Ombak terus berkejaran menggapai pantai
Dua anak kecil terlihat asyik mempermainkan jemari mereka
Dia atas gundukan pasir karya mereka
Mungkin ingin membuat istana
Namun tak mirip istana.
Mungkin juga ingin membentuk gunung,
Gunung yang miring seperti menara pizza.
Dan aku di sini,
Di samping seorang lelaki
Kami sama- sama terdiam.
Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tak ada satu katapun terucap,
Selain mata yang memandang lurus ke depan
Seolah menghitung berapa baris ombak yang sementara berkejaran itu.
Dia lelakiku
Lelaki yang telah menemaniku lebih dari 1000 hari.
Kami sama-sama terdiam
Kami hanya ingin memastika bahwa jarak itu telah mampu kami hapus,
hari ini, di sini dan saat ini kami benar- benar duduk berdampingan tanpa ada jarak yang berarti kerinduan.
Teriakan orang-orang di sekeliling kami, entah teriakan apa itu,
Mampu mengalihkan perhatian kami
Dan kami pun kembali tersadar,
Saat ini, kami berdua sedang duduk bersama.
Ternyata jarak itu tak jahat,
Dia hanya memberi kami waktu untuk benar-benar menghargai setiap kebersamaan kami.
Kebersamaan yang masih harus kamo cicil sedikit demi sedikit
Demi sebuah kebersamaan hingga akhir hayat.
Jumat, 18 Desember 2015
Kami dan jarak yang ternyata tak jahat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar