Rabu, 30 Oktober 2013

"Pah Meto"ku

Terlahir di sini… Di kota ini… Kota dingin yang menjadi bagian dari “pah meto”
Kota ini memberiku masa kecil yang indah… teduh… dan gembira.  Masa  kecil yang selalu ditemani hawa dingin khas kota ini.
Saat itu kota ini bukanlah tanah kering seperti arti dari kata “pah meto” itu. Saat itu kota ini adalah kota hijau yang menghasilkan banyak jeruk, apel, dan anggur.
Saat itu tarian kupu-kupu bukanlah sesuatu yang aneh… Kicauan burung adalah nyanyian wajib di pagi hari. Saat itu juga kota ini terkenal dengan keramahnnya, keteduhannya, kesejukannya.
Saat itu kota ini memang dingin tapi kota ini berdiam orang-orang yang hangat dalam pergaulannya.
Seiring bergulirnya waktu…
Tarian kupu-kupu menjadi sesuatu yang kurindukan tapi tak kunjung terobati. Ada rasa yang kuat untuk kembali melihat kupu-kupu dengan keunikan sayap mereka menari indah di antara bunga-bunga, namun sejauh mata in memandang tak pernah terlihat warna-warna indah sayap mereka menari di sana. Kicauan burungpun menjadi tak seriuh dulu… Kicauannya menjadi terdengar samar karena berkurangnya populasi mereka di kota ini. Bukan hanya itu, curah hujan pun menjadi tak beraturan. 20 tahun yang lalu, kami bisa dengan pasti mengatakan ini adalah musim hujan dan ini adalah musim kemarau, tapi kini pernyataan itu seolah tak berlandasan. Pada masa di mana seharusnya menjadi musim panas ternyata hujan turun dengan sangat derasnya. Pada masa di mana seharusnya menjadi musim hujan, matahari seolah tak mau kalah menunjukkan keperkasaannya. 20 tahun yang lalu, alam seolah dapat memberi sebuah tanda peringatan bagi kami jika akan terjadi sesuatu, 20 tahun yang lalu alam bukanlah sesuatu yang berada di luar kami, alam adalah bagian dari kami, sesuatu yang menyatu dengan jiwa kami.
Kota dingin yang selalu menenangkan hati perlahan berubah menjadi kota yang seolah tak mengenal kasih. Kota yang hangat dengan persahabatan menjadi kota yang mementingkan diri sendiri. Sesuatu yang dulu tak biasa kini menjadi sesuatu yang hampir dianggap biasa karena seringnya terjadi. Suami bunuh istri, pertikaian antara saudara sekandung, pembunuhan di tempat pesta, dan masih banyak hal tak biasa lainnya yang kini menjadi  biasa di telinga.
Ternyata bukan hanya persahabatan dengan alam yang mulai terusik, persahabatan dengan sesamapun mulai terasa berada di titik tak aman.
Kota kecil masa kecilku menjadi kota yang terlihat berbeda dari 20 tahun yang lalu. Menjadi semakin padat penduduknya, menjadi semakin maju keberadaannya, tapi apakah itu berarti kasih kepada sesama dan alam pun harus tenggelam di antara semua kemajuan itu?

Pertanyaan yang masih terus dikumandangkan

Hari itu, Jumat 25 Oktober 2013, saya masuk kerja seperti biasanya. Ternyata hari itu kami mendapat banyak tamu di kantor karena ada banyak undangan nikah (pemberkatan nikah secara massal akan dilaksanakan pada hari Minggu nanti). Salah satu tamu yang juga membawa “oko mama” untuk mengundang adalah seorang bapak. Semuanya berlangsung seperti biasa, bapak tersebut menyampaikan maksud kedatangannya dan seterusnya. Tapi tiba-tiba saya tersentak ketika mendengar sang bapak mengatakan “Acara akan dilaksanakan di rumah mama B... o bukan... bukan di rumah mama B tapi bapak B karena bapak B masih hidup.
Saya benar-benar terganggu dengan pernyataan tersebut. Maka dengan sedikit berkelakar saya mengatakan “Bapa ni... masa’  karena bapak B masih ada jadi tidak boleh pake nama mama B? Bilang saja bapa B dan mama B to?
Saat itu saya sementara membaca salah satu karya Ayu Utami “Pengakuan Eks parasit Lajang” yang begitu kuat menentang budaya patriarki. Saya juga kembali teringat sebuah kalimat yang mengatakan ‘saat kecil seorang perempuan adalah milik ayah dan saudara laki-lakinya, saat telah menikah seorang perempuan adalah milik suaminya.”

