Kamis, 14 November 2013

Dia dan Hujan

Sore itu...
Dia duduk di sana, di bawah pohon itu.
Tatapan matanya kosong,
Hembusan nafasnya tak dapat diartikan.
Dia seakan asyik dengan kesendiriannya,
Tak terusik hingar bingar di sekitarnya,
Bahkan tak peduli dengan sengatan matahari di kulit putihnya.
Duduk... terdiam di sana, di bawah pohon itu.

Perlahan namun pasti, kemegahan langit biru telah berubah menjadi langit yang hitam...
Hawa panas telah terusir oleh angin kencang yang bertiup tak beraturan.
Seketika alam berubah, sekelilingnya berubah...
Kecualia dia...
Masih duduk di sana, di bawah pohon itu.

Langit seolah tak puas dengan perubahan warnanya,
Dengan berani langit kembali menggetarkan bumi dengan gemuruh guntur dan kilatan cahayanya yang menakjubkan sekaligus menakutkan.
Tapi dia...
Masih tak terusik,
Tetap duduk di sana, di bawah pohon itu.

Tik... tik... tik...
Butiran bening mulai menetes dari langit,
Butiran bening milik langit seolah sedang berlomba menetes ke bumi.
Butiran bening yang dingin, butiran bening yang diberi nama hujan.

Dia...
Bangkit dari duduknya di bawah pohon itu,
Tidak tergesa seperti sekelilingnya yang tergesa menghindari butiran bening.
Berjalan bukan berlari menuju tanah lapang di depannya.
Di sana, di tanah lapang itu,
Dia menjadi satu-satunya manusia yang terlihat begitu menikmati sentuhan butiran bening di tubuhnya, di buminya.

Siapa dia? Gilakah dia?

TIDAK!!!

Dia adalah dia.
Dia adalah pencinta hujan.
Dia adalah dia yang merindukan hujan dan bau tanah saat dibasahi hujan.

Terlihat aneh,
Dia mulai berputar dan menari di tengah hujan.
Menari.... dan terus menari tanpa mempedulikan tatapan bingung dari sekelilingnya.
Tarian berirama alam, yang hanya mampu dimengerti olehnya.
Dia juga adalah dia yang rindu menari di tengah hujan.
Hujan memberi arti tersendiri baginya,
Bau tanah memiliki makna tersendiri untuknya.

Menari... dan terus menari di tengah derasnya hujan.
Tak seorangpun mengerti,
Ini hanya antara dia dan hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar