Kamis, 16 Oktober 2014

Hawa yang tersakiti

Seorang hawa tersakiti
Bukan karena sakit melahirkan
Bukan pula karena tersayat pisau,
Tapi karena disakiti orang yang paling dicintainya.
Cintanya ternodai kekerasan.
Ketulusannya terciderai ketidakpercayaan.
Ditekan...
Dilecehkan...
Dinomor duakan...
Dikasari bahkan dilukai.
Cintanya berubah menjadi rasa sakit,
Tapi tetap setia dalam sebuah janji suci.
Haruskan ia berhenti mencintai?
Tapi ini cinta!
Haruskan ia melarikan diri?
Tapi ini rumah tangganya!
Tetap mencintai di dalam rasa sakit.
Tetap tersenyum di dalam tekanan.
Seorang penolong yang butuh pertolongan,
Seorang hawa yang menjadi dingin
Karena cinta yang ternodai.

16 Oktober 2014
@SSP SoE- pelatihan konseling

Rabu, 15 Oktober 2014

Aku Perempuan

Aku perempuan...
Seorang yang dianggap lemah,
Tapi tak seperti itu.
Aku perempuan...
Seorang yang dulu dianggap nomor dua,
Tapi juga tak seperti itu.
Aku seorang perempuan...
Sang pemilik rahim yang kudus.
Rahim yang dianugerahkan sang pencipta.
Rahim yang akan mengandung sebuah anugerah.
Rahim yang akan menjadi awal sebuah kehidupan.
Aku perempuan...
Yang berjuang antara hidup dan mati
Demi sebuah kehidupan baru.
Aku perempuan yang akan selalu tersenyum karena sebuah kehidupan.

SoE, 15 Okt 2014
*Selamat buat kelahirannya kaka nona. Sayang kamu.*

Kamis, 02 Oktober 2014

Kisah kami dan dua orang yang sangat kami cintai

            Nama saya Sherly Leo. Saya lahir di sebuah kota kecil di Kabupaten Timor Tengah Selatan, 27 tahun yang lalu dari dua orang yang luar biasa yang selalu kami panggil Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i. Bo’ i. dalam bahasa Rote (daerah asal Mama Bo’ I artinya sayang.)
Saat ini saya tidak berencana menulis tentang siapa saya, saya hanya ingin menulis tentang dua orang ini, dua orang yang sangat saya cintai ini.
            Papa Bo’ i lahir di sebuah daerah pegunungan di kecamatan Kuanfatu, daerah selatan dari Kabupaten Timor Tengah selatan ini, 62 tahun yang lalu tepatnya 18 Juli 1952. Sejak kecil yang saya tahu Papa Bo’ i adalah seorang yang tenang, seorang yang sangat sabar. Dan sampai sekarang kesan itu masih tetap kokoh, karena itulah Papa Bo’ i yang selalu tenang dan sabar dalam melihat segala sesuatu.
            Mama Bo’ i lahir di pulau Rote, pulau paling selatan di Indonesia, pada tanggal 27 November 1959. Mama Bo’ i adalah  perempuan paling luar biasa yang pernah saya kenal dan saya sangat bersyukur dilahirkan dari rahimnya. Mama Bo’ i orang yang sedikit cerewet, tapi memiliki hati yang sangat lembut. Seorang perempuan sederhana tapi tak pernah ingin melihat anak-anaknya bermalas-malasan.
            Menurut cerita, perkenalan mereka itu diawali di Kupang, ibu kota propinsi NTT. Ketika itu rumah Mama Bo’ i letaknya tepat di belakang gereja Koinonia Kuanino tempat Papa Bo’ i sering berlatih paduan suara, dan ternyata mereka adalah teman paduan suara di gereja itu. (Mungkin karena itu ada banyak orang yang mengatakan bahwa kami 6 orang bersaudara memilki suara yang bagus saat bernyanyi. Hahahahha)
            Pada tanggal 26  Februari 1980 Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i diberkati menjadi sepasang suami istri, yang kemudian diberkahi dengan 5 orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
Masa kecil kami, kami kategorikan dalam kategori bahagia. Kami hidup dengan sederhana tapi bahagia dan teratur. Semuanya masih sangat kental dalam ingatan saya, bagaimana saat bangun pagi papa bo’ I telah menempatkan gelas-gelas berisi susu di atas meja. Bagaimana setiap sore kami berebutan antri di sumur untuk dimandikan Papa Bo’ i sementara Mama Bo’ i menunggu kami di dalam rumah untuk mengenakan pakaian pada kami.  Bagaimana kami berhamburan lari ke dalam kamar untuk berpura-pura tidur siang saat menyadari kalau sekarang saatnya Papa Bo’ i pulang dari kantor dan akan memarahi kami jika kedapatan tidka tidur siang.
            Setiap malam sehabis makan, kami diharuskan belajar bersama di dalam sebuah ruangan yang tidak begitu luas. (waktu itu rumah kami hanya berukuran sempit dan dihuni oleh banyak sekali orang, ada saudara-saudra kami dari kampung yang bersekolah di sini tinggal bersama kami). Setelah belajar dan sebelum tidur, kami harus bersama-sama keluar, kami harus mencuci kaki kami, dan harus embuang air kecil  (walaupun tidak merasa ingin buang air kecil tapi kami harus buang air kecil agar tidak buang air kecil di tempat tidur), dan setelah itu baru boleh naik ke tempat tidur.
            Satu hal yang masih sangat saya banggakan sampai saat ini, yang mungkin tidak dialami oleh semua anak kecil pada umumnya, Mama Bo’ i adalah seorang perempuan yang pandai mendongeng, setiap kali akan tidur, kami semua akan mendengar dogeng yang diceritakan oleh Mama Bo’ i hingga terlelap. Ada dongeng terjadinya Bintang Tujuh-Tujuh, Putri Henderina, Cebol, dll.
            Sewaktu kecil kami juga diberi kesempatan untuk berkarya semampunya kami, tak pernah ada larangan untuk tidak berkarya, walaupun kami masih dibatasi soal waktu (semua orang tua pasti melakukan ini). Apapun yang kami lakukan selama itu positif, Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i tak pernah melarangnya. Saking mendukungnya, jika kami terlambat pulang latihan  menyanyi,, Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i rela mencuci piring yang sebenarnya adalah tugas kami anak-anak.
            Sejak kecil, tak pernah satu kalipun kami mendengar Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i bertengkar. Mereka selalu saling mengerti dan memahami dalam segala hal. Hal yang paling saya suka adalah ketika melihat Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i bercanda, mereka terlihat sangat bahagia.
            Mereka adalah tipe pekerja keras. Tak pernah sekalipun kami melihat mereka duduk dan berpangku tangan ketika melihat ada sesuatu yang belum beres dalam rumah, mereka akan mengerjakan apa saja yang bisa mereka lakukan. Bias gender sangat kuat dalam keluarga saya, Papa Bo’ i tak pernah malu melakukan pekerjaan rumah yang kata orang banyak adalah tugas seorang perempuan (Papa Bo’ i sering membuat kue walaupun tak semahir Mama Bo’ i).
            Mama Bo’ i adalah seorang yang sungguh memperhatikan kami anak-anaknya. Kalau ada kisah-kisah inspiratif yang menceritakan tentang seorang ibu, kisah itu belum berhasil mengalahkan kisah yang dibuat Mama Bo’ i bagi kami. Kadang Mama Bo’ i rela makan cuma dengan cabe (kami menyebutnya kurus) hanya agar kami bisa makan dengan lauk yang seharusnya untuk Mama Bo’ i. Mama Bo’ i belum akan makan sebelum kami anak- anaknya makan, bahkan hingga kini, kami anak-anaknya sudah besar, dua orang kaka saya sudah menikah, kami semua sudah bekerja dan adik saya yang bungsu sudah kuliah, Mama Bo’ i masih tetap membagikan makanan bagi kami di piring kami masing-masing sebelum Mama Bo’ i makan. Di usia 27 tahun ini, saya baru akan makan jika sudah disiapkan dalam piring oleh Mama Bo’ i. Menurut orang lain itu sesuatu yang tidak pantas kami lakukan, tapi bagi kami itu memilki makna tersendiri, kami masih membiarkan Mama Bo’ i memperlakukan kami seperti gadis kecilnya di rumah, tapi kami akan selalu menopangnya dan membahagiakannya di hari tuanya sebagai wanita dewasanya.

            Sampai hari ini, saya belum pernah mencintai seseorang seperti saya mencintai mereka. Mereka adalah segalanya bagi kami. 

Rasa Itu

Kadang- kadang rasa itu adalah untain kata indah yang menyejukkan hati,
kadang-kadang rasa itu adalah lantunan lagu yang menggetarkan jiwa,
kadang-kadang rasa itu sederetan kata membentuk puisi,
tapi...
kadang-kadang rasa itu hanya diam, tak bersuara namun dapat dipahami oleh dua hati yang saling merasa.

SoE-Sumba, 03102014

CINTA

Sebuah rasa tak bernama,
Rasa yang menyejukkan walaupun bukan seperti air.
Rasa yang menenangkan, walaupun bukan sebuah ayunan.
Rasa yang muncul tanpa diundang,
Rasa yang kembali hadir setelah lama terkubur dalam kalbu.
Rasa yang ingin kusebut CINTA.
Dan memang benar… itu CINTA.
Cinta yang tak beralasan,
Hanya ada sebuah rasa.
Cinta yang tak menuntut,
Hanya ada pengertian.
Ada jarak tapi tak memisahkan.
Itulah CINTA.


Special for My Agung

MALAIKATKU

Ketika aku dilahirkan,
aku hanya seorang anak kecil dengan tangisan
yang menggemaskan bagi setiap orang yang datang melihatku.
Yang kuketahui hanya aku aman bersama bunda.
Aku mulai beranjak menjadi seorang anak yang aktif dengan celotehan-celotehanku,
Dengan kekanakanku, dengan sikap agresifku,
Yang aku tahu, senakal apapun aku,
aku tetap aman bersama ayah yang akan selalu menjadi pahlawanku.
Aku mulai beranjak dewasa,
aku semakin mengerti apa arti mereka dalam hidupku,
Mereka bukan hanya pelindungku dan pahlawanku.
Mereka adalah malaikat bagiku.

Aku mencintai mereka

Rabu, 01 Oktober 2014

CILIK (Cinta lama Infeksi Kembali)


            Malam itu aku terlalu letih untuk sekedar menonton sinetron favoritku setiap malam. Tanpa membuang waktu aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur kesayanganku ketika masuk ke dalam rumah, setelah sejak pagi beraktivitas dengan sangat padatnya. Perlahan-lahan mata ini mulai tertutup dan aku hampir masuk ke dunia mimpi, namun seketika aku terjaga karena deringan hapeku yang ternyata lupa ku non- aktifkan. Dengan sedikit memejamkan mata tanganku mulai meraih hape yang kuletakkan di atas meja di samping tempat tidur. Kulihat ada 12 angka tertera di layar hape, nomor yang tak kukenali.

Halo…” Jawabku dengan lemas setelah menekan tomboh answer di layar hapeku.

Halo…” Terdengar suara di seberang sana.

Aku masih tak mampu mengenali suara itu

Halo…” Suara itu kembali terdengar mungkin hanya untuk memastikan kalau aku  masih terjaga dan tidak kembali ke dalam mimpiku.

Iya, halo… maaf ini sama siapa?” Tanyaku masih dalam keadaan setengah mengantuk.

coba tebak ini siapa?” Suara di seberang sana terdengar sedikit menggoda.
siapa ya?” tanyaku sambil mulai memutar otakku dan mengingat-ingat siapa pemilik suara ini.

Pikiranku mulai menjelajahi ruang waktu dan kembali ke beberapa tahun lalu. Pikiranku mulai meraba-raba berusaha menjangkau teman-teman masa kuliahku dan ingin meyakinkan bahwa suara ini milik salah satu di antara mereka. Tapi ternyata tidak, suara ini bukan milik salah seorang teman kuliahku. Lalu siapa dia?

Ayo tebak siapa ini?” Suara itu mulai terdengar tertawa.
Siapa ya? Aku masih saja belum mampu mengenalinya.

Ini sama teman SMA dulu… Ayo tebak… “
Ahaaa… teman SMA dulu? Aku tahu!
Jonathan?” kataku dengan percaya diri
Hahahaha… iya… ini aku! Ternyata masih ingat ya…”

            Itulah awal pertemuan kembali kami setelah perpisahan kami dinyatakan lulus SMA. Waktu yang sangat lama. 2005 sampai dengan saat ini sudah 2014, Sembilan tahun yang lalu.
            SEPULUH TAHUN YANG LALU….
            Sore itu kami pulang sekolah sedikit lebih awal karena peraturan di sekolah kami, setiap hari Sabtu kami yang masuk siang harus masuk lebih awal untuk mengikuti ibadah bersama dan setelah itu Kegiatan Belajar Mengajar akan dilakukan hanya sampai pukul 16. 00 WITA.  Setelah bunyi lonceng tanda kegiatan belajar mengajar selesai dan setelah berdoa bersama di dalam kelas, tanpa membuang waktu kami berebutan keluar dari pagar sekolah yang sudah seminggu ini berhasil menguras tenaga dan otak kami untuk belajar (walaupun sebenarnya tidak demikian juga).

