Selasa, 13 Desember 2016

Di sana

Menatap dalam nanar,
Memicingkan mata menyusuri berkas cahaya.
Di sana,
Keegoisan merajai.
Adalah kesia-siaan jika ingin menyadarkannya.
Bagaimana dapat?
Khotbah kitab suci seakan menjadi tameng yang selalu dipakai membentengi diri.
Di sana,
Tangan memang tak selalu meninju,
Tapi hati selalu merana.
Dia ingin dimengerti, namun dituntut untuk hanya mengerti.
Dia ingin dibelai, tapi selalu dibiarkan menjadi penolong yang bekerja keras.
Dia mulai mempertanyakan cinta pada awal kisah itu.
Cinta yang dirasa memabukkan hingga tak menyiratkan sedikitpun keraguan untuk mengucapkan janji sakral itu.
Apakah masih ada cinta ketika yang dirasakan hanya kehampaan dalam ketiadaan?
Ketika yang dirasakan hanya kebingungan berujung kesedihan terpendam?

Selasa, 29 November 2016

Untuk lelakiku

Untuk lelaki terkasih,
Aku mencintaimu dengan ketulusan,
Bukan karena kamu sering mengantarku,
Karna kamu bukan tukang ojek.
Tapi mengapa kamu memperlakukanku seperti mesin cuci?
Aku mengagumimu karna cinta,
Bukan krn kamu yg kekar,
Tapi mengapa aku merasa seperti seorang koki merangkap baby sitter?
Aku menyukai sikap kerja kerasmu, tapi aku benci kekerasanmu.
Aku menyukai tawamu, tapi bukan bentakanmu.
Tahukah kamu tentang ini semua?
Atau... Kamu terlalu asyik dengan duniamu?

Senin, 31 Oktober 2016

Pahlawan devisa!!!???

Berlari menghindari api,
Berteduh di bawah matahari.
Menghindari bisingnya kota,
Dan berteriak pada ributnya keegoisan.
Apa bedanya?
Dia hanya berlari,
Tanpa dilirik apalagi diperhatikan.
Dia hanya mampu berteriak,
Tapi, suaranya hanya seperti dengkur di tidur mereka,
Lenyap setelah mereka terjaga.
Dan ketika dia,
Ketika dia terjatuh dan mati,
Setelah dia benar-benar lelah berlari dan berteriak,
Hahaha...
Sebuah predikat pahlawan diberikan padanya,
Tapi namanya tak tercatat dalam buku pahlawan,
Makamnya pun jauh di dalam desa itu,
Bukan di antara makam para pahlawan.
Perlahan, terdengar tangisnya di balik kubur,
Jangan sebut aku pahlawan, karena kamu tak pernah tau dan tak pernah peduli dengan perjuanganku

Kurang-kunang

Kunang-kunang,
tolong jangan pergi,
Berikan aku sedikit saja cahayamu.
Aku hanya ingin melihat,
Di mana letak cinta itu

Sabtu, 29 Oktober 2016

Sekali saja

Sekali saja,
Tahan langkahku
Sekali saja,
Jangan biarkan aku pergi,
Sekali saja,
Katakan "jangan"
Karena aku takut,
Ketika aku pergi
Ternyata tak dapat kembali lagi.

Selasa, 25 Oktober 2016

Gelap, hitam dan rintik

Sendiri dalam gelap,
Rintik hujan menerpa wajah sayu,
Menyamarkan tangis yang bergulir,
Perlahan melembapkan wajah kusam.
Gelap, di tengah hutan kesimpangsiuran,
Menyesatkan logika menjadi rasa yang tak bernama.
Yang ada hanya gelap, hitam dan rintik.

Minggu, 09 Oktober 2016

Petir

Cahayanya membelah langit, memberi getar pada hati yang getir.
Gema memenuhi ruang kosong,
Membahana dalam kalbu yang menangis.

Menggambar bayang dalam gelap

Indra ini melonjak
Merasa, mendengar, mencium, menyentuh di dalam gelap.
Menjamah sebuah halusinasi,
Menggambar bayang dalam gelap.

