?” Suara di seberang sana terdengar sedikit menggoda.
siapa ya?” tanyaku sambil mulai memutar otakku dan mengingat-ingat siapa pemilik suara ini.

Pikiranku mulai menjelajahi ruang waktu dan kembali ke beberapa tahun lalu. Pikiranku mulai meraba-raba berusaha menjangkau teman-teman masa kuliahku dan ingin meyakinkan bahwa suara ini milik salah satu di antara mereka. Tapi ternyata tidak, suara ini bukan milik salah seorang teman kuliahku. Lalu siapa dia?

Ayo tebak siapa ini?” Suara itu mulai terdengar tertawa.
Siapa ya? Aku masih saja belum mampu mengenalinya.

Ini sama teman SMA dulu… Ayo tebak… “
Ahaaa… teman SMA dulu? Aku tahu!
Jonathan?” kataku dengan percaya diri
Hahahaha… iya… ini aku! Ternyata masih ingat ya…”

            Itulah awal pertemuan kembali kami setelah perpisahan kami dinyatakan lulus SMA. Waktu yang sangat lama. 2005 sampai dengan saat ini sudah 2014, Sembilan tahun yang lalu.
            SEPULUH TAHUN YANG LALU….
            Sore itu kami pulang sekolah sedikit lebih awal karena peraturan di sekolah kami, setiap hari Sabtu kami yang masuk siang harus masuk lebih awal untuk mengikuti ibadah bersama dan setelah itu Kegiatan Belajar Mengajar akan dilakukan hanya sampai pukul 16. 00 WITA.  Setelah bunyi lonceng tanda kegiatan belajar mengajar selesai dan setelah berdoa bersama di dalam kelas, tanpa membuang waktu kami berebutan keluar dari pagar sekolah yang sudah seminggu ini berhasil menguras tenaga dan otak kami untuk belajar (walaupun sebenarnya tidak demikian juga).

Halo Chichy…” Sapa seseorang dari arah belakang. Spontan aku dan teman-teman menoleh ke belakang.

Halo…” Sapaku pada teman yang ternyata adalah tetanggaku.

Boleh bicara sebentar?” Katanya.
Boleh…” Kataku sambil melangkah meninggalkan teman-temanku sedikit ke belakang mereka.

Kamu dapat salam dari teman saya

Siapa?”

Jonathan, teman sekelas saya

Salam bagaimana ya?” kataku pura-pura tak mengerti apa maksudnya walaupun sebenarnya aku sudah tahu apa maksudnya.

Hmmm… Bagaimana ya… Dia suka sama kamu” Katanya dengan suara yang kedengaran mulai merasa tak enak menyampaikan ini.

Hummmm… iya… tapi nanti saja ya baru aku jawab?” Jawabku dengan lembut.

Oke, kalau begitu aku duluan ya…” Kataku sambil berlalu menhampiri teman-temanku.

            Sore itu, sore yang cerah di hari pertama dalam minggu ini, hari Senin yang indah, yang merubah ungakapan yang sering orang-orang gunakan “I hate Monday” karena Senin ini, tak seperti biasanya aku pulang bersama teman-teman akrabku, lima orang perempuan tangguh dan sangat luar biasa dalam karya dan celotehan mereka. Sore ini sepulang sekolah aku pulang bersama seseorang yang sebenarnya sudah lama ku lihat tapi tak begitu ku kenal. Kami satu sekolah tapi beda kelas. Dia orang yang dibicarakan oleh tetangga sekaligus teman sekolah saya itu di hari Sabtu lalu. Dia adalah Jonathan.

            Sore itu ternyata jadi awal persahabatan kami, aku dan Jonathan resmi berpacaran. Sama seperti pasangan-pasangan yang lainnya, kami selalu terlihat bersama baik itu di sekolah maupun di jalan sepulang sekolah. Bahkan mungkin  terlihat sedikit aneh bagi teman-teman sebaya kami yang lainnya, hubungan kami tidak kami sembunyikan dari keluarga kami, walaupun masih di bangku SMA tapi kami sudah berani memperkenalkan pasangan pada keluarga kami, dia sering main ke rumahku, dan akupun sering main ke rumahnya. Hubungan kami dapat dikatakan hubungan yang sangat baik, walaupun kami masih sangat muda waktu itu.

            Semuanya berubah ketika kami dinyatakan lulus SMA. Waktu itu di kota kami yang memiliki telpon seluler baru segelintir orang saja, kami berpisah tanpa saling memberi nomor hape, bukan karena tak ingin tapi karena belum memiliki barang elektronik tersebut. Aku berangkat ke luar kota dan dia entah ke mana aku tak tahu, yang aku tahu dia kembali ke kota kelahirannya yang berbeda pulau denganku.

Semuanya hilang, tak berjejak hingga malam ini, deringan hapeku menghadirkan dia kembali ke sini.

