Selasa, 27 Agustus 2013

375 Hari


375 hari… bagi sebagian orang 365 hari merupakan angka kesempurnaan, angka kegenapan. Tapi bagiku 365 hari bukanlah sesuatu yang special. Ternyata 365 hari menghasilkan kehancuran di 10 hari berikutnya.
Kita berkenalan lebih dari 375 hari hari yang lalu, perkenalan yang biasa-biasa saja. Aku masih  sangat mengingat saat itu, saat kita memuli perbincangan kita. saat itu aku meminjam gitarmu untuk kupetik.kamu terlihat  gugup ketika berbincang denganku, tapi dari situ aku mengetahui siapa namamu “Stephanie” dengan sangat pelan kamu menyebut 8 huruf satu nama milikmu. Ada rasa yang aneh ketika berdekatan denganmu, rasa yang tak mampu kuartikan. Rasa itu tak ingin pergi dari hatiku, dari hidupku. Aku berusaha memaknai rasa itu, tapi semakin aku berusaha, semakin membuatku bingung.
Ternyata awal percakapan sederhana itu menghasilkan sesuatu yang  kita sebut “persahabatan”. Persahabatan yang kita bangun di dalam diam kita. persahabatan itu menjadi terasa aneh ketika berada di dekatmu. Persahabatan itu menjadi terasa berbeda ketika menatap ke dalam matamu. Taoi dari persahabatn itu, aku menjadi sedikit tahu tentang dirimu, yang selalu terlihat diam di dalam derita batinmu… kamu adalah seseorang yang berusaha tenang di dalam ketidaknyamananmu.  Dari persahabatan itu juga, aku mengetahui bahwa ada seseorang yang kamu cintai. Aneh tapi nyata, ada rasa nyeri di dalam dada ini ketika mengetahui hal tersebut. Apakah itu rasa yang disebut “cemburu”? tapi itu tidaklah mungkin. Belum sampai 365 hari lamanya kit berkenalan, belum genap 12 purnama persahabatan kita. berusaha menguatkanmu untuk dapat tetap bertahan dalam mencintai dia yang telah dengan perlahan-lahan meninggalkanmu walau harus aku akui rasa nyeri itu sangat menyakitiku. Tapi aku sendiri tak mengerti mengapa aku ingin selalu mendukungmu dan membuatmu merasa tenang.
Sore itu, kamu terlihat berbeda dari baisanya. Kamu seolah berada di tempat yang lain meski ragamu berada di tengah-tengah kami. Ingin bertanya namun aku sangat menghargai diammu. Sore itu kita berpisah dengan beerjuta pertanyaan dalam benakku tentang keadaanmu. Semua pertanyaan itu terjawab malam itu juga dan malam itu juga aku dapat memahami perasaanku yang sebenarnya. Rasa itu juga adalah milikmu… kita sama-sama mengakui rasa itu… cinta…. Yah…. Itu cinta.
Persahabatan kita berubah menjadi cinta. Lima huruf dengan berjuta makna. Ada rasa ganjil ketika kembali bertemu denganmu sebagai kekasihmu. Sesuatu yang lebih dari seorang sahabat. Tapi di sana juga ada rasa bahagia karena kamu ternyata mampu menjadi “kekasih sekaligus sahabatku”
Masih sangat kuat dalam ingatanku, malam itu di bawah cahaya purnama dan hangatnya api unggun, purnama pertama bagi kita. di bawah purnama itu kamu mulai berani menceritakan sedikit darimasa kecilmu. Purnama yang memberi secerah cahaya bagiku untuk semakin mengenal dan memahamimu. Di bawah purnama itu juga aku menjadi tahu kalau “aku benar-benar mencintaimu”
Masih sangat kuat juga ingatanku tentang sikap manjamu… sikap yang tak kusangka sebelumnya di dalam diammu. Memanjakanmu adalah hal yang selalu membuat senyum ini merekah tanpa kusadari. Kamu menjadi bagian yang ingin selalu kulindungi… kamu adalah seseorang yang ingin selalu kutemui… kamu adalah sesuatu yang tak ingin kulepaskan….
Lima huruf penuh makna itu semakin kuat di dalam diam kita. kamu adalah milikku dan aku adalah milikmu. Kita saling mencintai di dalam apa adanya kita, meski kita tahu dan benar-benar menyadari ada banyak tantangan yang harus kita lewati di depan sana. Tapi itulah kita… tetap bersatu di dalam diam kita.
Semua kebahagiaan itu perlahan menjadi samar ketika ruang dan waktu memisahkan kita. kamu menjadi tak terjamah… kamu menjadi bagai kabut… samar… dingin… tak terjamah…. Kamu menjadi seseorang yang tak lagi kukenal. Kamu menjadi seseorang yang terasa asing bagiku. Kamu tetap menjadi kekasihku, tapi tidak lagi sahabatku.
Aku terus merindukanmu di dalam ketidaktahuanku tentang keadaanmu. Aku terus mendoakanmu tanpa tahu apa yang harus kudoakan. Kesetiaan yang tak berlandasan, namun tetap kujalani. Seolah berjalan di jalan yang aku sendiri tak tahu kemana arah tujuannya. Ada kelelahan yang amat sangat ketika menjalani semua itu, tapi cintalah yang membuat aku mampu bertahan. Dalam kelelahan itu berjuta tanyapun hadir… “apakah ada rindu untukku? Apakah cintamu masih sekuat dulu? Dan beribu pertanyaan lain seolah berlomba mengisi hati dan pikiranku.
Lebih dari 100 hari tanpa hadirmu. Bahkan alam mimpipun tak mengizinkanmu untuk kujumpai walau hanya sedetik untuk mengobati rindu ini. Berusaha menggapaimu di dalam kenangan, namun kenanganpun seakan menjadi hambar tanpa sosokmu.
365 hari… yah… hari ini genap 365 hari kebersamaan kita sebagai sepasang kekasih. Kamu kembali hadir hanya melalui sebuah pesan singkat “aku tak pernah melupakan hari ini. Happy anniversary. Always loves you” pesan singkat yang memberi sedikit rasa bahagia, namun tak mampu menghilangkan kelelahan ini. Satu kalimat yang tak mampu menjawab berjuta pertanyaan yang hadir lebih dari 100 hari itu. pesan singkat yang menjadi tak berarti di 10 hari berikutnya. Yah… 375 hari, semua menjadi tak berarti ketika pengkhianatanmu mulai tercium. Pengkhianatan yang samar namun sangat menyakitkan. Rasa sakit itu semakin menyakitiku ketika kamu tak mampu mempertahankanku. Berusaha mencari kesalahanku yang telah kuakui, berusaha mempertahankan dia yang baru mengenalmu tanpa tahu siapa dirimu.
Ingin meninggalkanmu dan membiarkanmu sendiri mengikuti apa kata hatimu, namun keraguan itu menjadi sangat menyakitiku. “Apakah dia mampu mencintaimu dengan tulus? Apakah dia benar-benar mencintaimu? Apakah kamu akan merasa bahagia bersamanya?” pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin ku jawab. Pertanyaan-pertanyaan yang inginku tepis.
375 hari… tiga angka penuh makna…. Tiga angka yang menyakitiku… 375 hari menjalin sebuah hubungan yang aku cintai seperti aku mencintaimu. satu hal yang ku ingin kau ketahui hinggah 375hari ini aku tetap mencintaimu, dan berusaha menjadi yang terbaik seperti pintamu. biarlah waktu yang akan menjawab semuanya. 375 hari….