“Kapan waktu yang tepat bagi seorang perempuan untuk menjadi dirinya sendiri?”

Apakah setelah suaminya meninggal? Tapi ada begitu banyak janda yang dipandang sebelah mata oleh masyarakat. (apalagi seorang janda muda).

Saya mempunyai pendapat yang sama dengan Ayu Utami, seorang perempuan harus dilihat sebagai subjek bukan objek. Pada saat itu kita akan melihat bahwa perempuan dan laki-laki sama pantasnya untuk dihargai dalam apa adanya mereka.

Selasa, 22 Oktober 2013

Jawaban dari sesuatu yang sempat dilupakan

tulisan ini sebelumnya adalah salah satu catatan dalam akun Facebook saya. tulisan ini merupakan tulisan yang mengkisahkan tentang saya dan orang-orang yang luar biasa dalam apa adanya mereka.

" Bta berharap bisa buat sesuatu yg nyata, tidak hanya berdoa. Bta berharap dengan teman2 yg beda profesi bisa bwt sesuatu utk orang lain. Yg dokter dng keahlianx, sarjana Pertanian dng keahlianx, sarjana perikanan dng keahlianx, sarjana pendidikan dng keahlianx, sarjana teknik dng keahlianx, bta sarjana Teologi dng keahlianx bta. Bta mau kami bisa bekerja sama, bwt sesuatu yg berguna, tidak hx sebatas peduli n berdoa"
Kalimat itu dulu sering saya ungkapkan ke beberapa teman. Kalimat itu memang bukan sebait doa yg selalu saya ucapkan, bahkan terkadang saya lupa utk mendoakan harapan tersebut. Kadang-kadang di tengah kesibukan saya, saya hanya sempat untuk mengatakan, Tuhan tambahkanlah Kasih dalam hidup saya, biarlah saya mampu mengasihi MU dan mengexpresikanx dalam mengasihi sesama.
Dengan bergulirx waktu, dengan kesibukan-kesibukan yg selain menyita waktu saya juga menyita perhatian saya, saya menjadi lupa akan kalimat yg pernah saya ucapkan tadi. Tiba-tiba saya tersentak ketika melihat status di media sosial milik salah seorang teman saya:
"Selamat pagi. Semalam ada aksi damai ya di El Tari? Salut. Tapi selain di Yogja sana, di depan hidung kita di Sikka, sudah ada pengungsi Rokatenda yg mati kelaparan dan masih ada belasan ribu yg sedang kelaparan. Mereka bukan penjahat tapi mendapat 'hukuman' alam. Sudahkah kita peduli?"
Saya tersentak dan menyadari kalau telah sekian lama saya hanya mampu mengucapkan "Tuhan tambahkan kasih pada saya" tapi tak mampu menyalurkan kasih itu. Merasa malu pada diri sendiri, merasa terharu dng keadaan yg ada, mengucapsyukur karna kembali diingatkan tentang sebuah harapan. Semuax bercampur aduk dalam hati.

Dalam kesibukan yg sangat padat dalam menyongsong paskah, Tuhan memberikan saya kesempatan utk berkumpul bersama teman-teman yg ternyata berbeda profesi dng saya, kami merancangkan sesuatu yg sangat sederhana, tapi sangat berarti bagi orang-orang yg membutuhkan. Terima kasih Tuhan, terima kasih teman-teman. Sekecil apapun usaha kita, sesederhana apapun yg mampu kita usahakan adalah wujud kasih Allah melalui kita. God bless us

Jumat, 11 Oktober 2013

Perempuan itu

Perempuan itu berdiri tegak di depan mimbar gereja pada siang itu. Entah apa yang ada dalam benaknya namun  dia terlihat murung... Sedih... Dan terbeban dengan sesuatu. Tak lama setelah itu dengan pasti dia mulai menurunkan tubuh mungilnya dan berlutut di sana...  Di depan mimbar itu... Kedua tangannya dikatupkan menjadi satu.... Terlihat dia mulai berdoa dengan sangat khusuk. Di tengah- tengah doanya terlihat  butiran bening mengalir di sudut matanya...  Air mata... Yah... Itu adalah butiran air mata... Apa gerangan yang  membenani hatinya dan  mengharuskannya untuk menitikkan air mata itu?
Terlihat dia telah mengakhiri doanya... Dengan langkah yang pasti dia mulai melangkahkan kakinya keluar. Langkah yang lebih tegas  jika dibandingkan dengan langkahnya saat datang tadi.
Perempuan itu terlihat biasa-biasa saja... Namun dalam matanya tersimpan banyak hal yang tak gampang untuk ditafsirkan... Di sana ada bias-bias keceriaan yang menjadi samar ditutupi sesuatu yang lain, sesuatu yang kelam.
Berlutut di depan mimbar sebuah gereja kecil  di kota kecil ini adalah sebuah pilihan yang sungguh mengagumkan... Kota kecil penuh kesibukan yang tak peduli mengapa perempuan itu berada di situ. Perempuan muda yang bertelut menangis tanpa suara.
Keesokan harinya pada jam yang sama seperti hari sebelumnya, terlihat perempuan itu kembali melangkahkan kakinya menuju gereja. Seolah yakin bahwa pintu gereja itu tak terkunci tanpa menoleh ke kiri atau kanan dia mulai membuka pintu dan melangkahkan kakinya melewati garis pintu itu. 
Seperti hari sebelumnya dia mulai bertelut, mengatupkan kedua tangan mungilnya dan mulai berdoa. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan pengharapan yang amat sangat... Seolah memohon  pada Tuhan untuk dengan lekas menjawab doanya... Doa yang masih ditemani dengan butiran-butiran halus di kelopak matanya. Doa yang masih tak bersuara namun terlihat memilukan.
Siapa gerangan perempuan ini? Perempuan muda yang seharusnya sedang berkreasi di luar sana, yang sedang tertawa lepas, yang tak pantas menghiasi mata indahnya dengan butiran-butiran bening itu.
Sebuah kebiasaan unik yang selalu dinantikan setiap hari selama hampir 3 bulan ini... Menatap seorang perempuan muda melewati pintu itu, bertelut di depan mimbar dan berdoa, selalu pada jam yang sama  dengan ekspresi pengharapan yang sama. Sebuah kesabaran yang sungguh luar biasa... Sebuah iman yang tak dapat digambarkan... Tetap berdoa di sini, di depan mimbar ini selama 3 bulan, selama  90 hari, selalu pada jam yang sama.
Hari ini, hari keseratus dia kembali ke sini dengan kebiasaan yang sama.  Hari ini terdengar lirih suara lembutnya mulai berdoa:
Tuhan, ketika engkau memperkenankan aku untuk mengenalnya dalam keterbatasan kami dan kekurangan kami. Aku tahu engkau juga yang mengijinkan semua ini terjadi. Berikanku kebijaksanaan agar aku mampu memaknai setiap jengkal hubungan ini dengan benar, sehingga aku mampu menguatkan dia dalam keterbatasanku. Apapun pandangan orang lain terhadap aku, bantu aku untuk dapat membuktikan pada mereka bahwa tak ada yang mustahil bagiMu. Kuatkan dia di sana... Berikan dia pemahaman yang benar tentang arti hidup ini. Aku mengasihiMu dan juga mengasihinya. Amin.
Sebuah doa yang sederhana, doa yang tidak bertele-tele... Doa yang tulus  berisi permohonan untuk dikuatkan agar  mampu memberi kekuatan pada seseorang yang dicintai dalam kelemahannya. Sebuah kesetiaan yang tak bersyarat dari seorang perempuan...  Perempuan yang tak sanggup memberi sebuah nasihat pada sosok berhati keras yang dicintainya...  Perempuan yang hanya mampu berlutut di sini, di depan sebuah mimbar kayu dalam sebuah  gereja sederhana di tengah kesibukan kota kecil ini dan mendoakan sosok yang dicintainya itu. Perempuan lemah yang beriman teguh.

Jumat, 04 Oktober 2013

Pesan- pesan Cinta

Tertegun aku menatap bangunan di depanku. Bangunan yang baru saja ku beli dan akan kutempati. Bangunan yang dapat dikatakan sangat sederhana dan jauh dari kebisingan kota. Di bagian kanan rumah ini terlihat jelas kalau tempat itu pernah menjadi sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga, di sana juga masih ada sisa-sisa pagar yang terbuat dari bambu.
Aku mulai melangkahkan kakiku menaiki anak tangga pertama… Kedua… Ketiga…
Kreeeeekkkkk….. Dengan perlahan aku membuka pintu kayu yang catnya sudah mulai pudar. Sebenarnya ini bukan pertama kali aku berada di sini, sebelumnya aku sudah pernah berada di sini bersama dengan pemilik rumah ini. Yah… Dapat dikatakan dialah pemiliknya, dia adalah cucu dari pemilik rumah ini. Setelah kakek dan neneknya meninggal dunia rumah ini sudah tidak dihuni lagi, dibiarkan kosong. Mungkin karena  mereka  sudah tidak tinggal di kota ini lagi.
Debu beterbangan di sana sini, menempel pada perabot-perabot sederhana yang sudah pasti adalah milik kakek dan nenek pemilik rumah ini. Dapat dikatakan sebuah keberuntungan, aku tidak hanya membeli rumah ini dengan harga yang cukup murah, tapi aku juga boleh memiliki semua perabotan yang ada di dalamnya. Jadi aku tidak perlu repot-repot lagi membeli semuanya, barangkali yang perlu aku lakukan hanyalah melihat kalau-kalau ada bagian dari rumah ini yang harus kuperbaiki.
Terlihat sebuah sapu terbuat ijuk diletakkan di samping pintu belakang. Entah sudah berapa lama sapu ini tak digunakan, tapi karena masih terlihat bagus aku mulai memakainya untuk membersihkan rumah ini. Perabotannya tidak terlalu banyak, sesuai dengan ukuran rumah ini, namun ada yang benar-benar unik dari rumah ini, cara penataannya sangat unik dan terlihat ditata dengan sangat baik walalupun sudah tertutupi banyak debu. Empat buah  Kursi yang terbuat dari anyaman rotan dilengkapi dengan sebuah  meja kaca ditutupi taplak yang terbuat dari anyaman rotan pula.  Di sudut ruangan terdapat sebatang kayu yang kekar menempel pada dinding…  Kayu? Untuk apa kayu itu diletakkan di situ? Di sudut yang lain  bergantungan hiasan dinding berbentuk bunga-bunga yang juga diselimuti debu.
Waooooo…. Baruku sadari, ruangan ini memang sengaja ditata dengan nuansa alami… Dindingnya sengaja dilapisi anyaman bambu yang indah, lantainya menggunakan ubin yang berwarna coklat seperti warna tanah, di sudut ruangan dipasang batang kayu yang dibuat benar-benar rapat dengan tembok sehingga kelihatan menyatu. Ada banyak bunga-bunga pelastik yang diletakkan di lantai seolah tumbuh di sana. Semuanya diatur sedemikian hingga terlihat alami. Sungguh luar biasa.
Sudut  mataku menangkap sesuatu yang terlihat berbeda dengan kesan alami ruangan ini. Tembok bagian kanan ini mengapa ditutupi sebuah gorden besar seolah sengaja untuk menutupi seluruh permukaan tembok? Gorden kuning yang sangat berdebu. Ada sedikit perasaan aneh dalam hatiku, mengapa gorden ini berada di sini? Apakah di sebelah sana terdapat sebuah ruangan lagi? Tapi itu tidaklah  mungkin karena yang tampak dari luar tidak ada ruangan lain di depan sini selain ruang tamu ini. Walaupun sedikit ragu aku mulai mendektai gorden itu dan membukanya.
Sreeeettttttt…….!!! Ternyata gorden ini dapat dibuka dengan sangat mudah. Aku tercengang menatap apa yang ada di depanku…. Sebuah jendela kaca yang sangat besar, di sudut kanannya terdapat sebuah pintu yang juga terbuat dari kaca. Mengangumkan! Di luar sana aku melihat sisa-sisa taman yang  memang  terlihat dari arah depan. Ternyata tak sesederhana yang terlihat dari depan, di situ terdapat sebuah kolam kecil yang sudah kering tak berair, ada setapak-setapak kecil yang terbuat dari batu-batu kerikil, ada banyak bunga kering yang terlihat jelas mati karena tak pernah disiram. Dulu taman ini pastinya sangat mengagumkan.
Aku mulai berkesimpulan bahwa rumah ini adalah rumah yang luar biasa. Sebagai seorang arsitek muda, harus aku akui bahwa penata rumah ini adalah orang yang luar biasa. Dengan penuh semangat aku bertekad akan menghidupkan kembali taman ini, taman yang telah lama dibiarkan mati akan ku hidupkan kembali.
Aku mulai melangkahkan kakiku kembali ke dalam rumah. Mengambil masker yang memang sudah kusiapkan untuk melindungi diri dari debu-debu ini. Aku mulai menyapu dimulai dari ruangan tamu ini. Saat aku menggeser meja kaca ini mataku sedikit terbelalak menatap ke bawah meja, ada sesuatu yang disembunyikan di bawah meja ini. Kugeser lagi meja ini agar dapat dengan mudah mengambil sesuatu itu. ternyata sebuah kertas sebesar telapak tanganku. Dalam kertas itu terdapat sebuah tulisan tangan:

Tak pernah lelah untuk mencintaimu                                                               
                                        Love
                                      Jacob


Jacob … siapa Jacob? Mengapa pesan berisi pernyataan cinta ini diletakkan di sini? Ah… Sudahah mungkin hanya terselib. Sambil berpikir seperti itu aku mulai kembali membersihkan ruangan ini. Menyapu setiap debu yang menempel pada kursi, lantai, meja, jendela, dinding…. Ada sesuatu yang terjatuh dari dinding  ketika aku menyapu debu yang menempel di sana. Sebuah kertas seukuran telapak tanganku, kertas yang mirip dengan kertas yang tadi kutemukan. Kertas itu bertuliskan sebuah kalimat:

Aku jatuh cinta padamu 60 kali dalam semenit
                                                   Love
                                              Welhelmina


Sambil tetap menatap kertas itu, aku mengambil kertas yang tadi kutemukan di bawah meja yang masih ku simpan di kantung celanaku. Tulisan tangan yang berbeda. Tulisan tangan milik dua orang yang saling mengirim pesan. Jacob dan Welhelmina… Apakah mereka sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta? Yah… Dapat kupastikan seperti itu, dan dapat pula kuterka mereka pasti anak-anak muda yang baru saja merasakan apa itu jatuh cinta, yang akan sangat memuja pasangan mereka karena belum merasakan sakit yang akan dialami karena cinta.
Keinginanku untuk cepat-cepat menyelesaikan semua pekerjaan ini dan tidur lebih kuat dari rasa penasaranku pada dua carik kertas berisi pesan cinta milik anak-anak muda dalam cinta monyet mereka. Setelah memasukkan kedua kertas tadi dalam kantung celanaku aku mulai melanjutkan pekerjaanku ke ruangan selanjutnya. Ruangan ini adalah ruangan yang akan kujadikan kamar tidurku. Secara kebetulan ruangan ini juga sebelumnya adalah kamar tidur pemilik yang lama. Di sini masih ada sebuah tempat tidur besi, tempat tidur yang terlihat kuno dilengkapi dengan kulambu. Tak masalah juga jika tetap kugunakan, walaupun terlihat kuno tapi terlihat sangat kuat. Pada bagian yang lain terlihat ada sebuah meja kecil dan pada dindingnya digantung sebuah cermin berbingakai kayu. Ini pasti meja rias milik sang nenek. Tak ada sesuatupun yang diletakkan di atas meja itu, meja itu hanya ditutupi sebuah taplak yang terbuat dari benang wol, taplak yang harus kucuci atau bahkan mungkin akan kubuang dan kuganti dengan yang lebih bagus.
Sebuah kertas… Yah, sebuah kertas yang mirip dengan dua kertas sebelumnya terjatuh dari atas meja ketika aku menarik taplak wol ini.

Halo cintaku… Kamu adalah anugerah terindah dalam hidupku
                                                                       Love
                                                                      Jacob


Sebuah pesan cinta lagi yang dituliskan Jacob untuk Welhelmina. Siapa sebenarnya mereka ini? Mengapa pesan cinta mereka bisa sampai berada dalam ruangan pribadi orang? Menurut pemilik rumah ini, rumah ini dikunci dengan baik dan tak pernah ada orang lain yang masuk ke sini, jadi kemungkinan tempat ini sering dikunjungi oleh orang-orang muda yang sedang kasmaran sangatlah tidak mungkin. Aku mulai merasa penasaran dengan pesan-pesan cinta ini. Tanpa memikirkan lagi tentang ruangan yang harus kubersihkan, aku mulai menelusuri setiap jengkal rumah ini untuk mencari apakah masih ada pesan-pesan yang lain? Pesan-pesan cinta milik Jacob dan Welhelmina…

