Rabu, 29 Januari 2014

Dia, ayah beranak banyak

Saya mengenal dia sejak saya betumbuh menjadi kanak-kanak yang suka bermain di belakang rumahnya. Tapi dia mengenal saya sejak saya lahir. Sejak kecil yang saya tahu tentang dirinya adalah, dia seorang suami, dan seorang ayah beranak banyak karena memang ada begitu banyak anak yang tinggal di rumahnya dan memanggilnya “bapa”.
             Seiring berjalannya waktu saya semakin dewasa, saya mulai memanggilnya juga dengan sebutan “bapa”. Dia orang yang tenang, humoris dan apa adanya. Saya seriNg diganggunya dengan guyonan-guyonan lucu. Saya sering dipanggilnya  ‘saya punya anak’.
Suatu ketika, di saat saya telah menyelesaikan pendidikan saya di Fakultas Teologi UKAW Kupang, jika dia kebetulan bertandang ke rumah saya maka dia akan selalu berkata “saya harus hubungi orang Sinode untuk siap mimbar khusus buat saya punya anak satu ini” memang terdengar lucu karena memang tinggi  saya harus saya akui hanya 1, 50m (hahahaha... malu...). Lama kelamaan saya mulai menimati candaan itu.
Setiap hari jika saya melewati rumahnya selalu saya ganggu dia. Jika saya menyapanya dengan mengatakan “syalom Ba’i” dan dia tidak menajwab maka saya akan berteriak sekencang-kencangnya dan mengatakan “Ba’i beta ada syalom....”  hal ini terjadi hampir setiap hari dalam setahun terakhir ini karena jalan yang harus saya tempuh untuk ke gereja tempat saya melayani harus melewati samping rumahnya.
Kemarin, ketika saya hendak ke rumah teman saya yang berada di Oekamusa, saya  terkejut melihat keramaian yang ada di depan rumahnya. Ternyata dia mengalami kecelakaan lalu lintas. Saya sempat takut tapi saya berusaha berpikir positif dan melanjutkan perjalanan ke rumah teman saya setelah dia dibawa ke rumah sakit umum.
Apa yang tak pernah saya takutkan tadi ternyata menjadi kenyataan. Saat saya pulang dari rumah teman saya, ada banyak orang di depan rumahnya, di jalan tempat dia mengalami kecelakaan ternyata dibakar beberapa lilin. Oh my God!!! Apakah benar??? Dia meninggal dunia???
Dia yang aku kenal seorang ayah beranak banyak, ternyata telah tiada. Dia yang ternyata adalah seorang ayah tak beranak kandung. Semua anak yang saya tahu adalah anaknya adalah anak-anak angkatnya yang dia bimbing, dia bina, dia kasihi dan dia biayai hingga menjadi orang-orang hebat di kota ini. Tak ada satupun di antara anak-anaknya yang tak menjadi seorang sarjana.  Mereka berjumlah 64 orang menangisi  jenasahnya. Istri terkasihnya yang juga adalah seorang wanita tenang yang luar biasa terlihat pingsan berulang kali tak menahan kesedihan hatinya.
Dia orang berhati mulia yang akan selalu ku kenang.

Special buat Ba’i Letuna

Sabtu, 11 Januari 2014

Hasil Karya luar biasa milik anak Mollo Utara #Kanukuleon

Akhirnya di tengah kesibukan saya, saya dapat menyelesaikan sebuah bacaan luar biasa #kanukuleon yg seharusnya sudah saya selesaikan beberapa minggu yg lalu. Sebenarnya saya dapat membaca buku ini di sela-sela kesibukan saya, tapi saya merasa tidaklah pantas buku tersebut saya baca dengan terburu-buru. Akhirnya setelah membaca 3 cerpen pertama saya putuskan untuk berhenti sejenak dan akan melanjutkan saat semua kesibukan saya berakhir.
Pada awalnya saya merasa melihat seorang berbeda yang berasal dari tempat lain. Cerpen "Sakura dan Fujikawaguchiko"  dikisahkan dengan latar belakang Jepang yang dikisahkan dengan begitu baik membuat saya merasa seperti benar-benar berada di sana... Cerpen "Menghapus Ilona" dengan latar belakang Jogja juga dikisahkan dengan detail-detail yang memberi kesan nyata. Saya benar-benar larut dalam kedua cerpen tesebut walau masih merasa asing.
Namun, semakin menelusuri bacaan ini saya semakin menemukan figur seorang anak asli TTS... anak yang lahir dan bertumbuh di kecamatan Mollo Utara. Cerpen-cerpen luar biasa yang benar-benar menunjukkan kekhasan budaya TTS, cerpen-cerpen yang indah dan unik.
Hanya satu kalimat yang mampu saya katakan"#Kanukuleon adalah karya anak bangsa... karya anak TTS yang sungguh luar biasa"