            HARI INI….
            Setelah sebulan kembali membangun persahabatan. Yah, harus kami katakan ini persahabatan karena semua menjadi begitu bercampur aduk, antara rasa bahagia, rasa haru, bingung, dan semuanya bercampur dalam hati dan benak kami.
Sembilan tahun bukan waktu yang singkat. Kami telah berpisah sangat lama, kami telah hampir saling melupakan dan bahkan berpikir takkan pernah saling bertemu lagi. Kami telah berubah, kami tidak lagi dua insan remaja yang saling jatuh cinta dengan getaran cinta yang membuat kami sering terlihat tersenyum sendiri dan saling menatap malu-malu ketika bertemu. Kini kami telah menjadi dua orang dewasa yang harus kami akui bahwa sangat berbeda dari sepuluh tahun yang lalu. Dia telah menjadi seorang laki-laki dewasa tidak hanya dalam usia tapi juga cara pandangnya akan hidup dan juga sebuah hubungan. Aku telah menjadi seorang wanita dewasa yang tak lagi tersipu malu ketika berhadapan dengannya.
            Dan… Akhirnya hari ini, kami bersama-sama mengakui bahwa rasa yang pernah tertinggal hampir mati itu ternyata masih ada di sudut hati kami, dan kami ingin memulai sesuatu yang baru di lembaran lama yang sempat kami simpan dengan sangat rapi dalam hati.
Kalau orang lain mengatakan CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) kami lebih suka menggunakan singkatan yang unik walaupun terlihat lucu, kami menyebutnya CILIK (Cinta Lama Infeksi Kembali)



SoE, 1 Oktober 2014



Senin, 25 Agustus 2014

DIA

Dia bukan seorang yang menawan
Tapi dia seorang yang luar biasa dalam hidupnya
Dia bukan seorang yang pandai bercerita
Namun dia seorang yang mampu memberikan cerita dalam kisah hidupnya.
Dia seorang perempuan biasa
Yang hidup dalam kesederhanaan.
Dia seorang anak,
Yang menjadi kebanggaan
Dia seorang ibu,
Yang mencintai tanpa syarat,
Dia...

Seorang istri yang penuh pengabdian hingga akhir hidupnya.


special untuk Alm. Ma Dina Selan

RIWAYAT KITA

Ketika kehidupan itu diawali
Ada tangisan kecil dari bibir mungil seorang anak manusia.
Ketika kehidupan itu dijalani,
Ada kisah yang terukir,
Kisah tentang asa,
Kisah tentang pencapaian,
Kisah yang menghadirkan tawa,
Kisah yang menghadirkan tangis sedih, haru dan bahagia.
Semua kisah itu bercampur menjadi sebuah cerita hidup
yang akan dikisahkan pada generasi ke generasi.

Kisah itu membentuk sebuah riwayat yang harus terus dituturkan.

HARAPAN SEORANG ANAK NEGERI

Awan…
Aku ingin bercerita,
Menceritakan rangkaian kata yang tersimpan dalam hati.
Pepohonan…
Ceritakanlah ini pada mereka yang melintasimu,
yang berteduh di bawah rindang dedaunanmu.
Dan kamu sungai…
Teruslah mengalir agar kisah ini dapat sampai ke sana…
Ke lautan dan terus menjadi cerita dunia.
Tapi…
Apakah kalian sanggup mendengar?
Apakah kalian dapat bercerita?
Dan… Apakah kalian sanggup mengantarkan untaian kalimat ini?
Aku butuh seseorang…
Seorang rendah hati yang mau mendengarku…
Seorang berhati tulus yang mau menceritakan kisah ini…
Seorang yang rela berkorban untuk menyalurkan kalimat-kalimat ini, untaian kerinduan ini.
Kata hati ini bukan tentang kisah cinta orang muda…
Kata hati ini bukan tentang ratap tangis seorang yang sedang patah hati,
Kata hati ini tentang harapan seorang anak negri.
Ini… Tentang cinta seorang anak muda untuk tanah kelahirannya.
Aku mencintai negri ini,
Seperti akar mencintai tanah, tak ingin terpisahkan.
Aku mengharapkan yang terbaik yang terbaik nagi negri ini,
Seperti harapan hati seorang bunda.
Dan aku… Ingin dunia tahu kalau aku mencintai tanah ini.
Seseorang itu, dia yang kupercaya…
Dia sosok yang kupilih…
Aku ingin dia tahu ini harapanku…
Aku ingin dia tahu aku ingin negeriku tetap menjadi negeri yang tentram, negeri yang makmur, negeri yang adil dan negeri yang memancarkan kasih.
Aku ingin dia tahu,
Ini harapan seorang anak negri.



Kota Kita, 18 Agustus 2014
dibacakan saat pelantikan anggota DPRD II kab. TTS

cinta itu...

cinta itu sebuah misteri,
cinta tak pernah diundang,
datangnya cinta tanpa sebuah rencana,
tapi cinta tak pernah salah memilih.
cinta juga tak pernah gagal,
cinta selalu mampu saling mempertahankan dalam keadaan apapun.
cinta selalu menjadi kekuatan dan anugerah bagi dua hati yang saling mencintai.

cinta adalah anugerah

cinta adalah anugerah,
anugerah adalah sesuatu yang harus dijaga.
cinta itu persahabatan,
persahabatan sejati adalah persahabatan yang tak dapat dinilai dengan uang,
dan digantikan oleh apapun di dunia ini.
dan...
itulah cinta...
cinta hadir karena kebersamaan,
cinta hadir bukan karena ketiadaan,
karena cinta selalu ada.
cinta adalah perjuangan,
memperjuangkan sebuah hati yang dicintai.
cinta adalah cinta,
kemanapun cinta pergi,
cinta akan tetap kembali ke hati
karena cinta adalah anuerah dalam keabadian.



SoE, 09 Agustus 2014
(dibacakan saat Ne' dan Anri melangkahkan kaki menuju altar untuk diberkati sebagai sepasang suami istri.)

Rabu, 06 Agustus 2014

Hasrat hati

Ada kegelisahan tentang sesuatu yang tak terlihat
Ada keinginan yang kuat untuk sesuatu yang tak beralasan.
Keinginan untuk menjelajahi setiap jengkal bumi,
Keinginan untuk membuktikan bulatnya bumi ini.
Semua seperti kerinduan seorang lelaki kepada gadis yang dicintainya,
Tak mampu dibendung hingga menggerogoti setiap mimpi di setiap malamnya.
Tak ingin terus memeluk lutut,
Di sini,
Di kota kecil yang berhawa dingin ini.
Tak ingin lagi bercerita pada nasib tentang kerinduan ini.
Hanya ingin melihat dunia di luar sana,
Hanya ingin merasakan hawa lain di luar sana,
Hanya ingin menceritakan pada dunia tentang sebuah petualangan
dan bukan sebuah kerinduan


Minggu, 03 Agustus 2014

Takdir yang mendewasakan

Aku benci kepada takdir yang membiarkan kisah ini dimulai
Namun aku mencintai kisah ini karena kisah ini telah menelan kekanakanku hingga menyisakan sebuah kedewasaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

Kamis, 31 Juli 2014

Opa Filemon dan Oma Helena

Sudah kira-kira satu tahun ini saya mempunyai satu kebiasan yang selalu saya tunggu-tunggu setiap minggu setelah kebaktian 1 di gereja kami.
Kebiasaan itu adalah kebiasaan yang biasa-biasa saja dan tidak wahhhh... kebiasaan itu adalah menunggu 2 orang, sepasang suami istri yang sudah tua untuk memberikan mereka 2 lembar liturgi kebaktian karena mata mereka sudah tak secerah matahari karena termakan usia mereka yang semakin senja.
Kebiasaan ini adalah kebiasaan yang selalu saya tunggu-tunggu. Menjadi sebuah kebahagiaan tersendiri ketika melihat dua orang tua ini berjalan perlahan menuju bangku terdepan di bagian kiri, tempat favorit mereka.
Ada beberapa kali ketika saya tidak melihat mereka mengikuti kebaktian di gereja kami, dan pada minggu sesudahnya ketika melihat mereka selalu saya tanyakan "oma deng opa minggu lalu gereja di mana?" Dengan senyum yang manis oma akan menjawab "oma dong gereja di Efata".
Ada juga beberap kali saat saya tidak mengikuti kebaktian di gereja kami, pada minggu berikutnya saat bertemu mereka, oma akan bertanya "nona minggu lalu di mana? Oma sonde lia"
Saya sangat bersyukur dengan kebiasaan ini.
Pada hari ini saya juga sangat bersyukur karena diundang untuk menghadiri syukuran HUT pernikahan mereka yang ke 50 tahun. Saya tak dapat menahan air mata saya ketika melihat dua orang tua ini berjalan perlahan menuruni tangga rumah mereka, bergandengan tangan dan dituntun oleh anak cucu mereka serta iringan tarian cucu mereka menuju pelaminan yang disediakan.
Tak sampai di situ, setelah ibadah syukur kedua orang tua ini yang telah berusia 75 dan 70 tahun ini menyuapi anak- mereka kue ulang tahun yang telah disiapkan. Setelah menyuapi anak-anak mereka, kedua orang tua ini saling menyuapi sepotong kue dan diakhiri dengan saling memberikan pelukan hangat.
Anak-anak mereka pun ternyata telah menyiapkan hadiah dua buag arloji yang indah dan terlihat mewah untuk kedua orang tua ini.
Saya sungguh terharu dengan semua ini, bukan cuma saya tapi semua undangan terlihat mencucurkan air mata haru mereka.
Saya hampir melupakan satu moment yang juga luar biasa, kedua orang tua ini yang sudah pernah memimpin  polanes di 500an pernikahan ini ternyata masih ingin polanes di ulang tahun pernikahan mereka yang ke 50 ini. Polanes yang diiringi tepuk tangan semua undangan.
Hari ini saya mengalami suatu kejadian yang sungguh luar biasa dari dua orang yang selalu saya tunggu di setiap hari minggu setelah kebaktian 1.

Soe, 31 Juli 2014

Senin, 28 Juli 2014

Sepucuk surat buat Sahabat

Sahabat,
Aku ingin bercerita,
Aku ingin kamu tahu sebuah kisah yang kurahasiakan.
Ini bukan tentang seseorang,
Ini tentang sebuah rasa,
Rasa yang membuat mataku berbinar dan senyumku bermekaran.
Aku ingin kamu tahu,
Karena aku tahu hanya kamu yang ingin tahu dan dapat memahaminya.
Sahabat,
Rasa ini rasa yang indah namun terlarang.
Haruskan aku mempertahankannya?
Atau kubiarkan saja tetap ada di sana? Di sudut hati dan tetap menjadi rahasia kita?
Aku tak ingin menamai rasa ini,
Biarkan saja dia disebut tanpa nama,
Biar dia tetap disebut "antara ada dan tiada".
Tapi satu yang pasti aku mencintai rasa ini.


280714, Kota Kita

Kamis, 17 Juli 2014

Aku, Mereka dan Dia

Aku mencintai laut,
Karena sejauh apapun ombak berkejaran akan selalu kembali ke pantai.
Aku mencintai laut,
Karena di sana aku dapat melihat pertemuan antara langit dan laut yang membentuk garis tanpa pembatas.
Aku juga mencintai bintang,
Karena sekelam apapun malam dia selalu setia berada di sana.
Aku mencintai bintang,
Karena meskipun kecil
tapi selalu memberi warna pada pekatnya malam.
Aku...
Aku ingin berada di sana,
Di pantai,
Mendengarkan ombak bercerita tentang kesetiaan,
Sambil menatap bintang melakonkan kisah tentang masa depan,
Bersama 'dia' yang aku cinta dan mencintaiku.

Rabu, 02 Juli 2014

Mari telusuri dan kisahkan kembali

Meneliti jejak kenangan,
Menelusuri setiap tuturan sejarah.
Mendengar,
Menuliskan kembali setiap kisah yang sempat terlewatkan.
Ini bukan tentang mereka,
Ini tentang kita.
Kita yang mereka sebut 'orang Dawan'
Tapi kita lebih mencintai sebutan 'atoni pah meto'.
Ini kisah kita,
Kisah yang harus kita jaga untuk generasi kita.

Soe, 2 Juli 2014

Minggu, 29 Juni 2014

Kepingan hati ini

Kepingan hati yang seolah enggan untuk dihampiri
seolah mengunci diri dalam jeruji ego
Kini terbuka,
Kini tak terhalangi.
Semua kenangan terpampang laksana sebuah layar lebar
Yang mengkisahkan cerita dua insan.
Membiarkan kenangan itu kembali menari,
Mengungkap lagi sebuah kisah terpendam.
Dulu pernah ada janji
Tentang sebuah asa
Yang kini diingkari
Dulu pernah ada penantian
Yang kini harus diakhiri.
Semua kenangan dibiarkan terpampang di situ,
Di sudut hati yang telah lelah mencinta,
Kemudian dibiarkan lenyap bersama hembusan angin di kota ini.

Sabtu, 28 Juni 2014

Dingin ini

Dingin ini menusuk hingga kedalaman hati yang kelam
Akhir Juni menjadi saksi perpisahan hati.
Semua menjadi dingin, bergetar
Meninggalkan gertakan kecil di dalam rongga mulut,
Gertakan menahan dingin
Sekaligus sakit yang mendalam.

Soe, akhir Juni 2014

Rabu, 04 Juni 2014

Cinta vs Harga diri

Apakah harga diri harus mengalahkan cinta?
Cinta yang diperjuangkan menjadi samar karena sesuatu yang disebut harga diri.
Sejahat itukah harga diri itu sehingga berani mengorbankan cinta?
Atau sesederhana itukah cinta hingga tak sanggup bersaing dengan harga diri?

Minggu, 01 Juni 2014

Rindu

Membiarkan rindu itu menggantung...
Mengikuti irama alam di sekelilingnya.
Rindu yang menyesakkan dada
Namun memberi getar cinta yang kuat.
Aku mencintai saat-saat rindu itu hadir
Karena di sana aku berusaha menemukanmu dalam kenangan.

Jumat, 30 Mei 2014

Taman hati

Bunga kembali bermekaran di taman hati,
Kembali memberi warna dalam kesenduan.
Membiarkan aromanya menjelajahi indra penciuman,
Menghirup asa yang baru dalam taman hati yang pernah gersang.

Selasa, 20 Mei 2014

Dulu dan sekarang

Ketika itu aku masih sangat kecil dan sungguh tak tahu apa-apa selain belajar dan bermain. Saat itu yang aku tahu semua di dunia ini sangat baik-baik saja tanpa sebuah atau bahkan beribu masalah. Aku merasa hidup ini adil karena dibesarkan dalam keluarga yang selalu bersikap adil terhadap kami anak-anak.
Ketika aku mulai beranjak dewasa dan berani menatap keluar zona nyamanku,
Aku mulai sedikit terganggu.
Tempat di mana seharusnya ada keadilan ternyata ketidakadilanlah yang berlaku walau dikemas menjadi begitu sederhana sehingga hampir tak terlihat.
Tempat di mana seharusnya ada kasih yang tulus...
Ternyata di sana ketidakpedulian dengan bebas terbahak dengan alasan "ini sudah seharusnya! Kita butuh yang profesional! Semua sudah terlanjur!"
Kalau di sana saja seperti itu, bagaimana dengan tempat yang lain? Apakah hukum rimba harus berlaku di dunia yang semakin modern ini?

Kamis, 08 Mei 2014

Kisah Klasik

Terpaku menatap malam
Menertawakan kegelapan yang berusaha menyembunyikan kerlipan bintang.
Lidah menjadi kelu
Terdiam kaku tak berucap.
Jemari kembali menari
Menuliskan untaian kata
Mengalirkan aliran kalimat menuruni otak melabuhkan diri pada papirus membentuk sebuah manuscrip tentang sebuah kisah klasik.
Kisah tentang hati yang bercerita pada otak,
Kisah tentang logika yang berusaha memahami hati.

Minggu, 04 Mei 2014

Ekses

Berusaha tetap tegar di atas kaki yang mulai goyah
Berusaha tetap menjalani semua walau tanpa cinta.
Bukan karena ingin
Tapi karena harus.
Di sini...
Sebenarnya cinta itu terpancar
Bukan malah kebencian yang terus menertawai.
Di sini...
Harus ada tawa dalam kasih
Bukan senyum dalam kemunafikan.
Ketika ketidaknyamanan menguasai,
Ketika keinginan untuk mengakhiri memenuhi hati.
Ini bukan inginku...
Ini hanya hasil dari keadaan.
Keadaan yang tak diharapkan tapi terjadi

Jumat, 02 Mei 2014

Rindu

Merindukanmu bagai malam merindukan pagi.
Terus memohon pada bintang agar cepat memudar dan membiarkan kehangatan matahari kembali merangkul.
Kenangan sungguh tak sanggup menenangkan,
doapun seakan tak cukup memberi jawaban.
Hanya pertemuan kembali yang mampu memberi keteduhan hati

Jumat, 25 April 2014

Cintaku

Menelusuri jejak kenangan
Bertanya pada dewa cinta
Adakah yang salah dengan cintaku?
Cinta yang hadir tanpa banyak kata,
Cinta yang menari indah meski terkadang kelam.
Cinta yang tak butuh alasan,
Hanya keyakinan akan sebuah anugerah.

Kamis, 24 April 2014

Bintang jatuh

Hai kamu bintang jatuh
Bisakah kau kabulkan permintaanku?
Aku tak butuh uang
Aku tak butuh kekayaan
Aku hanya butuh cinta.
Cinta yang mendewasakan,
Cinta yang memberiku kekuatan untuk menjangkau dunia
Cinta yang tak bersembunyi di balik tembok keegoisan.
Bintang jatuh,
Bisa jugakah aku meminta
agar kau jaga sepotong hati di sana
Di sisi lain bumi ini.
Bisakah kau sampaikan padanya
Betapa kerinduan ini menyiksaku
Seperti sayatan pisau
Tapi mendebarkan memberi bias bahagia.
Bintang jatuh....
Bisakah kamu?

Cinta itu

Ada banyak kisah cinta yang tak dapat dipahami dengan logika. Kadang ada yang bertanya "mengapa laki-laki sehebat dia mamacari seorang perempuan biasa-biasa seperti itu?" Atau ada juga yang berkata "dia seorang perempuan yang pintar dan luar biasa mengapa mau menikahi seorang laki-laki yang biasa-biasa seperti itu?"
Itulah cinta. Selalu memilih orang yang tepat tanpa melihat kekurangan dan kelebihan karena hati itu dipilih bukan memilih.
Hanya orang-orang yang memahami cinta yang dapat mendeskripsikan cinta dengan tepat jika tidak cinta akan selalu disamakan dengan semua yang fana, padahal cinta itu abadi.
Cinta tidak pernah memilih di mana letaknya ia berlabuh, tapi cinta selalu berlabuh di tempat yang benar.
Cinta hanya perlu apresiasikan dan dipercayai kekuatannya.

Selasa, 22 April 2014

Dia

Berdoa di dalam diam
Menyebut sebuah nama tanpa sebuah rasa
Ini bukan tentang rasa
Tapi tentang asa
Ini hanya sebuah harapan akan sebuah perubahan untuk seorang pengelana dalam kesimpangsiurannya.
Ini juga hanya tentang kepedulian seorang lain
Yang memutuskan untuk menjadi bagian dari pengelana
Bersama menelusuri ketidakpastian
Dengan harapan menemukan tempat yang tepat.
Ini tentang seorang lain
Bukan ibu ataupun ayahnya
Yang merasa bertanghungjawab atas hidup sang pengelana.
Ini tentang seorang yang bukan saudara
Tapi ingin memahami dan mengasihinya.
Bertahan dalam merangkap figur
Hajya untuk sebuah pencapaian akan jati diri
Berusaha memahami
Hanya untuk menolong.
Berusaha tanpa mengenal lelah
Hanya untuk menghapus luka batinnya.
Tapi siapakah dia?
Dia hanya manusia biasa...
Dia bukan keluarganya...
Dia bukan orang yang melahirkannya...
Dia hanya seorang lain yang peduli.
Dia bukan malaikat tapi dia hanya ingin menolong sang pengelana.

Sang pencinta

Dalam hingar bingar dunia
Terselib sepotong hati yang sendiri
Tetap tertawa...
Tetap tersenyum...
Tetap bingar bersama dunianya
Namun juga tetap sendu dalam hatinya
Dia,
Seorang pencinta yang memilih tetap mencinta di dalam diam
Di dalam daerah abu-abu.
Dia,
Seorang pencinta yang akan terus mencinta dalam apa adanya dia

Minggu, 20 April 2014

Salah siapakah ini?

Bagi sebagian orang hidup yang baik itu adalah kehidupan jasmani yang tercukupi hingga melupakan kehidupan rohani. "Yang penting dia bisa makan" tanpa ingin tahu dari mana makanan itu berasal. "Yang penting dia bisa tidur" tanpa memikirkan dosa apa yang dilakukan saat tidur.

Menganggap remeh apa yang disebut "dosa" hanya karena ingin hidup baik. Menganggap biasa "dosa" itu hanya karena ingin dipuaskan nafsu sesaat.

Awalnya mungkin hanya karena merasa "butuh perhatian" atau mungkin hanya sebatas "pelarian" dari keadaan sekeliling. Tapi apakah itu sebuah alasan yang tepat?

Jika memang itu karena "butuh perhatian" masih ada sahabat-sahabat di sana yang akan memberi sebuah perhatian yang baik dan tulus.
Jika memang itu juga karena "pelarian" ada banyak hal lain yang baik yang dapat dijadikan pelarian.

Dan untuk sebagian orang yang merasa diri lebih baik menganggap takkan pernah ada sebuah masa depan yang baik bagi seorang "pendosa" dia akan tetap dalam kungkungan dosanya. Atau mungkin ada juga yang tak peduli akan dosanya karena merasa najis membicarakannya.

Kapan akan ada perubahan yang berarti ketika yang satu merasa sudah tak pantas untuk berubah dan yanga lain merasa jijik untuk mengasihinya?

Sabtu, 19 April 2014

Aku

Aku tak butuh bingar,
Aku butuh keheningan.
Aku tak ingin berpikir,
Aku hanya ingin berefleksi.
Aku tak mau sendiri,
Tapi aku mau kesunyian.

Rabu, 16 April 2014

Jika

Jika rindu itu hadir
Jangan kau ingkari jalannya
Biarkan saja ia mengalir seperti terjunan air,
Biarkan dia menemukan sendiri tempatnya berlabuh.

Bukti kasih Allah

Matahari bersembunyi di balik awan.
Seakan turut berduka melihat tetesan darah dari serangkaian duri membentuk mahkota.
Duka nestapa menyelubungi bumi
Sunyi...
Berduka...
Terdiam mendengar hembusan nafas terakhir sang penebus.
Tangis memecah sukma
Bersama gelapnya alam tanda duka.
Eli... Eli lama sabah tani...
Allahku... Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?
Kesendirian...
Keterpisahan dengan Allah...
Lukanya menyatukan
Darahnya mempererat...
Hembusan nafas terakhirnya membuka awal baru.
Kasihnya mengampuni...
Merangkak menuju salibMu...
Membiarkan keberdosaan ini disucikan darah kudusMu...
Menyentuh kaki salibMu
Membebaskan kalbu yg suram.

Minggu, 13 April 2014

Bercerita dengan Tuhan

Pagi ini aku bercerita dengan Tuhan. Sepertinya sudah sangat lama tak pernah seperti ini. Aku terlalu sibuk dengan kehidupanku, terlalu sibuk dengan apa yang aku sendiri tak mengerti apa itu tapi terus aku jalani karena itu yang harus kujalani.
Pagi ini aku berkata pada Tuhan
"Tuhan... aku merasa begitu jauh dariMu"
Tuhan menjawab aku
"Aku tidak pernah kemana-mana, Aku di sini setia manatapmu dan menunggu kapan kamu mau menatapKu juga"
Aku kembali berkata
"Aku menatapMu Bapa"
Tuhan menjawab
"Tatapanmu kosong... tak bermakna"
Aku tertegun
Tuhan kembali berkata
"Doa-doamu pun terdengar biasa... kamu seolah tak berdaya. Aku menunggu kapan kamu akan bercerita tapi kamu terlihat begitu sibuk"
Aku mulai menangis. Aku sadar sudah sangat lama keadaan ini berlangsung. Aku benar-benar merasa sendiri, merasa tersesat tapi tak memutuskan untuk bercerita pada Tuhan, aku lebih memilih menggunakan kemampuanku saja.
Akhirnya hari ini, aku kembali bercerita dengan Tuhan...

Sabtu, 12 April 2014

Kerinduan ini

Seperti seorang misafir yang tersesat
Terus melangkahkan kaki tanpa arah
Berharap penuh pada kekuatan alam
Untuk menemukan jalan
Seperti seorang pendosa
Yang menangis memohon ampunan sang Pencipta
Terus menangis
Mengharapkan kelegaan
Seperti di padang gurun
Kering...
Gersang...
Sendiri...
Terus melangkah mencari pelepas dahaga.
Seperti seorang anak
Merindukan pelukan hangat
Memberi arti cinta dengan cara sederhana.
Seperti....
Seperti...
Dan seperti...
Seperti itu kerinduan ini.

Jumat, 11 April 2014

Hujan... Menangislah untukku

Hujan...
Menangislah untukku
biar dunia tahu seberapa besar dan lama luka ini menganga.
Biar dunia tahu seberapa sendu hati ini menangis tanpa air mata.
Hujan...
Menangislah untukku
Agar tetesan airmu mampu menghapus duka ini.
Agar senyum ini dapat kembali bersinar di balik pelangi kerinduan.

Angin malam

Angin malam....
Dingin....
Menusuk...
Menggetarkan...
Tapi aku cinta angin malam...
Di sini...
Di tengah terpaan angin malam ini
Aku...
Dapat sendiri
Dan...
Berduaan dengan kerinduan ini

Sabtu, 05 April 2014

Beranikah kita?

Seminggu yang lalu saya dan keluarga piknik ke pantai Oetune salah satu pantai di selatan TTS. Setiba di sana saya langsung berfoto ria, membaca puisi dan juga bersepak bola bersama anak-anak penduduk asli.
Di tengah kesibukan saya bermain bola sudut mata saya menangkap bayangan sesosok tubuh yang menurut saya sedikit aneh jika berada di pantai. Sosok itu menggunakan sepatu bot, jaket tebal, syal, dan sebuah topi ninja. Secara spontan saya melihat jari-jarinya apakah dia juga menggunakan sarung tangan?
Saya sempat berpikir apakah dia sakit? Tapi dari caranya berjalan dan tertawa, dari raut wajah dan gerak geriknya dia terlihat sangat baik-baik saja. Maka saya pun berkesimpulan bahwa dia tidak siap menerima resiko terkena sengatan matahari di pantai ini.
Kadang-kadang itu juga yang kita alamai dalam hidup. Kadang kiya tidak siap menerima resiko-resiko dari apa yang harus kita jalani akhirnya kita menjalani semuanya dengan perlindungan diri yang berlebihan dan bahkan menutup diri kita dari keadaan yang ada walaupun kita berada di dalamnya.
Akhirnya kita menjadi terlihat berbeda.
-jika berani ke pantai maka harus berani terbakar mata hari. Jika berani bermain air maka harus berani basah.

Senin, 31 Maret 2014

Bintang

Di bawah langit malam ini
Ada rindu yang tak tertahankan
Rindu yang menyesakkan dada namun memberi getar cinta
Menelusuri jejeran bintang mencari seraut wajah dalam rasi bintang yang bertebaran.
Berharap ada penawar  rindu di balik kerlipan bintang.

Minggu, 30 Maret 2014

Puisi untukmu

Ku puisikan dirimu di tepi pantai ini
Berharap deru ombak sejenak membisu agar angin dapat mengantarkan puisi ini padamu.
Ingin juga ku katakan pada awan agar bersedia menjadi kertas di mana puisi ini dapat kutuliskan...
Berharap dapat terbaca olehmu di sana di sisi lain bumi ini.

Oetune, 30 Maret 2014

Selasa, 18 Maret 2014

Peperangan dalam sunyinya kabut

Seperti kabut yang membatasi pandangan mata,
semua terlihat samar.
Hujan seakan mengerti dan terus menangis
untuk sebuah alasan tak terucapkan.
Ini bukan tentang emosi atau juga logika
tapi tentang ruang di antara emosi dan logika.
Perang dingin antara hati dan otak
pertempuran sunyi dalam sesosok tubuh...

Pencarian kita

Menelusuri hati dan bertanya pada jiwa...
Berusaha mengoyak zona aman ini
dan mencari sesuatu yang terasa hilang.
Menerobos sukma menggapai logika dengan berjuta pertanyaan.
Sebuah kombinasi yang sempurna bagi jiwa yang melanglang buana.
Pencampuran asa yang menyatu menciptakan bias-bias cahaya kerinduan.