Minggu, 25 September 2016

Cahaya di balik awan

Menerawang ke awan,
Adakah seberkas cahaya dibaliknya?
Ada ketakutan tentang sebuah kepastian,
Kepastian yang tertunda karena keegoisan.
Ah... mengapa ego begitu menyakiti?
Mengapa harga diri menjadi ukuran?
Kesimpang siuran karena kesalahpahaman,
Semua menjadi terlalu menyakiti,
Sakit di dalam bisu,
Karena bibir tak mampu lagi berkata

Sabtu, 10 September 2016

Malam yang diam

Biarkan saja malam menulis dalam diam,
karena tak selamanya kisah itu harus menembus kebisingan.
biarkan saja diam menjadi milik kita,
mungkin saja diam itu mampu memberi pengertian.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Pelangi

Mungkinkah pelangi itukan kembali hadir?
Memberi warna pada sebuah  keadaan kelam.
Hah... bukankah pelangi itu berwarna-warni?
Bukankah pelangi itu indah dalam perbedaan?
Tapi...
Mengapa perbedaan kita tak seindah pelangi?
mengapa perbedaan malah menciptakan jarak?

Jumat, 17 Juni 2016

Sepucuk surat buat mama

Halo wanita terhebat,
Apa kabarmu hari ini?
Saya mencintaimu melebihi apapun,
Saya mengagumimu melebihi semua karya seni termasyur di dunia ini.
Saya ingin menjadi sepertimu,
Seorang yang berhati lembut,
Seorang yang tegar,
Dan seorang yang mengagumkan dalam apa adanya kamu.
Maaf, karena aku tak bisa selalu ada di sisimu.
Kadang aku ingin berlari ke sana, ke tempatmu, karena aku tahu itulah satu-satunya tempat ternyaman di dunia ini,
Tapi keadaan ini tak pernah mengijinkan itu terjadi. Aku harus berada di sini dan kamu harus berada di sana.
Maaf juga karena kadang tidurmu menjadi terganggu karena megkhawatirkan aku,
Aku sangat baik-baik saja di sini. Jangan pernah khawatirkan putri kecilmu ini,
Putri kecilmu telah menjadi seorang wanita dewasa yang tegar, putri kecilmu telah menjadi sepertimu yang selalu kuat menghadapi dunia ini.
Dan semua itu karena kamu dan doa-doamu.

Selalu mencintai dan mengagumimu
Putrimu

Rabu, 15 Juni 2016

Hai kamu wanita tegar

Hai kamu,
Wanita tegar,
Angkat kepalamu,
Buka matamu,
Melangkahlah ke depan.
Jangan tahan langkahmu,
Jangan tutup matamu,
Pandanglah ke depan,
Berjalanlah,
Berlarilah,
Menarilah,
Nikmatilah hidupmu,
Karena itu adalah anugerahmu.

Sepotong hati

Sepotong hati menjadi serpihan penuh luka
Merintih di dalam senyum
Meraung di dalam tawa.
Sepotong hati telah begitu tersayat
Telah berubah menjadi potongan penuh luka.
Sepotong hati yang harus dibalut, tanpa tau harus ke mana

Kamis, 09 Juni 2016

Yang tak pernah kau ketahui tentang malam itu

Sebuah perjalanan yang panjang yang harus ku lakukan demi sebuah kebersamaan. Ternyata menjalani sebuah hubungan jarak jauh itu tak gampang, harus ada perjuangan luar biasa untuk merasakan kebersamaan.
Aku seorang virgo, seseorang yang sangat hebat dalam menyembunyikan suasana hati. Itulah sebabnya aku sangat mampu membendung keinginanku untuk memelukmu saat tiba di tempatmu. Aku menjadi seorang yang terlihat biasa saja saat bertemu denganmu, padahal dalam hati ada begitu banyak rindu yang melompat kegirangan.
Malam itu aku memintamu untuk pergi ke dermaga. Bukan karena aku suka tempat itu. Aku lebih menyukai pantai tanpa pembatas apapun yang terlihat membatasi ruang penglihatanku, aku ingin di dermaga karena di sana ada batas antara phobiaku dengan ketinggian dan keberanianku untuk mengatasinya.
Kamu tak pernah tahu mengapa malam itu aku ingin di sana, di dermaga itu. Bahkan sampai saat inipun kamu tak pernah tahu, karena kita tak lama berada di sana, kita di sana hanya dalam diam. Aku dengan kebingunganku memikirkan bagaimana caranya membicarakan semuanya tanpa dianggap bodoh olehmu dan tanpa membuatmu tersinggung, dan kamu dengan duniamu sendiri seolah aku tak ada di sana, kamu asyik dengan handphone mu, dan amarahmu karena menganggapku tak konsentrasi.
Kamu sangat cepat marah dan itu yang membuat saya terlihat tak konsentrasi mungkin juga kebingungan pada saat itu, aku sementra bergumul bagaimana caranya bisa membicarakan semuanya denganmu.
Sampai saat ini kamu tak tahu kalau di dalam saku jaket saya ada 2 buah balon yang sudah saya siapkan lama sekali, saya hanya ingin kita bersama meniup balon-balon itu dan meluapkan semua perasaan tak nyaman dalam hati kita melalui setiap hembusan nafas itu, meniupnya dengan kencang meski merasa ketakutan kalau-kalau balon itu akan pecah dan melukai kita, aku ingin kita meniupnya dengan kencang hingga pecah dan akhirnya kita tahu bahwa ketakutan ternyata tak semenakutkan yang kita bayangkan, apa yang kita takutkan tak mungkin benar-benar menyakiti kita atau mempengaruhi hidup kita. Malah kita akan merasakan kelegaan karena telah melewatinya. 
Kamu seorang yang pesimis, aku ingin kamu melakukan itu, tapi ternyata malam itu takdir tak memihak pada kita dan balon-balon itu.
Di sana aku juga ingin memintamu membimbing aku melangkah di atas batas dermaga yang sempit itu, melangkah sejauh mungkin agar aku tahu bahwa kita bisa mengatasi phobiaku, dan aku juga ingin kamu menutup matamu, melangkah saja kemana aku menuntunmu, mungkin hanya melintasi jembatan di samping kita, hanya supaya kamu tahu kalau aku tidak mungkin membimbingmu ke dalam sesuatu yang salah. Aku hanya ingin kamu percaya bahwa apapun yang aku katakan selama ini tak pernah bermaksud menyudutkan atau menyusahkanmu. Aku hanya minta kamu mempercayaiku samap seperti aku mempercayaimu melintasi dermaga itu dan mengatasi phobiaku.
Kamu tak pernah tahu ini semua karena malam itu kita akhiri dengan diam, dengan dingin seperti udara di malam itu.
Malam itu kita masih tetap bersama sebagai seorang Scorpio yang pesimis dan seorang Virgo yang oprimis.

Menyapa ruang

Halo ruang...
Bisakah kita berdamai untuk sejenak?
Biarkan rindu ini berlabuh
Karena sejujurnya telah lelah berlayar.
Hanya ingin melunasi sebuah rasa yang tak tertahan,
Sepotong rindu yang kian kokoh   

Langgaliru-Weetabula, 29 Mei 2016

Kamis, 26 Mei 2016

Ketika

Ketika Setiap langkah adalah ilusi
Apakah yang harus ku tuliskan pada daun?
Ketika setiap hembusan nafas adalah puisi,
Dengan tinta apakah dapat dicatat di awan?
Ketika pandangan menjadi fatamorgana,
Salahkan jika dipertanyakan?
Ketika nyata keabsahannya
Ketika itulah ilusi menjadi nyata, hembusan nafas menjadi kata, fatamorgana menjadi potret kehidupan.

Purnama

Purnama merekah,
Memberi ruang pada langit untuk bercahaya
Dengan tenang menerobos cumulus nimbus,
Memberi petunjuk pada arah yang hampir sesat

Maaf

Maaf untuk sebuah pengertian yang tertunda,
Sebuah kesadaran yang terlambat.
Maaf untuk pelukan yang jauh,
Sebuah belaian yang tak sampai.
Maaf untuk ruang yang tak mampu ku sulap,
Untuk jarak yang tak mampu ku potong.
Maaf untuk semuanya,
Maaf untuk maaf ini.

Selasa, 17 Mei 2016

Biarkan saja

Biarkan saja matahari itu berlalu
Karena setelah kelamnya malam
Pasti akan ada hari baru untukmu.
Biarkan saja kisah itu berlalu,
Akan ada kisah lain yang harus kamu lalui.
Jangan buang waktumu untuk meratapi kabut,
Menari saja dan hangatkan badanmu.
Semua yang terjadi bukan untuk ditangisi, tapi dilalui dengan ungkapan syukur karena pasti akan ada anugerah di balik apapun yang kamu alami.
Jadi, lanjutkan saja hidupmu. Buktikan pada dunia kalau kamu tidak selemah yang mereka bayangkan.

Tenggelamku

Tenggelam di dalam kabut,
Memeluk kehangatan dalam gertakan membeku.
Samar, sunyi, dingin...

Petualangan sang pembaca

Semakin tingi,
Semakin tenggelam.
Tak merasa sesak,
Hanya ada penasaran yg kian memuncak.
Semua partikel berkumpul
Menembusi portal
Mengelilingi batas logika.
Sebuah tanda tanya menggantung,
Inilah petualangan seorang pembaca.

Merindu dalam diam

Merindukan yang tak dirindukan. Tersesat dalam jejak kenangan. Tak ingin tetap diam tapi tak mampu melangkah!
Terdiam dalam bisu, menanti ego yang sedikit terkikis

Sabtu, 14 Mei 2016

Semua kembali sunyi

Semua kembali sunyi,
Sunyi di dalam diam,
Diam di dalam gelap,
Gelap di dalam kekosongan,
Kosong di dalam kehampaan,
Hampa di dalam sunyi,
Semua kembali sunyi!

Kamis, 12 Mei 2016

Melukis senja

Melukis senja dalam temaram pagi dan teriknya siang,
Memimpikan senja yang teduh dalam keindahan.
Biarkan saja pagi itu merekah dan siang menghanguskan kulit
Karna senja yang jingga menantimu

Jumat, 22 April 2016

Cinta itu

Berputar dalam kebingungan
Membuka mata hati
Berusaha menemukan jalan.
Hati kecil tak dapat menipu
Biarkan saja cinta menemukan jalannya sendiri
Yang pasti cinta itu tetap ada
Meski dalam perbedaan ruang dan waktu

Jumat, 15 April 2016

Piapak Kabukul

Berputar-putar dalam kepastian,
Sebuah kepastian tanpa kepastian.
Berputar searah, membentuk gumpalan bulat dalam genggaman.
Jemari tuanya tetap kokoh memindahkan setiap helai benang dari piapak kabukul menjadi sebuah gulungan benang, sambil bercerita tentang masa mudanya.
Malu-malu tapi berbinar,
Dia mulai mengisahkan kisah cinta sejatinya yang selalu memberi sebuah kepastian dan kebersamaan dari sebuah lingkaran hidup yang luas ini.
Dia berkata, hidup ini harus seperti piapak kabukul, berputar dari sebuah tatakan yang luas, berputar-putar membentuk sebuah bola kehidupan yang lebih kecil, lebih padat dan berguna. dari ruang lingkup yang luas, seolah tak berpegangan menjadi sebuah gulungan kecil yang padat, berhimpitan tapi erat, membentuk kebersamaan.
Kita belum bisa berdiri kokoh ketika masih bertahan dalam ego, kita akan menjadi kuat dan berguna ketika bersama dalam satu tujuan.

Selasa, 05 April 2016

Kerinduan cinta

Bersenandung di dalam kalbu
Melintasi cakrawala meski tak menggetarkan
Kerinduan beralaskan cinta
Cinta tak berjarak di dalam perbedaan ruang dan waktu

Senin, 14 Maret 2016

Cemburu

Aku cemburu
Karena aku mencinta
Aku mengakuinya.
Kamu,
Kamu seorang pencemburu
Yang menutup rasamu dengan amarah
Yang meledak-ledak.
Itulah persamaan dan perbedaan kita

Labirin Hati

Tersesat dalam labirin hati
Ada rindu, ada sayang, ada amarah, ada asa
Ingin kuruntuhkan tembok-tembok ini agar tak berujung sesat,
Namun aku takut rindu dan sayang ini ikut tertiup angin.
Biarkan saja kebingungan ini terus memaksaku tersesat
Karena cinta akan memberiku petunjuk

Minggu, 13 Maret 2016

Lari 2

Tersesat di dalam geram
Serasa ingin berlari
Namun kaki ini tak kuasa diseret
Tertunduk sendu di ruang sakral ini
Ingin mengadu pada Sang Ilahi.
Mungkin bukan sebuah pengaduan
Lebih mirip sebuah protes
Mengapa? Mengapa? Dan mengapa?
Sunyi...
Meski tak diam.
Hati ini terus bergejolak.
Menelusur setiap kenangan
Berharap ada ruang untuk melepaskan diri.
Namun...
Aku semakin tersesat
Semakin tak bisa berlari.

Lari

Mungkin dia telah benar-benar lelah berlari.
Dia bukan pelari yang unggul
Dan dia bukanlah seorang pelari.
Dia hanya ingin berlari agar dia benar-benar tahu batas kemampuannya.
Larinya bukanlah sebuah pelarian
Larinya adalah keputusan matang.
Tapi sayangnya larinya diartikan sebagai sebuah pelarian.
Kini dia memang ingin berhenti berlari
Bukan karena lelah
Bukan juga karena memang benar apa kata orang
Tapi karena dia tahu
Larinya tak berarti apa-apa lagi selain kelelahan.

Jumat, 26 Februari 2016

Kerinduan seorang Hawa

Ada kerinduan seorang Hawa di sini, di sudut taman ini
Untuk sosok Adamnya di belahan lain dari tanah ini.
Ketakutan akan dosa
Keinginan untuk tetap ada dalam larangan Sang Pencipta
Mengharuskan mereka berada dalam sebuah penantian.
Penantian untuk sebuah ikatan tanpa dosa.
Ah...
Mengapa kerinduan begitu menyiksa?
Mengapa kerinduan harus tertunda meski cinta tak ingin menunggu?
Cinta itu memang suci.
Kerinduan itu sakral.
Dan,
Pertemuan itu kudus untuk mereka sang pemilik kesucian cinta

Selasa, 23 Februari 2016

Bercerita pada malam

Malam
Mari kita bercerita
Cerita tentang kerinduan yang belum tuntas di peraduannya.
Berharap mimpi mampu menebus sedikit rindu dalam pelukan bulan

Senin, 22 Februari 2016

Rindu

Berkubang dalam rindu
Karena tak mampu berenang keluar.
Terus menikmati rindu ini
Meski tak seindah pertemuan.

Kamis, 18 Februari 2016

Malam

Malam...
Adakah rindu yang tersesat di sisimu?
Ataukah siang memang tak memberi sedikitpun kenangan untuk kau impikan?

Selasa, 09 Februari 2016

Diam tak selamanya emas

Bertanya di dalam diam,
Membiarkan semua tetap menjadi tanda tanya meski hati terus gelisah dalam senyuman
Jika memang diam menjadi sebuah jawaban,
Tak takutkah jika kesalahpahaman mengisi sisi hati?
Diam tak selamanya emas.
Diam kadang menghancurkan.
Aku tak ingin bising tapi aku juga tak suka dengan diam.
Aku hanya butuh sebuah kepastian antara hati dan logika.
Aku hanya butuh pengertian tentang makna sebenarnya dari ikatan yang selama ini di atas namakan cinta.
Tak mudah untuk melangkah...
Bukan karena kaki ini terlalu lelah
Tapi karena tak tahu ke mana kaki ini harus dilangkahkan.
Seperti kehilangan kompas,
Ingin bertanyapun tak mampu.
Lalu harus kemanakah kaki ini melangkah?
Tersandung tapi tak ingin terjatuh
Tertidur tapi tak ingin terlelap.
Seolah menanti sebuah keajaiban yang mengantarkan kaki ini pada langkah sebenarnya.

Jumat, 05 Februari 2016

Hujan menangislah untukku

Siang berubah menjadi pekat...
Bukan karena matahari telah lelah bersinar, tapi karena kabut ini seolah ingin orang-orang tahu keberadaannya. Seorang perempuan duduk sendiri di emper rumahnya, tatapannya terlihat kosong, dia tak terlihat sedang mengagumi karya alam yang pekat ini, dia sementara berada dalam pekat itu.
Dalam kepalanya menari-nari beribu pertanyaan, yang semakin ditanya semakin menyesakkan dada.
Salahkah jika dia mencinta?
Salahkan jika cemburu itu ada?
Salahkan jika dia berkata jujur?
Bukankah cemburu itu tanda betapa dia takut akan sebuah kehilangan?
Tapi mengapa berakhir pembelaan diri yang seolah menyudutkannya dan berakhir pertengkaran tanpa cinta lagi?
Lelakinya menjadi dingin sedingin udara saat itu. Lelaki yang selalu memberinya pelukan hangat menjadi sosok tak dikenalnya.
Apakah cinta harus menyakitkan dengan diam seperti ini?
Apakah kecemburuannya harus berakhir dingin seperti ini?
Sebenarnya dia adalah perempuan bijak yang tak pernah ingin dibutakan cemburu, tapi kali ini dia harus mengutarakannya karena dia adalah perempuan si pemilik firasat. Karena dia adalah perempuan pemilik doa yang selalu mendoakan lelakinya, dan dia adalah perempuan yang tahu bahwa ada sesuatu yang tersembuyi di balik hati lelakinya.
Sesaat dia ingin menangis, tapi dia bukan seorang yang gampang menitikkan ait mata.
Akhirnya dia hanya memohon "hujan menangislah untukku"

Senin, 04 Januari 2016

Gesekan "menjengkelkan" dan cinta tersembunyi

Seumpamanya tanaman maka di sinilah benihnya ditanam.
Sebuah benih pohon tidak pernah memilih di mana ia ingin ditanam, dia hanya bisa diam dan menanti di mana sang pemilik menanam.
Sang pemilik sudah pasti tahu di mana tempat yang tepat untuk tanamannya itu. Dia sangat tahu dan sudah mempertimbangkan segala sesuatunya dengan baik sebelum menanam.
Dia tahu bahwa tak semua tanaman akan tumbuh subur dan kuat di tanah yang empuk. Dia sungguh tahu kalau sebuah pohon yang kokoh harus bertumbuh di antara gesekan-gesekan karang yang akan memperkokoh akarnya.

Bukan sebuah lahan yang nyaman, bukan sebuah tempat yang penuh cinta khayalan seorang kanak-kanak,
Tapi penuh tantangan yang menggiurkan untuk dilawan dengan pemberontakan.
Tapi itu bukan cara terbaik.
Tantangan yang kadang ditertawai dalam senggukan tertahan.
Ini bukan tantangan besar sebenarnya,
Ini hanya sebuah tantangan "menjengkelkan".

Ketika sekelilingnya sementara tertawa penuh cinta, dia harus tersenyum tertahan karena kebingungan. Ingin ikut tertawa namun kala itu tawanya dianggap "dosa"

Dunia jadi begitu sempit baginya yang selalu merasa nyaman dalam keterbukaan.
Dunia serasa benar-benar sekecil daun kelor. Hahaha.. sempit sekali baginya penikmat hiking.

Sebuah garis darah ternyata membatasi dirinya dari dunia penuh cinta dan ketulusan.
Segaris darah yang kadang ingin dia kutuk.
Setitik darah ternyata mampu menggeser posisinya yang selalu terbang bebas kembali ke dalam dirinya dan hampir mengunci diri dalam sesuatu yang tak dapat digambarkan karena terlalu rumit diungkapkan.

Tapi...
Akhirnya dia sadar...
Akhirnya dia merasa ada perubahan dalam dirinya.
Akarnya yang dulu lemah, kini dirasa lebih kuat karena gesekan "menjengkelkan" itu.
Kini dia tahu bahwa dia memang harus menjadi pohon yang memberi keteduhan bagi sekelilingnya, bukam untuk mempercantik diri seperti sebuah bunga. Dirinya adalah pohon, tak peduli sekuat apa dia berusaha menghadapi setiap gesekan dan terpaan angin, dia harus siap dibentuk agar mampu memberi keteduhan.

Terima kasih kamu gesekan "menjengkelkan" tanpa kamu dia tidak sekokoh ini.
Terima kasih sisi lain pemberi cinta, kalian memberi satu harapan bahwa di dunia masih ada cinta tanpa keegoisan.