Ada kerinduan seorang Hawa di sini, di sudut taman ini
Untuk sosok Adamnya di belahan lain dari tanah ini.
Ketakutan akan dosa
Keinginan untuk tetap ada dalam larangan Sang Pencipta
Mengharuskan mereka berada dalam sebuah penantian.
Penantian untuk sebuah ikatan tanpa dosa.
Ah...
Mengapa kerinduan begitu menyiksa?
Mengapa kerinduan harus tertunda meski cinta tak ingin menunggu?
Cinta itu memang suci.
Kerinduan itu sakral.
Dan,
Pertemuan itu kudus untuk mereka sang pemilik kesucian cinta
Jumat, 26 Februari 2016
Kerinduan seorang Hawa
Selasa, 23 Februari 2016
Bercerita pada malam
Malam
Mari kita bercerita
Cerita tentang kerinduan yang belum tuntas di peraduannya.
Berharap mimpi mampu menebus sedikit rindu dalam pelukan bulan
Senin, 22 Februari 2016
Rindu
Berkubang dalam rindu
Karena tak mampu berenang keluar.
Terus menikmati rindu ini
Meski tak seindah pertemuan.
Kamis, 18 Februari 2016
Malam
Malam...
Adakah rindu yang tersesat di sisimu?
Ataukah siang memang tak memberi sedikitpun kenangan untuk kau impikan?
Selasa, 09 Februari 2016
Diam tak selamanya emas
Bertanya di dalam diam,
Membiarkan semua tetap menjadi tanda tanya meski hati terus gelisah dalam senyuman
Jika memang diam menjadi sebuah jawaban,
Tak takutkah jika kesalahpahaman mengisi sisi hati?
Diam tak selamanya emas.
Diam kadang menghancurkan.
Aku tak ingin bising tapi aku juga tak suka dengan diam.
Aku hanya butuh sebuah kepastian antara hati dan logika.
Aku hanya butuh pengertian tentang makna sebenarnya dari ikatan yang selama ini di atas namakan cinta.
Tak mudah untuk melangkah...
Bukan karena kaki ini terlalu lelah
Tapi karena tak tahu ke mana kaki ini harus dilangkahkan.
Seperti kehilangan kompas,
Ingin bertanyapun tak mampu.
Lalu harus kemanakah kaki ini melangkah?
Tersandung tapi tak ingin terjatuh
Tertidur tapi tak ingin terlelap.
Seolah menanti sebuah keajaiban yang mengantarkan kaki ini pada langkah sebenarnya.
Jumat, 05 Februari 2016
Hujan menangislah untukku
Siang berubah menjadi pekat...
Bukan karena matahari telah lelah bersinar, tapi karena kabut ini seolah ingin orang-orang tahu keberadaannya. Seorang perempuan duduk sendiri di emper rumahnya, tatapannya terlihat kosong, dia tak terlihat sedang mengagumi karya alam yang pekat ini, dia sementara berada dalam pekat itu.
Dalam kepalanya menari-nari beribu pertanyaan, yang semakin ditanya semakin menyesakkan dada.
Salahkah jika dia mencinta?
Salahkan jika cemburu itu ada?
Salahkan jika dia berkata jujur?
Bukankah cemburu itu tanda betapa dia takut akan sebuah kehilangan?
Tapi mengapa berakhir pembelaan diri yang seolah menyudutkannya dan berakhir pertengkaran tanpa cinta lagi?
Lelakinya menjadi dingin sedingin udara saat itu. Lelaki yang selalu memberinya pelukan hangat menjadi sosok tak dikenalnya.
Apakah cinta harus menyakitkan dengan diam seperti ini?
Apakah kecemburuannya harus berakhir dingin seperti ini?
Sebenarnya dia adalah perempuan bijak yang tak pernah ingin dibutakan cemburu, tapi kali ini dia harus mengutarakannya karena dia adalah perempuan si pemilik firasat. Karena dia adalah perempuan pemilik doa yang selalu mendoakan lelakinya, dan dia adalah perempuan yang tahu bahwa ada sesuatu yang tersembuyi di balik hati lelakinya.
Sesaat dia ingin menangis, tapi dia bukan seorang yang gampang menitikkan ait mata.
Akhirnya dia hanya memohon "hujan menangislah untukku"