Halo Chichy…” Sapa seseorang dari arah belakang. Spontan aku dan teman-teman menoleh ke belakang.

Halo…” Sapaku pada teman yang ternyata adalah tetanggaku.

Boleh bicara sebentar?” Katanya.
Boleh…” Kataku sambil melangkah meninggalkan teman-temanku sedikit ke belakang mereka.

Kamu dapat salam dari teman saya

Siapa?”

Jonathan, teman sekelas saya

Salam bagaimana ya?” kataku pura-pura tak mengerti apa maksudnya walaupun sebenarnya aku sudah tahu apa maksudnya.

Hmmm… Bagaimana ya… Dia suka sama kamu” Katanya dengan suara yang kedengaran mulai merasa tak enak menyampaikan ini.

Hummmm… iya… tapi nanti saja ya baru aku jawab?” Jawabku dengan lembut.

Oke, kalau begitu aku duluan ya…” Kataku sambil berlalu menhampiri teman-temanku.

            Sore itu, sore yang cerah di hari pertama dalam minggu ini, hari Senin yang indah, yang merubah ungakapan yang sering orang-orang gunakan “I hate Monday” karena Senin ini, tak seperti biasanya aku pulang bersama teman-teman akrabku, lima orang perempuan tangguh dan sangat luar biasa dalam karya dan celotehan mereka. Sore ini sepulang sekolah aku pulang bersama seseorang yang sebenarnya sudah lama ku lihat tapi tak begitu ku kenal. Kami satu sekolah tapi beda kelas. Dia orang yang dibicarakan oleh tetangga sekaligus teman sekolah saya itu di hari Sabtu lalu. Dia adalah Jonathan.

            Sore itu ternyata jadi awal persahabatan kami, aku dan Jonathan resmi berpacaran. Sama seperti pasangan-pasangan yang lainnya, kami selalu terlihat bersama baik itu di sekolah maupun di jalan sepulang sekolah. Bahkan mungkin  terlihat sedikit aneh bagi teman-teman sebaya kami yang lainnya, hubungan kami tidak kami sembunyikan dari keluarga kami, walaupun masih di bangku SMA tapi kami sudah berani memperkenalkan pasangan pada keluarga kami, dia sering main ke rumahku, dan akupun sering main ke rumahnya. Hubungan kami dapat dikatakan hubungan yang sangat baik, walaupun kami masih sangat muda waktu itu.

            Semuanya berubah ketika kami dinyatakan lulus SMA. Waktu itu di kota kami yang memiliki telpon seluler baru segelintir orang saja, kami berpisah tanpa saling memberi nomor hape, bukan karena tak ingin tapi karena belum memiliki barang elektronik tersebut. Aku berangkat ke luar kota dan dia entah ke mana aku tak tahu, yang aku tahu dia kembali ke kota kelahirannya yang berbeda pulau denganku.

Semuanya hilang, tak berjejak hingga malam ini, deringan hapeku menghadirkan dia kembali ke sini.

            HARI INI….
            Setelah sebulan kembali membangun persahabatan. Yah, harus kami katakan ini persahabatan karena semua menjadi begitu bercampur aduk, antara rasa bahagia, rasa haru, bingung, dan semuanya bercampur dalam hati dan benak kami.
Sembilan tahun bukan waktu yang singkat. Kami telah berpisah sangat lama, kami telah hampir saling melupakan dan bahkan berpikir takkan pernah saling bertemu lagi. Kami telah berubah, kami tidak lagi dua insan remaja yang saling jatuh cinta dengan getaran cinta yang membuat kami sering terlihat tersenyum sendiri dan saling menatap malu-malu ketika bertemu. Kini kami telah menjadi dua orang dewasa yang harus kami akui bahwa sangat berbeda dari sepuluh tahun yang lalu. Dia telah menjadi seorang laki-laki dewasa tidak hanya dalam usia tapi juga cara pandangnya akan hidup dan juga sebuah hubungan. Aku telah menjadi seorang wanita dewasa yang tak lagi tersipu malu ketika berhadapan dengannya.
            Dan… Akhirnya hari ini, kami bersama-sama mengakui bahwa rasa yang pernah tertinggal hampir mati itu ternyata masih ada di sudut hati kami, dan kami ingin memulai sesuatu yang baru di lembaran lama yang sempat kami simpan dengan sangat rapi dalam hati.
Kalau orang lain mengatakan CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) kami lebih suka menggunakan singkatan yang unik walaupun terlihat lucu, kami menyebutnya CILIK (Cinta Lama Infeksi Kembali)



SoE, 1 Oktober 2014