Semakin hari semakin mencintaimu
                                   Love
                              Welhelmina
Walaupun kamu sudah mengetahuinya tapi aku harus mengatakannya lagi,
Aku sungguh mencintaimu
                                    Love
                                  Jacob

Halo pangeranku… Aku sungguh mencintaimu…
                                                    Love
                                              Welhelmina

Sayangku… Terima kasih untuk masakan tadi yang sangat lezat dan penuh cinta
                                                                              Love
                                                                             Jacob
Mempunyai sesuatu untukmu… Temui aku di taman cinta kita
                                                                       Love
                                                                      Jacob
Terima kasih sayang untuk hadiahnya…. Sungguh mencintaimu
                                                                      Love
                                                                 Welhelmina
Semakin mencintaimu walau wajahmu mulai berkeriput
                                                                    Love
                                                                   Jacob

Hai pria gagah milikku… Aku mencintaimu melebihi hari kemarin
                                                                        Love
                                                                   Welhelmina

Aku menunggumu di depan altar… Berdandanlah dengan cantik.
                                                                         Love
                                                                        Jacob
Meski telah 50 tahun menikah  dan 50 kali mengucapkan janji nikah padamu
Getaran hati ini masih sama seperti pertama kali.
                                                                            Love
                                                                      Welhelmina

Senyummu tetap yang terindah meski wajahmu telah keriput.
Tetaplah tersenyum sayangku…
                                                                              Love
                                                                         Welhelmina

My dear… Really love u
                      Love
                    Jacob

Kamu terlihat sungguh mempesona dengan baju itu
                                                         Love
                                                      Welhelmina

Tadi di gereja aku berdoa pada Tuhan, aku mengucap syukur karena memilikimu sampai detik ini.
                                                                      Love
                                                                     Jacob

Menunggumu di taman cinta kita,
telah aku siapkan makan malam yang special penuh cinta.
                                                                  Love
                                                            Welhelmina
Sayang, terima kasih buat Hari Natal ke-56 bersamamu
                                                                 Love
                                                                Jacob

56 kali merayakan Hari Natal bersamamu
Aku telah memohon pada Tuhan agar mengijinkan kita tetap bersama
merayakan Hari Natal ke-57, 58, 59 dan seterusnya.
                       Love
Welhelmina
Aku mencintaimu sejak kamu berusia 20 tahun
Dan hingga kini kamu telah berusia 78 tahunpun cinta itu tak pudar.
Happy birth day kekasihku.
Love
Jacob
Terima kasih cintaku, meski kini kamu telah berusia 82 tahun,
Kamu tetap kekasihku yang ku kenal 54  tahun yang lalu.
                                                                           Love
                                                                     Welhelmina
Sayang, kutunggu dirimu di taman cinta kita,
Berdua kita melihat bintang.
                                                      Love
                                                     Jacob

Janji pernikahan yang ke-60
Aku tak akan menantimu di depan altar.
Berdandanlah dengan cantik, kita pergi bersama.
                                                         Love
                                                       Jacob
Telah ku katakan pada Tuhan, terima kasih untuk 60 tahun bersamamu,
Aku ingin bersamamu selamanya.
                                                                 Love
                                                             Welhelmina


Begitu banyak pesan yang ada dalam rumah ini, pesan yang dengan sengaja dibuat untuk pasangannya. Jacob… Welhelmina… Apakah mereka adalah kakek dan nenek pemilik rumah ini? Mereka adalah orang-orang yang sungguh luar biasa. Mereka memiliki sebuah kebiasaan yang sangat unik, menuliskan pesan-pesan cinta untuk pasangannya, diletakkan di aman saja, mungkin disembunyikan agar pasangan mereka harus berusaha mencarinya sebelum mengetahui isi pesannya.  Pesan-pesan cinta yang luar biasa.
Aku tak ingin merubah sedikitpun penataan rumah ini, yang akan kulakukan hanya membersihkan rumah, kembali menanam bunga-bunga, memperbaiki pagar bambu yang telah rusak, menghidupkan kembali taman cinta mereka. Aku ingin tetap menjaga bias-bias cinta yang masih tersisa dalam penataan rumah ini, setiap jengkal rumah ini. Semua pesan cinta itu ku simpan dengan sangat baik karena aku tahu cinta mereka adalah cinta yang luar biasa.