|
Orang 1
|
:
|
Dunia ini panggung
sandiwara, ceritanya mudah berubah,
Kisah Mahabrata atau
tragedi dari Yunani… (Menyanyikan penggalan Lagu)
|
|
Orang 2
|
:
|
Ketika kehidupan
mulai terasa membosankan karena ada begitu banyak hal yang terjadi.
|
|
Orang 3
|
:
|
Ada kesimpangsiuran
yang tak menentu, semua berlomba menguasai hati…
|
|
Orang 4
|
:
|
Dosa menguasai tanpa
mengenal perbedaan… Sandiwara demi sandiwara… Semua berujung pada dosa…
|
|
Orang 5
|
:
|
Ketika dosa mulai
menguasai… Ada intimidasi yang menuntut penyingkiran diri…
|
|
Orang 6
|
:
|
Hanya ingin sendiri
dengan ego yang tak terkalahkan… Membentengi diri dari dunia dengan
pertahanan atas nama kebenaran. Perlahan namun pasti mulai tercipta
kesendirian di tengah keramaian. Mulai merasa asing dengan dunia sekitar.
|
|
Orang 7
|
:
|
Di tengah kekalutan
dan kesendirian itu, hanya ada satu kata yang menenangkan. “Keluarga” yah… keluarga…
|
|
Orang 8
|
:
|
Keluarga yang
mempersatukan…
Keluarga yang
mengasihi…
Keluarga yang
menjadi teladan Allah…
|
|
Orang 9
|
:
|
Menyanyikan KJ 451:
1 dan 2 “BERBAHAGIA TIAP RUMAH TANGGA”
|
|
Orang 10
|
:
|
Bukankah Natal berarti
Yesus telah hadir dalam keluarga kita?
Bukankah Natal
berarti kebersamaan keluarga Kristen?
|
|
Orang 11
|
:
|
Natal… sebuah masa
perenungan akan kehidupan yang baru, sebuah masa kebersamaan sebagai keluarga
Allah,
Natal… adalah milik
kita saat Yesus ada di hati kita dan menerangi hidup kita.
|
|
Orang 12
|
:
|
Yesus berkata :Akulah
terang dunia, barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam
kegelapan melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yoh 8: 12)
Cahaya lilin ini,
pohon terang ini akan padam tapi jangan biarkan cahaya hidup kita sebagai
keluarga Kristen pun turut padam. Tetaplah bersinar.
|
|
|
|
|
|
Semua anggota
pembakaran lilin menuju lilin yang disediakan di kaki dian lalu membakar
lilin masing-masing, setelah itu jemaat menyanyikan KJ 92 “ Malam Kudus” sambil
membakar lilin secara bersama-sama yang diedarkan oleh ke-12 oanggota
pembakaran lilin.
|
||
Minggu, 29 November 2015
Prosesi Bakar Lilin Natal 2
Prosesi Bakar Lilin Natal
|
Orang 1
|
:
|
Sebuah rahim yang kudus
menjadi awal kehidupan baru… Laksana awal sebuah penciptaan.
|
|
Orang 2
|
:
|
Pada mulanya Allah
menciptakan langit dan bumi, bumi belum berbentuk dan kosong. Gelap gulita
menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan
air.(Kej 1: 1-2)
|
|
Orang 3
|
:
|
Kekosongan itu mulai
terisi satu per satu hingga diciptakanNya sesuatu yang unik dan berharga.
|
|
Orang 4
|
:
|
Berfirmanlah Allah: Baiklah
kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas seluruh bumi. Maka diciptakannya laki-laki dan perempuan (Kej 1: 26-27)
|
|
Orang 5
|
:
|
Manusia… gambar Allah…
Manusia… bukan sesuatu
yang sia-sia…
Namun… (ekspresi sedih)
semuanya menjadi
sia-sia ketika dosa itu mulai menguasai.
Kemuliaan Allah menjadi
sirna dalam diri karya suciNya.
|
|
Orang 6
|
:
|
Dosa… Mulai membangun
perbedaan…
Dosa… Mulai menghancurkan
persaudaraan…
Dosa… Tidak lagi
mempersatukan…
|
|
Orang 7
|
:
|
Adakah kebenaran yang
mampu membenarkan kami? Akankah kami bebas dari dosa ini?
Kami lelah dengan
perpecahan ini…
Kami lelah dengan
peperangan…
Kami lelah dengan segala
ancaman...
Kami lelah dengan ego
yang melonjak ini…
Kami butuh persaudaraan
yang dulu… Kami merindukan kasih dalam Eden.
|
|
Orang 8
|
;
|
kasihMu lebih dari
mentari yang tak pernah berhenti mamancarkan sinarnya.
cintaMu lebih dari
samudra tenggelamku di dalam kesetiaanMu Tuhan… (Reff lagu Kasih Bapa-
Judika)
|
|
Orang 9
|
:
|
kasihNya jauh melebihi
ciptaanNya… hanya ada satu kasih yang sempurna.
|
|
Orang 10
|
:
|
Kasih yang sempurna telah
ku trima dariMu, bukan karna kebaikanku,
Hanya oleh kasih
karuniaMu, kau Pulihkan aku, layakkanku tuk dapat memanggilMu Bapa…. (Lagu
Kasih yang sempurna)
|
|
Orang 11
|
:
|
Tiada kasih yang lebih
besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk
sahabat-sahabatnya. (Yoh 15: 13)
|
|
0rang 12
|
:
|
(Bicara sambil membakar
lilin milik ke-11 orang yang lain)
Karena begitu besar
kasih Allah akan dunia ini sehingga IA telah mengaruniakan anakNya yang
tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan
beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3: 16)
|
Sabtu, 21 November 2015
Hujan, pohon sepe, natal dan keluarga
Tik... Tik... Tik...
Itu hujan, hujan yang menyejukkan.
Hujan, merahnya pohon sepe, dan Natal.
Ah...
Jadi rindu suatu tempat.
Tempat karya-karya itu dimulai
Tempat permainan dapat berubah menjadi karya.
Akankah ada yang berbeda di Natal kali ini?
Sudah pasti ada!
Akan ada hal baru yang menenangkan
Tapi ada juga ruang kosong yang tak dapat ditutupi.
Ruang kosong itu disebut "keluarga"
Rabu, 18 November 2015
mengucap syukur untuk persahabatan kami
BEDA? TAK MASALAH!!!
Di penghujung tahun 2014 ini, tiba-tiba saya diingatkan kembali akan persahabatan saya dengan dua orang yang sekarang telah menjadi dua orang yang luar biasa. Perkenalan kami bermula ketika saya dinyatakan lulus di Universitas nusa cendana Kupang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan MIPA dsn Program study Fisika. Kami lebih senang menyebutnya KSF atau Kelompok Study Fisika. Persahabatan kami adalah persahabatan yang unik.
Ifan Selvia Sardjan adalah seorang gadis asal Ende- Flores yang beragama muslim, dia adalah seorang gadis berkaca mata minus 8, yang pintar dan rendah hati. Dia tidak seperti yang biasa diidentikkan dengan orang-orang kutu buku, yang berkaca mata tebal, pendiam dan tertutup, dia adalah seorang gadis yang ceria, sedikit cerewet (walalupun kadang-kadang sangat cerewet. Hahahahah), dan apa adanya. Yang satunya lagi bernama Teresia Tia, seorang gadis asal Maumera masih dalam daratan Flores yang Beragama Katolik, yang sungguh cerewet, berpenampilan modis dan juga berkaca mata, meskipun tak sampai minus 8 seperti punya Ifan. Dan satunya sudah pasti adalah saya, seorang gadis asal SoE, 100 KM dari Kota Kupang, yang juga berkaca mata minus, beragama Kristen Protestan.
Kami bertiga menjalin persahabatan seperti saudara, apapun yang kami jalani selalu bersama, baik itu berjalan kaki sepulang kampus, mengerjakan tugas, bercanda dan berbagi sepotong kue. Yang unik dari persahabatan kami adalah ketika kami akan makan bersama di kamar kos salah satu di antara kami, kami akan memegang piring masing-masing lalu sama-sama menundukkan kepala dan berdoa berdasarkan ajaran agama masing-masing. Tak ada satupun di antara kami yang merasa terganggu dengan itu, bahkan sehabis berdoa biasanya kami akan tertawa dan mensyukuri perbedaan kami.
Itulah persahabatan kami, persahabatan orang dari daerah yang berbeda, karakter yang berbeda, agama yang berbeda, satu-satunya persamaan kami adalah kami sama-sama berkaca mata.
saat ini kami telah terpisah jauh, kami sudah menekuni kesibukan masing-masing, tapi kami masih suka berbagi cerita tentang keadaan kami meski sangat jarang dan hanya melalui telpon atau kadang jika kebetulan berkunjung ke kupang kami berusaha menyempatkan diri untuk bertemu meski hanya sekedar berpelukan di pinggir jalan dengan cerita heboh hanya berkisar sepuluh menit, lalu berpisah. hahahha....
Piramida cinta
Cinta itu dapat digambarkan seperti piramida. Bagian paling bawah kelihatannya besar, cinta ini selalu menuntut pasangan untuk sempurna dan selalu memberikan semua yang terlihat mewah dan wah. tapi ketika ditanya "apa alasanmu mencintai saya?" Dia akan berkata "karena kamu cantik, ganteng, kamu special dan lainnya" cinta ini ada karena ketertarikan fisik. Pertanyaannya "apakah cinta itu akan tetap ada ketika waktu mulai merenggut kelebihan-kelebihan fisik? Ketika kita tak lagi secantik dan seganteng saat ini baik karena usia atau karena hal lain?
Yang kedua adalah bagian tengahnya. Terlihat besar juga, cinta ini selalu memberikan perhatian yang besar, selalu bersama setiap saat karena hanya berdekatanlah kenyamanan itu ada. ketika ditanya "mengapa kamu mencintai saya?" Dia akan berkata "karena kamu baik, kamu pengertian, dan lainnya" cinta ini didasarkan dari kelebihan yang dinilai secara emosi atau perasaan. Pertanyaannya "apakah cinta itu masih tetap ada ketika saat-saat tertentu pengertian itu dikalahkan emosi yang meluap karena keadaan? Apakah cinta itu tetap ada ketika salah satunya dengan pertimbangannya sendiri memilih untuk tidak mengerti dan berkompromi dengan keadaan yang lain?
Yang ketiga, terlihat kecil dan sederhana. Tak banyak menuntut, perhatiannya kadang tak terasa karena berangkat dari hal-hal sederahana, cinta ini tak harus selalu bersama, dalam keadaan apapun selalu ada pengertian yang datang dengan sendirinya. Ketika ditanya "mengapa kamu mencintai saya" dia akan berkata "saya tak tahu mengapa, yang saya tahu saya mencintai kamu apa adanya."
Itulah cinta, cinta yang berawal dari sebuah alasan bisa berakhir karena sebuah alasan pula, namun ketika semua terlihat sederhana dan bahkan hingga hampir tak beralasan, alasan apakah yang akan mengakhiri rasa cinta itu?