Selasa, 23 Mei 2023

Refleksi kegiatan Membaca Alkitab dengan Mata Baru (MAdMB), 22-23 Mei 2023 di GKS Waibakul

"Membaca Alkitab dengan Mata Baru"
Saya pernah mendengar tentang  metode ini tapi tidak benar-benar tahu seperti apa sebenarnya metode ini. Sempat mengikuti workshop online pada tahun 2021 tapi tidak dapat mengikuti hingga selesai.  Beberapa waktu lalu ketika saya dihubungi oleh kaka pdt. Fitria dan menanyakan kesediaan mengikuti workshop tanpa berpikir panjang saya langsung mengiyakan. Dan ternyata kesediaan saya benar-benar memberi sesuatu yang baru bagi diri saya.
Membaca Alkitab dengan Mata Baru benar-benar memberikan saya pemahaman yang baru tentang menafsirkan beberapa teks Alkitab. Contoh: Markus 5 :21-43 sudah sering saya khotbahkan dalam ibadah, namum selama ini saya membacanya hanya sebatas ada iman perorangan dan iman keluarga yang memulihkan dan memberi kehidupan yang baru, tanpa ada kecurigaan sedikitpun tentang apa sebenarnya yang terselubung di balik teks tersebut. Adakah pengaruh struktur sosial di sana? Adakah diskriminasi di sana? 
Melalui MAdMB ini saya akhirnya melihat bahwa tak sesederhana itu untuk menafsirkan sebuah teks, saya belajar untuk jujur bahwa Alkitab yang kita baca ini punya konteks yang harus dengan hati,-hati kita melihatnya dan menafsirkannya agar jangan disalahgunakan untuk kepentingan tertentu, dan juga melihat teks tidak hanya sebatas yang tercatat namun, melihat lebih dalam dan menemukan sesuatu yang terselubung di dalamnya. 
Saya pun belajar untuk lebih berpihak kepada korban, bahkan harus berani mendampingi korban, berani menerobos kebiasaan selama ini yang malah kadang-kadang menjadikan korban sebagai pelaku. Saya belajar untuk mendorong korban untuk berani berbicara menyuarakan keadilan bagi dirinya sama seperti Tamar (Kejadian 38:1-30). 
Secara umum melalui MAdMB ini saya telah belajar bagaimana melihat beberapa teks Alkitab dengan lebih dalam, belajar melihat konteks jemaat dengan lebih tajam dan berani melihat kedua hal ini dengan berhati-hari agar bisa lebih berpihak kepada korban bukan sebaliknya. 
Saya menjadi sadar  bahwa mendampingi korban bukan tugas orang lain atau lembaga lain, ini adalah tugas saya.  
Terima kasih untuk BPD Peruati Sumba, narasumber dan semua pihak yang mendukung pelaksanaan kegiatan ini. Sungguh luar biasa. Tuhan memberkati




NB:Catatan ini saya buat sambil menggoreng kue pisang yang juga mengajarkan saya bahwa membuat perubahan mungkin tidak gampang, harus berani mengupas kulitnya, mengambil isinya yang harus diolah, lalu proses olahnya pun tidak gampang, ada hawa panas, sedikit terkena percikan minyak panas dan memakan waktu yang lama, tapi hasilnya baik.
Menyuarakan kebenaran, berpihak kepada korban mungkin akan melewati proses yang rumit namum hasilnya pasti akan baik. 😂😂😂😂

Jumat, 14 April 2023

Mazmur 23

Mazmur 23: 1-6
Tuhan, gembalaku yang baik

 Ada seorang gembala yang setia mengembalakan domba-dombanya saat menggembalakan domba-dombanya dia melihat bahwa ada satu ekor domba yang suka sekali keluar dari gerombolan domba yang lain, sebagai gembala yang baik dia selalu berusaha untuk mengejar, menggiring satu ekor domba itu untuk kembali masuk dalam gerombolan domba lain. Karena sudah merasa kelelahan dia pun mengeluh kepada Tuhan "Tuhan, apa yang harus saya lakukan untuk satu ekor domba ini?" Tuhan pun menjawabnya "patahkan kakinya" sang gembala menjawab "ah.. Bagaimana bisa begitu Tuhan?"
Selang beberapa hari lagi, karena domba tersebut masih saja melakukan hal yang sama maka gembala ini bertanya lagi pada Tuhan "Tuhan, apa yang harus saya lakukan?" Tuhan menjawab "patahkan kakinya?" sekali lagi sang gembala menjawab "ah Tuhan, bagaimana bisa begitu Tuhan?"
Tak lama setelah itu hal yang sama terjadi lagi, akhirnya sang gembala mengikuti apa yang dikatakan Tuhan, dia mengambil tongkat yang ada di tangannya lalu memukul kaki domba tersebut hingga kakinya patah. Setelah domba itu mengalami cidera, setiap hari gembala itu selalu merawat domba tersebut, ketika di padang domba tersebut selalu digendong, lukanya dirawat dengan baik hingga akhirnya sembuh. Setelah sembuh ternyata domba itu tidak lagi suka berlari keluar dari rombongan domba yang lain, malah domba tersebut selalu berada di samping gembala.
 Latar belakang Daud sebelum menjadi raja adalah seorang gembala, Daud paham betul apa tugas dari seorang gembala, bagaimana perasaan seorang gembala ketika menggembalakan domba-dombanya. Ketika Daud merasa begitu sendiri seolah-olah Allah meninggalkan dia sendiri menghadapi begitu banyak musuh, seperti yang tertulis dalam pasal sebelumnya, Daud merenung dan dia sadar bahwa Allah sebenarnya tidak sedang meninggalkan dia, malah Allah bertindak sebagai gembala yang baik baginya. 
 Daud meyakini bahwa Tuhan adalah seorang gembala yang selalu ada baginya dalam segala keberadaannya. Daud menyakini bahwa sebagai gembala yang baik Tuhan akan selalu mencukupkan segala kebutuhnnya, akan memberikan ketenangan jiwa baginya, akan menuntun jalannya, memberikan keberanian baginya untuk menjalani kehidupannya meskipun dalam masa kelam, yang selalu membelanya dihadapan para lawannya dan memberikan pengurapan ilahi padanya. 
 Tuhan yang Daud percayai adalah Tuhan yang sama seperti yang kita percayai selama ini,Ttuhan yang sama pula yang akan menjadi gembala yang baik bagi kita. Yakin dan percaya bahwa:


1. Tuhan akan selalu mencukupkan segala kekurangan kita. Ingat! Tuhan mencukupkan kekurangan, kebutuhan kita bukan keinginan kita. Kita harus belajar membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan keinginan agar tidak merasa kecewa lalu menganggap Tuhan tidak peduli pada kita. 
2. Tuhan akan memberikan ketenangan jiwa bagi orang yang berharap padanya, yang mau untuk dibimbing oleh Tuhan, dan juga orang yang mau dituntun oleh Tuhan akan melihat kebenaran. Ada dua kata kunci di sini, yatitu "membimbing dan menuntun" kedua kata ini adalah kata kerja pasif, tetapi membimbing dan menuntun ini kan menjadi kata kerja aktif ketika domba- domba mau untuk "dibimbing dan dituntun" ada respon dari domba terhadap tuntunan dan bimbingan Tuhan. Tidak serta merta karena Tuhan adalah gembala yang baik lalu manusia sebagai domba hanya pasif tanpa memberi respon terhadap tuntunan dan bimbingan Tuhan. 
3. Dalam hidupmanusia sudah pasti tidak akan selalu baik- baik saja, ada saatnya manusia akan berjallan di padang berumput hijau tapi kdangkala manusia akan berjalan di dalam lembah kekelaman.. Yakin dan percaya bahwa dalam keadaan apapun tuhan tidak pernah meninggalkan kita manusia. Selalu ada kekuatan dan penghiburan bagi kita ketika kita ada dalam lembah keeaman. 
4. Tuhan akan selalu hadir sebagai membela dan pelindung dalam setiap laangkah kehidupan kita, bahkan di hadapan lawan-lawaan kita.
5. Ada penguraan Allah dalam hidup kita, pengurapan Allah akan membuat kita menjadi pribadi yang diberkati dalam hidup kita. 
6. Terkadang mungkin kitaa merasa Tuhan jauh dri kita, terkadang ungkin kita merasa apa yang kita alami teralu keras, tidak sesuai dengan yang kita harapkan, mungkin saja iitu cara tuhn untuk mmbuat kehidupan kita menajdi lebih baik, yakin dan prcya bahwa ketika kta merasakan sakit, saat itu tuhah sementara menggndong kita.
             Nats pembimbing tadi mengatakan Tuhan adalah gembala yang baik yang mengenal setiap dombaNYA, kita sebagai dombapun harus mengenal Tuhan selaku gembala kita dengan baik. Kita berlaku sebagai domba yang mengenal dan tidak mau jauh- jauh dari gembala kita. Amin