Ketika Setiap langkah adalah ilusi
Apakah yang harus ku tuliskan pada daun?
Ketika setiap hembusan nafas adalah puisi,
Dengan tinta apakah dapat dicatat di awan?
Ketika pandangan menjadi fatamorgana,
Salahkan jika dipertanyakan?
Ketika nyata keabsahannya
Ketika itulah ilusi menjadi nyata, hembusan nafas menjadi kata, fatamorgana menjadi potret kehidupan.
Kamis, 26 Mei 2016
Ketika
Purnama
Purnama merekah,
Memberi ruang pada langit untuk bercahaya
Dengan tenang menerobos cumulus nimbus,
Memberi petunjuk pada arah yang hampir sesat
Maaf
Maaf untuk sebuah pengertian yang tertunda,
Sebuah kesadaran yang terlambat.
Maaf untuk pelukan yang jauh,
Sebuah belaian yang tak sampai.
Maaf untuk ruang yang tak mampu ku sulap,
Untuk jarak yang tak mampu ku potong.
Maaf untuk semuanya,
Maaf untuk maaf ini.
Selasa, 17 Mei 2016
Biarkan saja
Biarkan saja matahari itu berlalu
Karena setelah kelamnya malam
Pasti akan ada hari baru untukmu.
Biarkan saja kisah itu berlalu,
Akan ada kisah lain yang harus kamu lalui.
Jangan buang waktumu untuk meratapi kabut,
Menari saja dan hangatkan badanmu.
Semua yang terjadi bukan untuk ditangisi, tapi dilalui dengan ungkapan syukur karena pasti akan ada anugerah di balik apapun yang kamu alami.
Jadi, lanjutkan saja hidupmu. Buktikan pada dunia kalau kamu tidak selemah yang mereka bayangkan.
Tenggelamku
Tenggelam di dalam kabut,
Memeluk kehangatan dalam gertakan membeku.
Samar, sunyi, dingin...
Petualangan sang pembaca
Semakin tingi,
Semakin tenggelam.
Tak merasa sesak,
Hanya ada penasaran yg kian memuncak.
Semua partikel berkumpul
Menembusi portal
Mengelilingi batas logika.
Sebuah tanda tanya menggantung,
Inilah petualangan seorang pembaca.
Merindu dalam diam
Merindukan yang tak dirindukan. Tersesat dalam jejak kenangan. Tak ingin tetap diam tapi tak mampu melangkah!
Terdiam dalam bisu, menanti ego yang sedikit terkikis
Sabtu, 14 Mei 2016
Semua kembali sunyi
Semua kembali sunyi,
Sunyi di dalam diam,
Diam di dalam gelap,
Gelap di dalam kekosongan,
Kosong di dalam kehampaan,
Hampa di dalam sunyi,
Semua kembali sunyi!
Kamis, 12 Mei 2016
Melukis senja
Melukis senja dalam temaram pagi dan teriknya siang,
Memimpikan senja yang teduh dalam keindahan.
Biarkan saja pagi itu merekah dan siang menghanguskan kulit
Karna senja yang jingga menantimu