Menelusuri jejak kenangan
Bertanya pada dewa cinta
Adakah yang salah dengan cintaku?
Cinta yang hadir tanpa banyak kata,
Cinta yang menari indah meski terkadang kelam.
Cinta yang tak butuh alasan,
Hanya keyakinan akan sebuah anugerah.
Jumat, 25 April 2014
Cintaku
Kamis, 24 April 2014
Bintang jatuh
Hai kamu bintang jatuh
Bisakah kau kabulkan permintaanku?
Aku tak butuh uang
Aku tak butuh kekayaan
Aku hanya butuh cinta.
Cinta yang mendewasakan,
Cinta yang memberiku kekuatan untuk menjangkau dunia
Cinta yang tak bersembunyi di balik tembok keegoisan.
Bintang jatuh,
Bisa jugakah aku meminta
agar kau jaga sepotong hati di sana
Di sisi lain bumi ini.
Bisakah kau sampaikan padanya
Betapa kerinduan ini menyiksaku
Seperti sayatan pisau
Tapi mendebarkan memberi bias bahagia.
Bintang jatuh....
Bisakah kamu?
Cinta itu
Ada banyak kisah cinta yang tak dapat dipahami dengan logika. Kadang ada yang bertanya "mengapa laki-laki sehebat dia mamacari seorang perempuan biasa-biasa seperti itu?" Atau ada juga yang berkata "dia seorang perempuan yang pintar dan luar biasa mengapa mau menikahi seorang laki-laki yang biasa-biasa seperti itu?"
Itulah cinta. Selalu memilih orang yang tepat tanpa melihat kekurangan dan kelebihan karena hati itu dipilih bukan memilih.
Hanya orang-orang yang memahami cinta yang dapat mendeskripsikan cinta dengan tepat jika tidak cinta akan selalu disamakan dengan semua yang fana, padahal cinta itu abadi.
Cinta tidak pernah memilih di mana letaknya ia berlabuh, tapi cinta selalu berlabuh di tempat yang benar.
Cinta hanya perlu apresiasikan dan dipercayai kekuatannya.
Selasa, 22 April 2014
Dia
Berdoa di dalam diam
Menyebut sebuah nama tanpa sebuah rasa
Ini bukan tentang rasa
Tapi tentang asa
Ini hanya sebuah harapan akan sebuah perubahan untuk seorang pengelana dalam kesimpangsiurannya.
Ini juga hanya tentang kepedulian seorang lain
Yang memutuskan untuk menjadi bagian dari pengelana
Bersama menelusuri ketidakpastian
Dengan harapan menemukan tempat yang tepat.
Ini tentang seorang lain
Bukan ibu ataupun ayahnya
Yang merasa bertanghungjawab atas hidup sang pengelana.
Ini tentang seorang yang bukan saudara
Tapi ingin memahami dan mengasihinya.
Bertahan dalam merangkap figur
Hajya untuk sebuah pencapaian akan jati diri
Berusaha memahami
Hanya untuk menolong.
Berusaha tanpa mengenal lelah
Hanya untuk menghapus luka batinnya.
Tapi siapakah dia?
Dia hanya manusia biasa...
Dia bukan keluarganya...
Dia bukan orang yang melahirkannya...
Dia hanya seorang lain yang peduli.
Dia bukan malaikat tapi dia hanya ingin menolong sang pengelana.
Sang pencinta
Dalam hingar bingar dunia
Terselib sepotong hati yang sendiri
Tetap tertawa...
Tetap tersenyum...
Tetap bingar bersama dunianya
Namun juga tetap sendu dalam hatinya
Dia,
Seorang pencinta yang memilih tetap mencinta di dalam diam
Di dalam daerah abu-abu.
Dia,
Seorang pencinta yang akan terus mencinta dalam apa adanya dia
Minggu, 20 April 2014
Salah siapakah ini?
Bagi sebagian orang hidup yang baik itu adalah kehidupan jasmani yang tercukupi hingga melupakan kehidupan rohani. "Yang penting dia bisa makan" tanpa ingin tahu dari mana makanan itu berasal. "Yang penting dia bisa tidur" tanpa memikirkan dosa apa yang dilakukan saat tidur.
Menganggap remeh apa yang disebut "dosa" hanya karena ingin hidup baik. Menganggap biasa "dosa" itu hanya karena ingin dipuaskan nafsu sesaat.
Awalnya mungkin hanya karena merasa "butuh perhatian" atau mungkin hanya sebatas "pelarian" dari keadaan sekeliling. Tapi apakah itu sebuah alasan yang tepat?
Jika memang itu karena "butuh perhatian" masih ada sahabat-sahabat di sana yang akan memberi sebuah perhatian yang baik dan tulus.
Jika memang itu juga karena "pelarian" ada banyak hal lain yang baik yang dapat dijadikan pelarian.
Dan untuk sebagian orang yang merasa diri lebih baik menganggap takkan pernah ada sebuah masa depan yang baik bagi seorang "pendosa" dia akan tetap dalam kungkungan dosanya. Atau mungkin ada juga yang tak peduli akan dosanya karena merasa najis membicarakannya.
Kapan akan ada perubahan yang berarti ketika yang satu merasa sudah tak pantas untuk berubah dan yanga lain merasa jijik untuk mengasihinya?
Sabtu, 19 April 2014
Aku
Aku tak butuh bingar,
Aku butuh keheningan.
Aku tak ingin berpikir,
Aku hanya ingin berefleksi.
Aku tak mau sendiri,
Tapi aku mau kesunyian.
Rabu, 16 April 2014
Jika
Jika rindu itu hadir
Jangan kau ingkari jalannya
Biarkan saja ia mengalir seperti terjunan air,
Biarkan dia menemukan sendiri tempatnya berlabuh.
Bukti kasih Allah
Matahari bersembunyi di balik awan.
Seakan turut berduka melihat tetesan darah dari serangkaian duri membentuk mahkota.
Duka nestapa menyelubungi bumi
Sunyi...
Berduka...
Terdiam mendengar hembusan nafas terakhir sang penebus.
Tangis memecah sukma
Bersama gelapnya alam tanda duka.
Eli... Eli lama sabah tani...
Allahku... Allahku mengapa Engkau meninggalkan aku?
Kesendirian...
Keterpisahan dengan Allah...
Lukanya menyatukan
Darahnya mempererat...
Hembusan nafas terakhirnya membuka awal baru.
Kasihnya mengampuni...
Merangkak menuju salibMu...
Membiarkan keberdosaan ini disucikan darah kudusMu...
Menyentuh kaki salibMu
Membebaskan kalbu yg suram.
Minggu, 13 April 2014
Bercerita dengan Tuhan
Pagi ini aku bercerita dengan Tuhan. Sepertinya sudah sangat lama tak pernah seperti ini. Aku terlalu sibuk dengan kehidupanku, terlalu sibuk dengan apa yang aku sendiri tak mengerti apa itu tapi terus aku jalani karena itu yang harus kujalani.
Pagi ini aku berkata pada Tuhan
"Tuhan... aku merasa begitu jauh dariMu"
Tuhan menjawab aku
"Aku tidak pernah kemana-mana, Aku di sini setia manatapmu dan menunggu kapan kamu mau menatapKu juga"
Aku kembali berkata
"Aku menatapMu Bapa"
Tuhan menjawab
"Tatapanmu kosong... tak bermakna"
Aku tertegun
Tuhan kembali berkata
"Doa-doamu pun terdengar biasa... kamu seolah tak berdaya. Aku menunggu kapan kamu akan bercerita tapi kamu terlihat begitu sibuk"
Aku mulai menangis. Aku sadar sudah sangat lama keadaan ini berlangsung. Aku benar-benar merasa sendiri, merasa tersesat tapi tak memutuskan untuk bercerita pada Tuhan, aku lebih memilih menggunakan kemampuanku saja.
Akhirnya hari ini, aku kembali bercerita dengan Tuhan...
Sabtu, 12 April 2014
Kerinduan ini
Seperti seorang misafir yang tersesat
Terus melangkahkan kaki tanpa arah
Berharap penuh pada kekuatan alam
Untuk menemukan jalan
Seperti seorang pendosa
Yang menangis memohon ampunan sang Pencipta
Terus menangis
Mengharapkan kelegaan
Seperti di padang gurun
Kering...
Gersang...
Sendiri...
Terus melangkah mencari pelepas dahaga.
Seperti seorang anak
Merindukan pelukan hangat
Memberi arti cinta dengan cara sederhana.
Seperti....
Seperti...
Dan seperti...
Seperti itu kerinduan ini.
Jumat, 11 April 2014
Hujan... Menangislah untukku
Hujan...
Menangislah untukku
biar dunia tahu seberapa besar dan lama luka ini menganga.
Biar dunia tahu seberapa sendu hati ini menangis tanpa air mata.
Hujan...
Menangislah untukku
Agar tetesan airmu mampu menghapus duka ini.
Agar senyum ini dapat kembali bersinar di balik pelangi kerinduan.
Angin malam
Angin malam....
Dingin....
Menusuk...
Menggetarkan...
Tapi aku cinta angin malam...
Di sini...
Di tengah terpaan angin malam ini
Aku...
Dapat sendiri
Dan...
Berduaan dengan kerinduan ini
Sabtu, 05 April 2014
Beranikah kita?
Seminggu yang lalu saya dan keluarga piknik ke pantai Oetune salah satu pantai di selatan TTS. Setiba di sana saya langsung berfoto ria, membaca puisi dan juga bersepak bola bersama anak-anak penduduk asli.
Di tengah kesibukan saya bermain bola sudut mata saya menangkap bayangan sesosok tubuh yang menurut saya sedikit aneh jika berada di pantai. Sosok itu menggunakan sepatu bot, jaket tebal, syal, dan sebuah topi ninja. Secara spontan saya melihat jari-jarinya apakah dia juga menggunakan sarung tangan?
Saya sempat berpikir apakah dia sakit? Tapi dari caranya berjalan dan tertawa, dari raut wajah dan gerak geriknya dia terlihat sangat baik-baik saja. Maka saya pun berkesimpulan bahwa dia tidak siap menerima resiko terkena sengatan matahari di pantai ini.
Kadang-kadang itu juga yang kita alamai dalam hidup. Kadang kiya tidak siap menerima resiko-resiko dari apa yang harus kita jalani akhirnya kita menjalani semuanya dengan perlindungan diri yang berlebihan dan bahkan menutup diri kita dari keadaan yang ada walaupun kita berada di dalamnya.
Akhirnya kita menjadi terlihat berbeda.
-jika berani ke pantai maka harus berani terbakar mata hari. Jika berani bermain air maka harus berani basah.