Jumat, 18 Desember 2015

Kami dan jarak yang ternyata tak jahat

Ombak terus berkejaran menggapai pantai
Dua anak kecil terlihat asyik mempermainkan jemari mereka
Dia atas gundukan pasir karya mereka
Mungkin ingin membuat istana
Namun tak mirip istana.
Mungkin juga ingin membentuk gunung,
Gunung yang miring seperti menara pizza.
Dan aku di sini,
Di samping seorang lelaki
Kami sama- sama terdiam.
Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tak ada satu katapun terucap,
Selain mata yang memandang lurus ke depan
Seolah menghitung berapa baris ombak yang sementara berkejaran itu.
Dia lelakiku
Lelaki yang telah menemaniku lebih dari 1000 hari.
Kami sama-sama terdiam
Kami hanya ingin memastika bahwa jarak itu telah mampu kami hapus,
hari ini, di sini dan saat ini kami benar- benar duduk berdampingan tanpa ada jarak yang berarti kerinduan.
Teriakan orang-orang di sekeliling kami, entah teriakan apa itu,
Mampu mengalihkan perhatian kami
Dan kami pun kembali tersadar,
Saat ini, kami berdua sedang duduk bersama.
Ternyata jarak itu tak jahat,
Dia hanya memberi kami waktu untuk benar-benar menghargai setiap kebersamaan kami.
Kebersamaan yang masih harus kamo cicil sedikit demi sedikit
Demi sebuah kebersamaan hingga akhir hayat.

Rabu, 16 Desember 2015

Selamat ulang tahun Tuhan Yesus

Tuhan Yesus...
Selamat ulang tahun ya..
Maaf, saya tidak punya hadiah yang indah,
Saya hanya ada suka cita di hati,
Saya juga tidak bisa bertemu Tuhan Yesus,
Tapi saya bisa berdoa.
Terima kasih Tuhan Yesus karena sudah lahir untuk kami. Jadikan hidup saya seperti lilin yang terus menyala menyinari kegelapan. Amin

Puisi natal utk anak PAUD

Senin, 14 Desember 2015

Belajar saja dari waktu

Di suatu senja ada seseorang bertanya kepadaku:
Mengapa hidup ini harus dibagi dalam rentetan waktu yang mengharuskan kita untuk memiliki masa lalu?

Saya pun menjawab:
Karena dari waktu kita belajar untuk menghargai apapun yang sedang kita miliki saat ini. Mungkin saja detik berikutnya bukan lagi milik kita.

Dia kembali bertanya:
Lantas mengapa Tuhan membiatkan kita melakukan kesalahan di masa lalu?

Saya pun menjawab:
Agar kita belajar menjadi lebih baik di masa sekarang dan akan datang.

Kembali lagi dia bertanya:
Tapi mengapa ketika kita telah belajar dari masa lalu dan telah melupakan semuanya masih ada orang yang tak mampu menerima keadaan kita dan menjadikannya sebagai alasan?

Saya pun menjawab:
Karena dia bukanlah orang beruntung yang berhak memiliki seseorang sepertimu yang telah belajar banyak hal dari masa lalumu, yang telah bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sekali lagi dia bertanya:
Lantas apa yang harus saya lakukan?

Saya menjawab:
Bersyukurlah karena sekali lagi hidup mengajarkan padamu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jadikanlaj dia masa lalumu yang telah memberi pelajaran berharga, dan mulailah melangkah ke depan. Di depan sana akan ada seseorang yang memang pantas memilikimu karena keberadaanmu bukan karena masa lalumu.

Dan akhirnya dia berkata: aku bersyukur buat setiap kisah yang tergores di masa lalu. Karena telah mempersiapkanku menjadi pribadi yang lebih baik.

Rindu yang aku rindukan

Ada kerinduan yang memuncak di gerbang hati,
Rindu pada sosok yang memberi goresan rindu.
Kadang aku benci pada waktu yang seolah lambat bergerak ketika dilihatnya di sini ada rindu.
Kadang aku juga ingin protes pada ruang,
Mengapa ada jarak yang menjadi pembatas?
Apakah ruang dan waktu punya telinga?
Jika YA,
Ingin ku teriakkan rindu ini agar mereka mendengarnya.
Apakah ruang dan waktu punya hati?
Jika YA,
Ingin ku memohon agar mereka dapat luluh melihat kerinduan ini.
Hahahha.. ini hanya tentang rindu yang ternyata aku rindukan.

Minggu, 13 Desember 2015

Cinta itu buta?

