Seumpamanya tanaman maka di sinilah benihnya ditanam.
Sebuah benih pohon tidak pernah memilih di mana ia ingin ditanam, dia hanya bisa diam dan menanti di mana sang pemilik menanam.
Sang pemilik sudah pasti tahu di mana tempat yang tepat untuk tanamannya itu. Dia sangat tahu dan sudah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan baik sebelum menanam.
Dia tahu bahwa tak semua tanaman akan tumbuh subur dan kuat di tanah yang empuk. Dia sungguh tahu kalau sebuah pohon yang kokoh harus bertumbuh di antara gesekan-gesekan karang yang akan memperkokoh akarnya.
Bukan sebuah lahan yang nyaman, bukan sebuah tempat yang penuh cinta khayalan seorang kanak-kanak,
Tapi penuh tantangan yang menggiurkan untuk dilawan dengan pemberontakan.
Tapi itu bukan cara terbaik.
Tantangan yang kadang ditertawai dalam senggukan tertahan.
Ini bukan tantangan besar sebenarnya,
Ini hanya sebuah tantangan "menjengkelkan".
Ketika sekelilingnya sementara tertawa penuh cinta, dia harus tersenyum tertahan karena kebingungan. Ingin ikut tertawa namun kala itu tawanya dianggap "dosa"
Dunia jadi begitu sempit baginya yang selalu merasa nyaman dalam keterbukaan.
Dunia serasa benar-benar sekecil daun kelor. Hahaha.. sempit sekali baginya penikmat hiking.
Sebuah garis darah ternyata membatasi dirinya dari dunia penuh cinta dan ketulusan.
Segaris darah yang kadang ingin dia kutuk.
Setitik darah ternyata mampu menggeser posisinya yang selalu terbang bebas kembali ke dalam dirinya dan hampir mengunci diri dalam sesuatu yang tak dapat digambarkan karena terlalu rumit diungkapkan.
Tapi...
Akhirnya dia sadar...
Akhirnya dia merasa ada perubahan dalam dirinya.
Akarnya yang dulu lemah, kini dirasa lebih kuat karena gesekan "menjengkelkan" itu.
Kini dia tahu bahwa dia memang harus menjadi pohon yang memberi keteduhan bagi sekelilingnya, bukam untuk mempercantik diri seperti sebuah bunga. Dirinya adalah pohon, tak peduli sekuat apa dia berusaha menghadapi setiap gesekan dan terpaan angin, dia harus siap dibentuk agar mampu memberi keteduhan.
Terima kasih kamu gesekan "menjengkelkan" tanpa kamu dia tidak sekokoh ini.
Terima kasih sisi lain pemberi cinta, kalian memberi satu harapan bahwa di dunia masih ada cinta tanpa keegoisan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar