Siang berubah menjadi pekat...
Bukan karena matahari telah lelah bersinar, tapi karena kabut ini seolah ingin orang-orang tahu keberadaannya. Seorang perempuan duduk sendiri di emper rumahnya, tatapannya terlihat kosong, dia tak terlihat sedang mengagumi karya alam yang pekat ini, dia sementara berada dalam pekat itu.
Dalam kepalanya menari-nari beribu pertanyaan, yang semakin ditanya semakin menyesakkan dada.
Salahkah jika dia mencinta?
Salahkan jika cemburu itu ada?
Salahkan jika dia berkata jujur?
Bukankah cemburu itu tanda betapa dia takut akan sebuah kehilangan?
Tapi mengapa berakhir pembelaan diri yang seolah menyudutkannya dan berakhir pertengkaran tanpa cinta lagi?
Lelakinya menjadi dingin sedingin udara saat itu. Lelaki yang selalu memberinya pelukan hangat menjadi sosok tak dikenalnya.
Apakah cinta harus menyakitkan dengan diam seperti ini?
Apakah kecemburuannya harus berakhir dingin seperti ini?
Sebenarnya dia adalah perempuan bijak yang tak pernah ingin dibutakan cemburu, tapi kali ini dia harus mengutarakannya karena dia adalah perempuan si pemilik firasat. Karena dia adalah perempuan pemilik doa yang selalu mendoakan lelakinya, dan dia adalah perempuan yang tahu bahwa ada sesuatu yang tersembuyi di balik hati lelakinya.
Sesaat dia ingin menangis, tapi dia bukan seorang yang gampang menitikkan ait mata.
Akhirnya dia hanya memohon "hujan menangislah untukku"
Jumat, 05 Februari 2016
Hujan menangislah untukku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar