Rabu, 18 November 2015

mengucap syukur untuk persahabatan kami

tulisan ini sudah sungguh berdebu di dalam notebook saya, meskipun terlambat tak apalah jika diposting sekarang.


BEDA? TAK MASALAH!!!

Di penghujung tahun 2014 ini, tiba-tiba saya diingatkan kembali akan persahabatan saya dengan dua orang  yang sekarang telah menjadi dua orang yang luar biasa. Perkenalan kami bermula ketika saya dinyatakan lulus di Universitas nusa cendana Kupang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan MIPA dsn Program study Fisika. Kami lebih senang menyebutnya KSF atau Kelompok Study Fisika. Persahabatan kami adalah persahabatan yang unik.

Ifan Selvia Sardjan adalah seorang gadis asal Ende- Flores yang beragama muslim, dia adalah seorang gadis berkaca mata minus 8, yang pintar dan rendah hati. Dia tidak seperti yang biasa diidentikkan dengan orang-orang kutu buku, yang berkaca mata tebal, pendiam dan tertutup, dia adalah seorang gadis yang ceria, sedikit cerewet (walalupun kadang-kadang sangat cerewet. Hahahahah), dan apa adanya. Yang satunya lagi bernama Teresia Tia, seorang gadis asal Maumera masih dalam daratan Flores yang Beragama Katolik, yang sungguh cerewet, berpenampilan modis dan juga berkaca mata, meskipun tak sampai minus 8 seperti punya Ifan. Dan satunya sudah pasti adalah saya, seorang gadis asal SoE, 100 KM dari Kota Kupang, yang juga berkaca mata minus, beragama Kristen Protestan.

Kami bertiga menjalin persahabatan seperti saudara, apapun yang kami jalani selalu bersama, baik itu berjalan kaki sepulang kampus, mengerjakan tugas, bercanda dan berbagi sepotong kue. Yang unik dari persahabatan kami adalah ketika kami akan makan bersama di kamar kos salah satu di antara kami, kami akan memegang piring masing-masing lalu sama-sama menundukkan kepala dan berdoa berdasarkan ajaran agama masing-masing. Tak ada satupun di antara kami yang merasa terganggu dengan itu, bahkan sehabis berdoa biasanya kami akan tertawa dan mensyukuri perbedaan kami.

Itulah persahabatan kami, persahabatan  orang dari daerah yang berbeda, karakter yang berbeda, agama yang berbeda, satu-satunya persamaan kami adalah kami sama-sama berkaca mata.

saat ini kami telah terpisah jauh,  kami sudah menekuni kesibukan masing-masing, tapi kami masih suka berbagi cerita tentang keadaan kami meski sangat jarang dan hanya melalui telpon atau kadang jika kebetulan berkunjung ke kupang kami berusaha menyempatkan diri untuk bertemu meski hanya sekedar berpelukan di pinggir jalan dengan cerita heboh hanya berkisar sepuluh menit, lalu berpisah. hahahha....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar