Jumat, 15 November 2013

Menantang Desember

Desember...
Mendengar kata itu semua orang pasti tersenyum indah dengan mata yang berbinar-binar.
Desember adalah bula ke-12, bulan terakhir dalam kalender masehi.
Desember sangat special di hati Umat Kristen,
Pada bulan Desember umat Kristen selalu merayakan Natal, merayakan hari lahir Yesus Kristus.
Sama seperti semua orang yang selalu menantikan bulan Desember,
Kami sekeluargapun begitu. Namun di antara binar kebahagiaan mata kami terselib bias kesedihan.
Entah mengapa Desember seperti menyimpan kebencian tersendiri bagi keluarga kami.
Desember seperti tak bisa melihat kami menikmati damai natal tanpa sebuah "rasa sakit".
Entah kapan semua itu bermula, Namun Desember selalu merenggut orang-orang terkasih kami.
Suami dari saudara sepupu saya, om saya, mereka meninggal dunia pada bulan Desember.
Saudara sepupu saya mengalami kecelakaan tragis pada bulan Desember. Saya, saya sendiri pernah berdiri di antara hidup dan mati (dinyatakan geger ringan dan koma selama 3 hari) saat mengalami kecelakaan pada tanggal 27 Desember 2005.
Di tahun berikutnya, pada bulan yang sama, anak saudara saya pun mengalami kecelakaan dan harus dirawat di rumah sakit.

Setahun yang lalu... 9 Desember 2012...
Tangisan duka harus kami alami,
Desember kembali merenggut adik saya setelah mengalami kecelakaan lalu lintas.

Desember 2013...
Kunantikan dirimu... kutantang dirimu...
Kami tidak ingin lagi menghiasi malam Natal kami dengan bias kesedihan.
Dan kamu Desember... kamu hanya sebatas bulan ke-12,
Kamu takkan lagi menangis karena duka.
Takkan lagi.

Kamis, 14 November 2013

Dia dan Hujan

Sore itu...
Dia duduk di sana, di bawah pohon itu.
Tatapan matanya kosong,
Hembusan nafasnya tak dapat diartikan.
Dia seakan asyik dengan kesendiriannya,
Tak terusik hingar bingar di sekitarnya,
Bahkan tak peduli dengan sengatan matahari di kulit putihnya.
Duduk... terdiam di sana, di bawah pohon itu.

Perlahan namun pasti, kemegahan langit biru telah berubah menjadi langit yang hitam...
Hawa panas telah terusir oleh angin kencang yang bertiup tak beraturan.
Seketika alam berubah, sekelilingnya berubah...
Kecualia dia...
Masih duduk di sana, di bawah pohon itu.

Langit seolah tak puas dengan perubahan warnanya,
Dengan berani langit kembali menggetarkan bumi dengan gemuruh guntur dan kilatan cahayanya yang menakjubkan sekaligus menakutkan.
Tapi dia...
Masih tak terusik,
Tetap duduk di sana, di bawah pohon itu.

Tik... tik... tik...
Butiran bening mulai menetes dari langit,
Butiran bening milik langit seolah sedang berlomba menetes ke bumi.
Butiran bening yang dingin, butiran bening yang diberi nama hujan.

Dia...
Bangkit dari duduknya di bawah pohon itu,
Tidak tergesa seperti sekelilingnya yang tergesa menghindari butiran bening.
Berjalan bukan berlari menuju tanah lapang di depannya.
Di sana, di tanah lapang itu,
Dia menjadi satu-satunya manusia yang terlihat begitu menikmati sentuhan butiran bening di tubuhnya, di buminya.

Siapa dia? Gilakah dia?

TIDAK!!!

Dia adalah dia.
Dia adalah pencinta hujan.
Dia adalah dia yang merindukan hujan dan bau tanah saat dibasahi hujan.

Terlihat aneh,
Dia mulai berputar dan menari di tengah hujan.
Menari.... dan terus menari tanpa mempedulikan tatapan bingung dari sekelilingnya.
Tarian berirama alam, yang hanya mampu dimengerti olehnya.
Dia juga adalah dia yang rindu menari di tengah hujan.
Hujan memberi arti tersendiri baginya,
Bau tanah memiliki makna tersendiri untuknya.

Menari... dan terus menari di tengah derasnya hujan.
Tak seorangpun mengerti,
Ini hanya antara dia dan hujan.

Selasa, 12 November 2013

Pertanyaan sang pencinta

Cinta tak harus memiliki...
Benarkah demikian???
Pertanyaan yang terus bermain-main dalam benak seorang pencinta  yang menanyakan tentang arti cinta sebenarnya.
Kata orang cinta itu indah. Tapi mengapa harus ada tangisan?
Kata orang cinta itu membahagiakan. Tapi mengapa harus ada air mata?
Menyerah dengan keadaan atas nama cinta. Apakah benar demikian?
Apakah benar kata orang yang mengatakan cinta adalah pengorbanan? Pengorbanan seperti apakah itu yang hanya menghasilkan luka dan tangisan?
Apakah pengorbanan karena kekonyolan cara berpikir dapat disebut pengorbanan atas  nama cinta?
Mengapa tak jujur saja bahwa cinta itu telah pudar dimakan semua yang ada di dunia ?
Mengapa harus mengatasnamakan ketulusan cinta untuk membela diri?
Cinta itu perjuangan. Cinta itu kekuatan yang takkan pernah terkikis dengan apapun.

Senin, 11 November 2013

Sebelas November Dua Ribu Tiga Belas



Panas... gerah... dan riuh dengan segala kesibukan.
Kota Kasih yang pernah menjadi rumahnya...
Kota yang pernah menjadi saksi persahabatan dan perjuangannya.
Di ujung jalan sana masih tersisa bias perjuangannya.
Di sudut bangunan itu kembali terlihat cuplikan persahabatannya.
Kota ini, kota yang pernah melihat seorang gadis berusia 17 tahun, pertama kali melangkahkan kaki keluar dari cangkangnya, melangkah keluar dari tanah kelahirannya.
Kota ini pernah melihat seorang gadis remaja yang melangkah dengan harapan dapat mencintai kota ini seperti kota kelahirannya.
Kota ini juga melihat gadis berumur 17 tahun itu beranjak dewasa.
Kota kasih, kota yang menawarkan sebuah janji masa depan yang lebih baik baginya.
Kota yang memperkenalkan seorang gadis kecil dengan berbagai tipe manusia dari berbagai suku, agama, ras, dan sikap.
Kota yang melihat perjuangan gadis kecil dalam meraih mimpinya.
Kota yang melihat sorot kerinduan tak tertahankan akan tanah kelahirannya di sudut matanya.
Kota ini juga yang akhirnya menjadi saksi air mata bahagia milik gadis yang tidak lagi berusia 17 tahun.
Kota ini akhirnya melihat akhir dari perjuangan gadis kecil yang datang 7 tahun yang lalu.
Kota ini pun melihat langkah pasti gadis kecil yang telah berubah menjadi seorang wanita dewasa, yang tidak lagi menggunakan pakaian kecilnya namun menggunakan toga wisudanya.
Hari itu, 17 september 2011, kota ini melihat seorang sarjana teologi melangkah meninggalkan podium itu.
Hari ini, 11 november 2013, kota ini masih tetap terlihat sama seperti 7 tahun yang lalu...  2 tahun yang lalu. Kota ini masih menyimpan semua kenangan perjuangan dan persahabatan seorang gadis kecil yang kini  telah menjadi seorang wanita dewasa.

                                                                                                                                Kupang, 111113

Menulis asa membaca karya



Menyambut pagi...
Menyambut suatu asa yang baru.
Langkah yang harus lebih pasti dari hari kemarin.
Langkah yang akan menuliskan sebuah kisah yang berbeda dari kisah sebelumnya.
Melangkah.... berjalan... berlari...  melompat... mungkin juga akan terantuk atau bahkan terjatuh.
Tapi apa artinya sebongkah batuyanh menghalangi langkahmu?
Apa artnya sebuah luka kecil hasil dari bentutan tak terdugamu dengan sang bumi, jika di sana... di puncak hari kamu memiliki kemegahan matahari dan keindahan awan?
Jika kemarin kamu tak sempat mendengar tuturan kisah sang pohon,
Lakukanlah hari ini!
Jika kemarin kamu tak sampai memahami keluhan tak tertahankan sari sang tanah,
Pahamilah dia hari ini!
Jika kemarin kamu tak memiliki cukup waktu untuk menari bersama kupu-kupu,
Menarilah bersama mereka hari ini!
Hari ini... hari baru...
Melangkah... berlari... melompat... menari... dan tuliskanlah kisahmu dan biarlah terbaca segala karyamu.

Sabtu, 09 November 2013

Timur

Dia berjalan ke arah Timur...
Ya... Dia sosok sederhana, sosok yang terlihat biasa namun memiliki kisah hidup yang luar biasa.
Timur...
Awal dari hari...
Timur...
Awal dari sesuatu yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari dirinya.
Timur...
Mungkin tak seindah Barat dengan sunsetnya.
Tidak juga semegah Utara dan Selatan.
Namun di sana, di Timur tersimpan separuh jiwanya, separuh dirinya.
Timur...
Tidak hanya memiliki senyum indah matahari.
Di Timur tersimpan senyum indah milik belahan jiwanya.
Senyum yang dirindukan ketika ia berjalan di Barat, terlelap di Utara dan bernyanyi di Selatan.
Timur...
Di situlah rumahnya...
Di situlah separuh jiwanya menanti dirinya dengan sejuta kerinduan.
(Karya pertama di kelas menulis bersama Forum SoE Peduli, 091113)

Selasa, 05 November 2013

Malam

Ketika malam mulai menampakkan dirinya
Alam seolah memaksaku untuk kembali ke peraduannya...
Malam...
Malam itu hitam... pekat... dan... malam itu sunyi.
Malam menyimpan  banyak kerinduan dari sudut hati akan sosok yang seolah hilang ditelan pekatnya malam...
Malam seolah buta dan tak melihat sepotong hati yang lemah dibalut kerinduan.
Malam...
Malam itu bisu... tak sanggup menyampaikan dendang kerinduan yang mengalun sendu menyayat hati.
Malam akan tetap menjadi malam...
Malam akan tetap hitam... pekat, dan sunyi...
Tapi malam tak mampu menghalangi matahari terbit di hari esok.
Malam... pasti akan berlalu.