Sabtu, 27 Januari 2024

Khotbah Sulung Pentahbisan

Firman Tuhan : Yunus 3: 1-10
Nats pembimbing : 1 Tesalonika 5:24
Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya.
PENGANTAR
”Hidup ini adalah kesempatan“
Mendengar kalimat ini sebagai orang Kristen pikiran kita akan langsung tertuju pada salah satu lagu rohani yang ditulis oleh Pdt. Wilhelmus Latumahina. Lagu ini diciptakan bukan sekedar hasil dari imajinasi semata. Lagu ini adalah hasil perenungan yang mendalam tentang perjalanan hidup yang dialami oleh Pdt Latumahina. Diceritakan bahwa beliau memiliki seorang anak laki-laki yang dikaruniai Tuhan talenta dalam bidang musik, yang benar- benar melibatkan diri dalam pelayanan di gereja. Pada usia 17 tahun, usia yang masih sangat muda anak laki- laki tersebut mengalami kecelakaan dan berujung kematian. Saat merenungi apa yang terjadi berkaitan dengan duka yang dialami itulah Pdt Latumahina menuliskan/menciptakan lagu ini.
Hidup ini adalah kesempatan. Berbicara tentang kesempatan, ada ungkapan yang mengatakan kesempatan tidak datang dua kali, ungkapan ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa jika diberi kesempatan maka pergunakanlah sebaik mungkin.
TAFSIRAN
 Bagian firman Tuhan yang baru saja kita baca bersama ini juga berbicara tentang kesempatan yang diberikan kepada Yunus dan Kota Niniwe.
 Yunus adalah salah satu dari antara nabi-nabi di dalam kehidupan bangsa Israel pada kisaran abad ke – 8 SM. Yunus hidup setelah nabi Elia dan Elisa. Arti nama Yunus sendiri adalah Merpati. Berbicara tentang merpati, burung ini merupakan salah satu jenis burung yang digunakan untuk menggambarkan tentang kesetiaan, ketaatan dan ketulusan. Namun ternyata kisah dalam kitab nabi Yunus ini sedikit berbeda dari arti kata namanya. Kitab Yunus terdiri dari 4 pasal yang diawali dengan kisah Yunus mengingkari panggilan Tuhan. Secara garis besar kisah ini berbicara tentang perintah Tuhan agar Yunus pergi ke kota Niniwe dan memberitakan tentang kejahatan kota Niniwe yang telah sampai kepada Tuhan. Dalam pelarian tersebut Yunus akhirnya harus berada di dalam perut ikan selama 3 hari. Dalam Matius 12: 38- 42 tercatat bagaimana Yesus menyebutkan peristiwa Yunus berada di dalam perut ikan sebagai gambaran bagaimana Yesus akan mati dan bangkit pada hari ketiga. (Mat 12: 40). Hal ini menunjukkan bahwa peristiwa Yunus berada di dalam perut ikan bukan sebuah dongeng semata, namun adalah benar- benar sejarah dalam perjalanan bangsa Israel.
 Setelah peristiwa berada dalam perut ikan selama 3 hari, tercatat dalam pasal 3 tentang pertobatan Niniwe yang menunjukan adanya kesempatan kedua bagi Yunus untuk menjalankan perintah Tuhan. Ayat 1 mengatakan Datanglah Firman Tuhan kepada Yunus kedua kalinya. Hal ini menujukkan adanya kesempatan kedua yang diberikan Tuhan kepada Yunus untuk melaksanakan kehendak Tuhan berkaitan dengan kota Niniwe. Meskipun pada perintah yang pertama Yunus sempat mengingkari namun Allah masih memperkenankan Yunus untuk menjalankan rancanganNYA. Mengapa masih ada kesempatan kedua? Pada dasarnya jika seseorang tidak mampu menjaga kepercayaan maka tidak akan diberikan kepercayaan lagi, namun hal sebaliknya ternyata berlaku pada Yunus. Dalam pasal 4: 2 bagian terakhir tertulis bagaimana isi doa Yunus .... Bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia... (bdk Mazmur 103:8). Kesempatan kedua yang diberikan kepada Yunus bukan karena Yunus adalah pribadi yang hebat atau baik, namun semata-mata karena Tuhan adalah Tuhan yang penyayang, panjang sabar dan setia pada janjiNya. Pemilihan Yunus untuk menjalankan rencana Tuhan terhadap kota Niniwe bukan karena siapa Yunus namun karena perkenanan Tuhan. Mengapa harus tetap Yunus yang tetap melaksanakan perintah Tuhan ini? Mengapa tidak dialihkan kepada nabi yang lain? Jika kita baca lebih lanjut pada pasal 4 terlihat bagaimana Yunuspun belajar untuk mengakui bahwa Allah juga mengasihi bangsa lain. Dalam proses ini yang berubah bukan hanya kota Niniwe namun pribadi Yunuspun ikut berubah dari pola pikirnya yang lama.
 Pada perintah yang kedua kali ini tercatat dalam kitab ini bahwa Yunus segera melakukan apa yang diperintahkan padanya (ayat 2). Pada ayat ke 4 tercatat bahwa Yunus mulai menyerukan perintah Tuhan di dalam kota itu dengan jarak sehari perjalanan. kota Niniwe digambarkan sebagai kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya. Sehari perjalanan ini menunjukkan kesan bahwa Yunus mulai berseru dari daerah pinggiran kota, bukan pada pusat kota, pusat pemerintahan. Pemikiran ini semakin diperkuat pada ayat ke 6 yang menuliskan Setelah sampai kabar itu....dst. Hal ini bisa menunjukkan kesan bahwa Yunus masih melakukan semua ini dengan tidak sepenuh hati. Jika saja dia melakukan dengan sepenuh hati, dia akan langsung bertemu dengan raja, dengan pimpinan tertinggi kota itu dan menyerukan nubuatan Tuhan. Yunus seolah-olah ingin segera melakukan tugasnya, entah didengar atau tidak bukanlah urusannya. Hal ini dipertegas pada pasal 4: 1, tercatat bahwa setelah melihat kalau Tuhan mengampuni kota Niniwe maka kesallah hati Yunus dan marahlah ia.
Hal ini dipengaruhi oleh konsep pemikiran Yunus dan bangsa Israel pada umumnya tentang konsep keselamatan yang hanya berlaku istimewa bagi mereka bangsa Israel. Ada ketidakpuasan ketika menyadari bahwa kasih dan keselamatan dari Tuhan juga berlaku bagi bangsa lain.
 Kota Niniwe adalah sebuah kota yang besar yang letaknya dekat dengan anak sungai Tigris. Hal ini membuat kota Niniwe memiliki wilayah pertanian dan peternakan yang bagus. Kota Niniwe ini terkenal sebagai pusat pemujaan dewi kesuburan (Astarte). Dalam kitab Nahum 3: 1 kota Niniwe digambarkan sebagai kota penumpah darah. Yang menarik di sini, dikatakan dalam firman Tuhan bahwa ketika Yunus memasuki kota itu sehari perjalanan jauhnya, artinya baru sedikit saja bagian yang dijangkau dan memberitakan nubuatan Tuhan, masyarakat di sebagian kecil kota itu langsung menyesali perbuatan mereka dan menunjukkan sikap pertobatan mereka. Rupa-rupanya seruan itu terlebih dahulu didengar oleh masyarakat biasa, sehingga pada ayatnya yang ke 5 baru terlihat kalau berita tersebut sampai kepada raja kota Niniwe, yang juga langsung menunjukkan sikap penyesalan dan pertobatannya.
Di sini terlihat beberapa hal:
• Masyarakat Niniwe, masyarakat biasa yang mendengar seruan nabi Yunus mulai mengumumkan puasa dan menggunakan kain kabung. Di sini terlihat inisiatif sendiri yang dilakukan oleh masyarakan kota Niniwe, tanpa perintah dari raja atau pun para pembesar.
• Sikap raja kota Niniwe ketika mendengar berita tersebut. Ada kemungkinan berita itu tidak didengar langsung dari Yunus melainkan dari cerita masyarakatnya, namun dengan rendah hati raja ini turun dari singgasananya, menanggalkan jubahnya, lalu menggunakan kain kabung dan duduk di abu. Menggunakan kain kabung dan duduk di atas abu adalah tindakan yang menunjukkan rasa duka dan penyesalan mendalam yang biasanya di lakukan oleh masyarakat pada saat itu. (bandingkan dengan kisah-kisah lain dalam PL, salah satu contohnya seperti yang tercatat dalam kitab Ester 4; 1, kisah tentang Mordekhai). Sikap raja Niniwe ini adalah sikap perendahan diri yang luar biasa, sikap penyesalan yang mendalam.
• Lanjutan dari sikap raja Niniwe itu adalah mengeluarkan maklumat bagi segenap masyarakat agar berpuasa, berkabung dan berseru dengan keras kepada Tuhan dan juga berbalik dari tingkah laku yang jahat dan kekerasan yang dilakukannya. (Ayat 7-8). Hal ini menunjukkan kesungguhan hati dari raja Niniwe untuk mendengar dan memohon pengampunan Tuhan, dan juga berbalik dari cara hidup mereka yang lama yang tidak berkenan kepada Tuhan. Kata Siapa tahu... pada ayat 9 menunjukkan sikap penyerahan diri akan keputusan Tuhan, di balik seruan mereka yang keras kepada Tuhan untuk memohon pengampunan tidak terselib pemaksaan kehendak pada Tuhan melainkan penyerahan diri dan keikhlasan menuruti kehendak Tuhan.
 Hasil dari sikap masyarakat dan raja kota Niniwe adalah pada ayat yang ke 10 dikatakan Allah menyesal akan malapetaka yang dirancangkan pada kota itu dan tidak jadi melakukannya. Allah adalah Allah yang adil yang akan menghakimi manusia namun seturut dengan perbuatannya namun pada saat yang sama Allah adalah Allah yang penuh kasih yang akan mengampuni setiap orang yang sadar dan berbalik dari cara hidupnya yang lama. (2 Tawarikh 7: 14 dan umatKu yang atasnya namaKu......)
APLIKASI
Dari kisah yang tercatat dalam Yunus pasal 3 ini kita dapat belajar beberapa hal, yakni:
1. Tuhan yang memanggil kita adalah Tuhan yang setia, karena kesetiaan dan kasihNya kepada kita manusia umat ciptaanNya, kita masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan segala hal yang diperkenankan bagi kita. Kesempatan untuk menjalani hidup ini bukan karena hebat dan kuatnya kita manusia, hal ini semata- mata karena kasih dan perkenananNya. Ketika kita dipilih menjadi abdiNya, pelayanNya, atau untuk terlibat dalam pelayanan apapun, semua itu semata- mata karena perkenanan Tuhan, bukan karena siapa kita. Namun ini tidak berarti bahwa karena Tuhan memanggil kita apa adanya lalu kita menjadi pribadi yang tidak lagi mengembangkan diri untuk semakin lebih baik dalam menjalankan pelayanan yang dipercayakan.
2. Untuk menjawab panggilan Tuhan tidak hanya sekedar dengan menjawab YA, namun juga harus dibarengi dengan kesediaan, kerelaan dan ketataan untuk melakukannya. Kita dipanggil bukan sekedar untuk memenuhi kuota, kita dipanggil bukan karena kebetulan. Allah memperkenankan kita untuk mengambil bagian dalam pelayanan agar kita diubahkan menjadi lebih baik dan juga orang lain diubahkan. Maka dari itu, kita harus belajar untuk menjalankan tugas yang dipercayakan bagi kita dengan maksimal, dengan totalitas kita. Setelah terpilih untuk menjalankan satu tanggung jawab tertentu, entah apapun itu, bukan sekedar diperhadapkan, menjawab YA, lalu hilang! Kapan suka mau datang, baru datang. Kapan suka mau kerjakan, baru kerja. Tidak demikian. Tidak hanya jadi jemaat Natal-Paskah, Majelis Natal-Paskah, dan pendeta weekend. Tidak ABS- Asal Bapa Senang! Jika dipercayakan sebuah tanggungjawab, hendaklah dikerjakan dengan sepenuh hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3: 23). Kita belajar untuk taat dan setia sama seperti Yesus Kristus yang taat bahkan sampai mati di atas kayu salib. (Filipi 2:8)
3. Kita juga belajar dari masyarakat kota Niniwe. Saat mereka mendengarkan seruan Yunus tanpa perintah dari pihak manapun, mereka langsung berinisiatif untuk berubah. Mari kita belajar menjadi jemaat dan masyarakat yang juga punya inisiatif untuk membuat perubahan dalam hidup bersama, perubahan-perubahan yang menguatkan iman dan memperbaiki kehidupan menjadi lebih baik. Dalam perjanjian baru dapat kita lihat bagaimana cara hidup jemaat mula- mula, secara khusus bagaimana cara hidup jemaat di Antiokhia. Mereka adalah jemaat kecil yang penuh semangat dan inisiatif, dan dari situlah muncul kata Kristen untuk pertama kali.( KPR 11: 26). Kita belajar menjadi jemaat yang tidak menunggu ada perubahan, namun bersama-sama bergandengan tangan membuat perubahan itu.
4. Dari bagian Firman Tuhan inipun kita belajar dari raja dan para pembesar di kota Niniwe. Mereka yang memiliki jabatan tinggi ini rela merendahkan diri mereka demi pengampunan dan keselamatan mereka semua. Semua kita yang memiliki peranan penting dalam jemaat dan masyarakat, mari kita belajar dari kerendahan hati raja dan pembesar kota Niniwe ini. Kerendahan hati yang membawa perubahan baik. Kerendahan hati untuk ditegur, kerendahan hati untuk memohon pengampunan Tuhan, kerendahan hati untuk melakukan perubahan secara bersama- sama.
5. Melihat para tokoh yang tercatat dalam firman Tuhan ini menunjukkan bahwa untuk mencapai sebuah perubahan dibutuhkan kerja sama yang baik dari berbagai pihak, ada tiga unsur yang terlihat di sini antara lain pemimpin, tokoh- tokoh dan jemaat/ masyarakat. Ada banyak hal yang sementara digumuli dalam kehidupan bersama saat ini, ada pergumulan berkaitan dengan kemarau panjang yang mungkin berujung pada gagal panen, ada pergumulan tentang hama tanaman, pergumulan tentang keberlangsungan hidup bergereja dan lain sebagainya. Untuk menyikapi itu dibutuhkan kerja sama yang baik dari semua pihak.
Kita semua diberi kesempatan untuk terus berubah dari hari ke hari untuk menjadi lebih baik. Kita semua seberdosa apapun kita, Allah masih memperkenankan kita untuk tetap menjalani hidup, menjalani pelayanan kita, mari kita lakukan yang terbaik semampunya kita, mari kita pakai kesempatan ini untuk melakukan yang terbaik sebagai bentuk rasa syukur kita untuk kasih Allah yang tak berkesudahan dalam hidup kita. Allah yang memanggil kita adalah Allah yang setia, dan karena itu Allah pasti kan memampukan kita untuk menjalani semuanya dengan baik demi kehidupan yang lebih baik di tana wekanena loku wemalala. Amin.