Hari ini mereka bertanya tentangmu,
Maafkan aku yang mungkin menjadi begitu munafik karena tak pernah sanggup mengatakan yang sejujurnya pada mereka. Mungkin karena aku tak ingin mereka tahu atau juga mungkin karena aku masih merasa kau ada di sini, di sudut hati. Aku tak tahu apa yang pasti, tapi aku memilih berlaku apa adanya seolah tak ada sesuatu yang terjadi di antara kita, di dalam hati kita.
Aku tahu rasa benci saat ini sedang menguasai hatimu, yah, kamu sangat membenciku. Aku takakan memintamu untuk memaafkanku, karena aku tak suka sesuatu yang dipaksakan, aku hanya ingin kau biarkan saja semuanya brrjalan apa adanya.
Ini inginmu sejak lama kan? Meninggalkanku dan mencari bahagiamu sendiri? Seharusnya aku menyadarinya sejak lama, tapi rasa cintaku ternyata menutup mataku dan tak menyadari ketidaknyamananmu. Aku terus mencinta sedang kamu terus tersiksa.
Aku seorang yang terlalu memaksa! Itu katamu. Mungkin benar, tapi apakah salah jika aku ingin menyadarkanmu kalau kamu bisa menjadi lebih baik dari keadaanmu selama ini, kamu harus berusaha mengasah potensi dalam dirimu?
Mungkin benar aku terlalu memaksamu untuk melakikan apa yang tak kau inginkan, tapi apakah salah jika aku yang selalu menatapmu ini menemukan sebuah potensi tersembunyi dalam dirimu dan memintamu untuk mencobanya?
Mungkin benar aku terlalu berlebihan, tapi apakah sebuah kesalahan ketika aku ingin mendorongmu keluar dari zona nyamanmu dan menolongmu menemukan jati dirimu?
Ah... aku memang akan selalu salah di depanmu. Di matamu aku hanyalah benalu yang selalu salah, selalu ingin kau lenyapkan.
Saat inidi saat kau sudah memutuskan pergi jauh dariku, aku tahu kamu pasti telah bahagia karena terlepas dariku, aku sakit ketika mengingatmu, tapi aku tak ingin membencimu. Aku merasa ingin menangis ketika merindukanmu, tapi aku menepisnya. Aku harus terus melanglah, dengan atau tanpa dirimu.
Minggu, 19 Februari 2017
Dengan atau tanpa dirimu
Selasa, 14 Februari 2017
Sebuah usaha melupakan
Malam ini, aku merasa benar-benar merindukanmu yang jauh di sana. Maafkan aku yang tak pernah bias selalu ada di sampingmu. Hal ini mungkin saja bahkan memang membuatmu benar- benar merasa bahwa kita memang diciptakan bukan untuk bersama.
Maafkan aku yang lebih memilih untuk menghindarimu, karena aku menyadari kalau kamu memang akan lebih baik tanpa diriku yang tak pernah bias selalu berasa di sampingmu. Sejujurnya bukan karena tak ingin, dalam hatiku, aku selalu ingi berada di sampingmu, menemanimu menjalani harimu, namum kenyataan berkata lain, kita memang tak dapat bersama.
Kadang kala di saat kita bersamapun harus aku akui kamu seolah berada di ujung jurang yang dalam yang tak mampu aku salami, kamu tetap menjadi pribadi yang tak mampu aku menegrti arena ketertutupanmu. Seringkali aku berusaha memahamimu, tapi tetap tak mampu. Kamu tetap ada di sana bersama dirimu yang lain dan aku di sini bersama rasa saying dan rasa ingin tahu ku akan dirimu.
Aku memang bukan orang yang sempurna yang akan selalu kamu banggakan pada sekelilingmu, tapi aku punya cinta yang selalu ada untukmu. Awalnya aku berpikir itu cukup untuk meyakinkanmu, namun nyatanya tidak. Kamu menginginkan aku menjadi sama seperti orang lain, kamu mencintai sisi orang lain dalam diriku, bukan apa adanya aku.
Sesungguhnya aku pernah mencoba menjadi seperti yang kau inginkan, tapi apa artinya cinta jika itu hanya karena kamu melihat aku sebagai orang yang kau inginkan tanpa keinginan untuk melihat diriku apa adanya? Perlahan-lahan aku menjadi sadar, bukan aku yang kau cintai. Aku hanya seseorang yang selalu ada saat kau butuhkan bukan seseorang yang kau inginkan untuk benar-benar ada dalam hidupmu. Aku hanyalah seseorang yang selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu tanpa pernah kau harapkan.
Dan kini, aku merasa benar-benar ingin pergi dari hidupmu meski hati kecilku mengatakan hal sebaliknya. Akhirnya aku mengakui cinta tak harus memiliki. Kamu memang tak bisa aku miliki, karena aku hanyalah bayang gelap yang selalu menghantuimu.
Kini aku pergi, maafkan aku karena sudah tak mampu lagi bertahan di sisimu, tapi aku yakin kamu tahu alasannya karena aku ingin kamu bahagia meski tak bersamaku.
Rabu, 08 Februari 2017
Seribu maaf untukmu
Seribu maafku untukmu,
Dengan terpaksa luka itu tetap menganga,
Merengkuh dalam ringkihnya tubuh,
Membiarkan sakit itu menjadi biasa.
Seribu maafku untukmu,
Menyakitimu meski akulah yang paling terluka.
Mengepalkan tinju hanya karena dada ini mulai sekeras batu.
Meninju, memukul dan menampar,
Tapi tak dapat membalut luka hati.
Seribu maafku untukmu,
Yang hanya menyisakan luka dalam hidupmu.
Kau mungkin tak pernah tahu betapa aku tak pernah ingin melukaimu.
Seribu maaf untukmu,
Yang selalu ingin kupeluk dan kubahagiakan,
Meski dalam nyatamu, aku hanyalah sebuah penyakit.
Seribu maaf untukmu,
Yang selalu ada dalam doaku,
Walau bagimu aku hanyalah sebakul beban yang ingin segera kau hempaskan.
Seribu maaf untukmu,
Yang selalu kubanggakan pada dunia dan Tuhan,
Meski untukmu aku hanya sosok yang selalu ingin kau tutupi dan kau ingkari.
Seribu maaf untukmu
Yang tak pernah sanggup dan takkan pernah lagi ada di hidupku.
Maaf karena cintaku tak mampu membuatmu bangga dan bahagia.
Seribu maaf untukmu.
Jumat, 03 Februari 2017
Hawa
Seorang Hawa laksana karang
Tegar memahami arti hidup.
Berani menerjang badai
Untuk menatap keindahan busur penuh warna di angkasa
Dia...
Hawa penolong sang Adam
Dia...
Hawa tempat teduh penuh kasih
Penuh kèlembutan tapi tak lemah
Tak pernah berpangku tangan
Jemarinya selalu rindu untuk menari
Mencipta karyanya.
Tak nyaman bersila kaki
Terus melangkah menjemput senja.
Menyerah
Apakah ini yg dinamakan menyerah?
Merasa tak mampu lagi untuk terbang,
Bukan karena tak ingin
Tapi karena berhenti adalah jalan terbaik. Bagaimana mungkin kita dapat terbang bersama ketika sayapmu mulai merasa terbebani?
Biarkan saja kita menepi,
Biarkan kita turun ke bawah sana,
Kita memang tak dapat terbang bersama.
Biarkan aku melanjutkan hidupku dengan satu sayapku yg hampir patah.