Rabu, 29 Januari 2014

Dia, ayah beranak banyak

Saya mengenal dia sejak saya betumbuh menjadi kanak-kanak yang suka bermain di belakang rumahnya. Tapi dia mengenal saya sejak saya lahir. Sejak kecil yang saya tahu tentang dirinya adalah, dia seorang suami, dan seorang ayah beranak banyak karena memang ada begitu banyak anak yang tinggal di rumahnya dan memanggilnya “bapa”.
             Seiring berjalannya waktu saya semakin dewasa, saya mulai memanggilnya juga dengan sebutan “bapa”. Dia orang yang tenang, humoris dan apa adanya. Saya seriNg diganggunya dengan guyonan-guyonan lucu. Saya sering dipanggilnya  ‘saya punya anak’.
Suatu ketika, di saat saya telah menyelesaikan pendidikan saya di Fakultas Teologi UKAW Kupang, jika dia kebetulan bertandang ke rumah saya maka dia akan selalu berkata “saya harus hubungi orang Sinode untuk siap mimbar khusus buat saya punya anak satu ini” memang terdengar lucu karena memang tinggi  saya harus saya akui hanya 1, 50m (hahahaha... malu...). Lama kelamaan saya mulai menimati candaan itu.
Setiap hari jika saya melewati rumahnya selalu saya ganggu dia. Jika saya menyapanya dengan mengatakan “syalom Ba’i” dan dia tidak menajwab maka saya akan berteriak sekencang-kencangnya dan mengatakan “Ba’i beta ada syalom....”  hal ini terjadi hampir setiap hari dalam setahun terakhir ini karena jalan yang harus saya tempuh untuk ke gereja tempat saya melayani harus melewati samping rumahnya.
Kemarin, ketika saya hendak ke rumah teman saya yang berada di Oekamusa, saya  terkejut melihat keramaian yang ada di depan rumahnya. Ternyata dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Saya sempat takut tapi saya berusaha berpikir positif dan melanjutkan perjalanan ke rumah teman saya setelah dia dibawa ke rumah sakit umum.
Apa yang tak pernah saya takutkan tadi ternyata menjadi kenyataan. Saat saya pulang dari rumah teman saya, ada banyak orang di depan rumahnya, di jalan tempat dia mengalami kecelakaan ternyata dibakar beberapa lilin. Oh my God!!! Apakah benar??? Dia meninggal dunia???
Dia yang aku kenal seorang ayah beranak banyak, ternyata telah tiada. Dia yang ternyata adalah seorang ayah tak beranak kandung. Semua anak yang saya tahu adalah anaknya adalah anak-anak angkatnya yang dia bimbing, dia bina, dia kasihi dan dia biayai hingga menjadi orang-orang hebat di kota ini. Tak ada satupun di antara anak-anaknya yang tak menjadi seorang sarjana.  Mereka berjumlah 64 orang menangisi  jenasahnya. Istri terkasihnya yang juga adalah seorang wanita tenang yang luar biasa terlihat pingsan berulang kali tak menahan kesedihan hatinya.
Dia orang berhati mulia yang akan selalu ku kenang.

Special buat Ba’i Letuna

Sabtu, 11 Januari 2014

Hasil Karya luar biasa milik anak Mollo Utara #Kanukuleon

Akhirnya di tengah kesibukan saya, saya dapat menyelesaikan sebuah bacaan luar biasa #kanukuleon yg seharusnya sudah saya selesaikan beberapa minggu yg lalu. Sebenarnya saya dapat membaca buku ini di sela-sela kesibukan saya, tapi saya merasa tidaklah pantas buku tersebut saya baca dengan terburu-buru. Akhirnya setelah membaca 3 cerpen pertama saya putuskan untuk berhenti sejenak dan akan melanjutkan saat semua kesibukan saya berakhir.
Pada awalnya saya merasa melihat seorang berbeda yang berasal dari tempat lain. Cerpen "Sakura dan Fujikawaguchiko"  dikisahkan dengan latar belakang Jepang yang dikisahkan dengan begitu baik membuat saya merasa seperti benar-benar berada di sana... Cerpen "Menghapus Ilona" dengan latar belakang Jogja juga dikisahkan dengan detail-detail yang memberi kesan nyata. Saya benar-benar larut dalam kedua cerpen tesebut walau masih merasa asing.
Namun, semakin menelusuri bacaan ini saya semakin menemukan figur seorang anak asli TTS... anak yang lahir dan bertumbuh di kecamatan Mollo Utara. Cerpen-cerpen luar biasa yang benar-benar menunjukkan kekhasan budaya TTS, cerpen-cerpen yang indah dan unik.
Hanya satu kalimat yang mampu saya katakan"#Kanukuleon adalah karya anak bangsa... karya anak TTS yang sungguh luar biasa"