375 hari… bagi
sebagian orang 365 hari merupakan angka kesempurnaan, angka kegenapan. Tapi
bagiku 365 hari bukanlah sesuatu yang special. Ternyata 365 hari menghasilkan
kehancuran di 10 hari berikutnya.
Kita
berkenalan lebih dari 375 hari hari yang lalu, perkenalan yang biasa-biasa
saja. Aku masih sangat mengingat saat
itu, saat kita memuli perbincangan kita. saat itu aku meminjam gitarmu untuk
kupetik.kamu terlihat gugup ketika
berbincang denganku, tapi dari situ aku mengetahui siapa namamu “Stephanie”
dengan sangat pelan kamu menyebut 8 huruf satu nama milikmu. Ada rasa yang aneh
ketika berdekatan denganmu, rasa yang tak mampu kuartikan. Rasa itu tak ingin
pergi dari hatiku, dari hidupku. Aku berusaha memaknai rasa itu, tapi semakin
aku berusaha, semakin membuatku bingung.
Ternyata awal
percakapan sederhana itu menghasilkan sesuatu yang kita sebut “persahabatan”. Persahabatan yang
kita bangun di dalam diam kita. persahabatan itu menjadi terasa aneh ketika
berada di dekatmu. Persahabatan itu menjadi terasa berbeda ketika menatap ke
dalam matamu. Taoi dari persahabatn itu, aku menjadi sedikit tahu tentang
dirimu, yang selalu terlihat diam di dalam derita batinmu… kamu adalah
seseorang yang berusaha tenang di dalam ketidaknyamananmu. Dari persahabatan itu juga, aku mengetahui
bahwa ada seseorang yang kamu cintai. Aneh tapi nyata, ada rasa nyeri di dalam
dada ini ketika mengetahui hal tersebut. Apakah itu rasa yang disebut
“cemburu”? tapi itu tidaklah mungkin. Belum sampai 365 hari lamanya kit berkenalan,
belum genap 12 purnama persahabatan kita. berusaha menguatkanmu untuk dapat
tetap bertahan dalam mencintai dia yang telah dengan perlahan-lahan
meninggalkanmu walau harus aku akui rasa nyeri itu sangat menyakitiku. Tapi aku
sendiri tak mengerti mengapa aku ingin selalu mendukungmu dan membuatmu merasa
tenang.
Sore itu, kamu
terlihat berbeda dari baisanya. Kamu seolah berada di tempat yang lain meski
ragamu berada di tengah-tengah kami. Ingin bertanya namun aku sangat menghargai
diammu. Sore itu kita berpisah dengan beerjuta pertanyaan dalam benakku tentang
keadaanmu. Semua pertanyaan itu terjawab malam itu juga dan malam itu juga aku
dapat memahami perasaanku yang sebenarnya. Rasa itu juga adalah milikmu… kita
sama-sama mengakui rasa itu… cinta…. Yah…. Itu cinta.
Persahabatan
kita berubah menjadi cinta. Lima huruf dengan berjuta makna. Ada rasa ganjil
ketika kembali bertemu denganmu sebagai kekasihmu. Sesuatu yang lebih dari
seorang sahabat. Tapi di sana juga ada rasa bahagia karena kamu ternyata mampu
menjadi “kekasih sekaligus sahabatku”
Masih sangat
kuat dalam ingatanku, malam itu di bawah cahaya purnama dan hangatnya api
unggun, purnama pertama bagi kita. di bawah purnama itu kamu mulai berani
menceritakan sedikit darimasa kecilmu. Purnama yang memberi secerah cahaya
bagiku untuk semakin mengenal dan memahamimu. Di bawah purnama itu juga aku
menjadi tahu kalau “aku benar-benar mencintaimu”
Masih sangat
kuat juga ingatanku tentang sikap manjamu… sikap yang tak kusangka sebelumnya
di dalam diammu. Memanjakanmu adalah hal yang selalu membuat senyum ini merekah
tanpa kusadari. Kamu menjadi bagian yang ingin selalu kulindungi… kamu adalah
seseorang yang ingin selalu kutemui… kamu adalah sesuatu yang tak ingin
kulepaskan….
Lima huruf
penuh makna itu semakin kuat di dalam diam kita. kamu adalah milikku dan aku
adalah milikmu. Kita saling mencintai di dalam apa adanya kita, meski kita tahu
dan benar-benar menyadari ada banyak tantangan yang harus kita lewati di depan
sana. Tapi itulah kita… tetap bersatu di dalam diam kita.
Semua
kebahagiaan itu perlahan menjadi samar ketika ruang dan waktu memisahkan kita.
kamu menjadi tak terjamah… kamu menjadi bagai kabut… samar… dingin… tak
terjamah…. Kamu menjadi seseorang yang tak lagi kukenal. Kamu menjadi seseorang
yang terasa asing bagiku. Kamu tetap menjadi kekasihku, tapi tidak lagi
sahabatku.
Aku terus
merindukanmu di dalam ketidaktahuanku tentang keadaanmu. Aku terus mendoakanmu
tanpa tahu apa yang harus kudoakan. Kesetiaan yang tak berlandasan, namun tetap
kujalani. Seolah berjalan di jalan yang aku sendiri tak tahu kemana arah
tujuannya. Ada kelelahan yang amat sangat ketika menjalani semua itu, tapi
cintalah yang membuat aku mampu bertahan. Dalam kelelahan itu berjuta tanyapun
hadir… “apakah ada rindu untukku? Apakah cintamu masih sekuat dulu? Dan beribu
pertanyaan lain seolah berlomba mengisi hati dan pikiranku.
Lebih dari 100
hari tanpa hadirmu. Bahkan alam mimpipun tak mengizinkanmu untuk kujumpai walau
hanya sedetik untuk mengobati rindu ini. Berusaha menggapaimu di dalam
kenangan, namun kenanganpun seakan menjadi hambar tanpa sosokmu.
365 hari… yah…
hari ini genap 365 hari kebersamaan kita sebagai sepasang kekasih. Kamu kembali
hadir hanya melalui sebuah pesan singkat “aku tak pernah melupakan hari ini.
Happy anniversary. Always loves you” pesan singkat yang memberi sedikit rasa
bahagia, namun tak mampu menghilangkan kelelahan ini. Satu kalimat yang tak
mampu menjawab berjuta pertanyaan yang hadir lebih dari 100 hari itu. pesan
singkat yang menjadi tak berarti di 10 hari berikutnya. Yah… 375 hari, semua
menjadi tak berarti ketika pengkhianatanmu mulai tercium. Pengkhianatan yang
samar namun sangat menyakitkan. Rasa sakit itu semakin menyakitiku ketika kamu
tak mampu mempertahankanku. Berusaha mencari kesalahanku yang telah kuakui,
berusaha mempertahankan dia yang baru mengenalmu tanpa tahu siapa dirimu.
Ingin
meninggalkanmu dan membiarkanmu sendiri mengikuti apa kata hatimu, namun
keraguan itu menjadi sangat menyakitiku. “Apakah dia mampu mencintaimu dengan
tulus? Apakah dia benar-benar mencintaimu? Apakah kamu akan merasa bahagia
bersamanya?” pertanyaan-pertanyaan yang tak ingin ku jawab.
Pertanyaan-pertanyaan yang inginku tepis.
375
hari… tiga
angka penuh makna…. Tiga angka yang menyakitiku… 375 hari menjalin
sebuah hubungan
yang aku cintai seperti aku mencintaimu. satu hal yang ku ingin kau
ketahui hinggah 375hari ini aku tetap mencintaimu, dan berusaha menjadi
yang terbaik seperti pintamu. biarlah waktu yang akan menjawab semuanya.
375 hari….