Terlalu berani untuk melangkah,
Terlalu tergesa untuk sebuah keputusan.
Mengejar ketulusan di dunia yang semakin berantakan atas nama kebenaran,
Membutuhkan sebuah pengakuan atas nama cinta.
Salahkah ketika cinta itu ada?
Dan salahkan jika cinta itu butuh sebuah pengakuan?
Terlalu naif ketika cinta terus menoleh pada goresan masa lalu,
Terlalu tak adil ketika ketulusan harus didasarkan atas sepotong cerita yang telah lama dilupakan.
Mungkin benar cinta itu buta,
Karena hanya orang buta yang bisa mengikuti atus cinta tanpa harus menoleh ke belakang.
Mungkin juga karena orang buta sanggup menyamakan rasa di hati dan pikiran di otak nya untuk mencapai tujuannya.
Dan... karena orang buta percaya bahwa cinta takkan menyesatkannya.

Rabu, 09 Desember 2015

Sore ini di 09 Desember 2015

Sore ini setelah hujan mulai reda, saya yang sejak tadi berada di dalam kamar memutuskan untuk pergi ke gereja untuk menunggu anak-anak sekolah minggu yang akan berlatih tari dan prosesi pembakaran lilin. Dengan perlahan saya membuka pintu kayu yang hanya ditahan dengan sebuah bangku dari dalam gedung. Setelah itu saya memutuskan duduk di sebuah kursi plastik yang mengjadap ke arah depan gereja, sambil menatap beberapa anak laki-laki yang sedang berkejaran di halaman gereja. Dalam keadaan santai ini saya mulai merenung. tak terasa hari ini genap 1 tahun saya berada di pulau sumba, setahun yang lalu saya memutuskan untuk melayani di sini dan seperti saat hari ini 09 Desember saya menginjakkan kaki saya pertama kalinya di pulau ini.
1 tahun di sini telah mengajarkan saya banyak hal. Jauh dari sanak saudara, jauh dari sahabat dan jauh dari semua yang selama ini menjadi zona nyaman saya. Di sini saya harus belajar mandiri, karena meskipun sudah pernah tinggal sendiri saat kuliah dulu tapi tentu saja berbeda karena saat itu meskipun tinggal seorang diri tapi saya masih dikelilingi keluarga dan juga untuk pulang ke rumah hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 2 jam dan dengan biaya tak lebih dari Rp. 50.000,-  sedangkan di sini sudah pasti berbeda pulau dan untuk pulang ke rumah membutuhkan biaya dan waktu yang  tak sedikit.
Di sini saya juga harus belajar untuk mengenal orang-orang yang tak pernah saya kenal sebelumnya bahkan dalam mimpipun tak pernah sama sekali. :)
Di sini saya juga belajar tentang kerendahan hati seorang pelayan, kesetiaan seorang pelayan dan ketulusan seorang pelayan. Saya benar-benar diijinkan Tuhan untuk belajar banyak hal meskipun harus dari "sisi terbalik".
Dan saat ini, kurang lebih 3 minggu lagi saya akan pindah dari jemaat ini dan melayani lagi di tempat yang baru di wilayah GKS ini, saya tiba-tiba ingin sekali mendoakan jemaat di sini meskipun selama 1 tahun ini ribuan doa telah saya lantunkan untuk jemaat ini. Saya yakin kalau Tuhan memang sungguh tahu yang terbaik buat anak-anakNya di sini.

Minggu, 06 Desember 2015

Harga diri vs Kata hati

Ini bukan soal cinta,
Bukan juga tentang rindu,
Tapi tentang gengsi dan harga diri.
Terkadang seseorang menempatkan harga diri di atas segalanya dan akhirnya membuat sebuah dinding pemisah antara dirinya dan sekelilingnya bahkan antara hatinya dan otaknya.
Pergolakan itu terjadi terus menerus dalam tubuhnya, dalam dirinya, namun ketika logika lebih dulu keluar sebagai pemenang maka harga diri akan tetap menjadi jurang pemisah.
Mengapa dunia membentuk satu ukuran sendiri untuk sebuah harga? Apakah harga diri itu lebih mahal dari sekedar senyuman yg tulus? Atau apakah harga diri itu tak mampu dibayar dengan kasih?
Padahal, dalam tubuh yg sama hati sementara berteriak, dia ingin sekali keluar dan mengatakan bahwa yg dia rindukan bukan sebuah kemewahan tapi kasih mesra meski beralaskan keserhanaan.
Tapi ternyata, ego telah menutup telinganya, suara hati tak dapat didengar, dan...
Harga diri akan tetap menjadi pemenang dalam kesendirian di tengah keramaian.