Rabu, 30 Oktober 2013

"Pah Meto"ku

Terlahir di sini… Di kota ini… Kota dingin yang menjadi bagian dari “pah meto”
Kota ini memberiku masa kecil yang indah… teduh… dan gembira.  Masa  kecil yang selalu ditemani hawa dingin khas kota ini.
Saat itu kota ini bukanlah tanah kering seperti arti dari kata “pah meto” itu. Saat itu kota ini adalah kota hijau yang menghasilkan banyak jeruk, apel, dan anggur.
Saat itu tarian kupu-kupu bukanlah sesuatu yang aneh… Kicauan burung adalah nyanyian wajib di pagi hari. Saat itu juga kota ini terkenal dengan keramahnnya, keteduhannya, kesejukannya.
Saat itu kota ini memang dingin tapi kota ini berdiam orang-orang yang hangat dalam pergaulannya.
Seiring bergulirnya waktu…
Tarian kupu-kupu menjadi sesuatu yang kurindukan tapi tak kunjung terobati. Ada rasa yang kuat untuk kembali melihat kupu-kupu dengan keunikan sayap mereka menari indah di antara bunga-bunga, namun sejauh mata in memandang tak pernah terlihat warna-warna indah sayap mereka menari di sana. Kicauan burungpun menjadi tak seriuh dulu… Kicauannya menjadi terdengar samar karena berkurangnya populasi mereka di kota ini. Bukan hanya itu, curah hujan pun menjadi tak beraturan. 20 tahun yang lalu, kami bisa dengan pasti mengatakan ini adalah musim hujan dan ini adalah musim kemarau, tapi kini pernyataan itu seolah tak berlandasan. Pada masa di mana seharusnya menjadi musim panas ternyata hujan turun dengan sangat derasnya. Pada masa di mana seharusnya menjadi musim hujan, matahari seolah tak mau kalah menunjukkan keperkasaannya. 20 tahun yang lalu, alam seolah dapat memberi sebuah tanda peringatan bagi kami jika akan terjadi sesuatu, 20 tahun yang lalu alam bukanlah sesuatu yang berada di luar kami, alam adalah bagian dari kami, sesuatu yang menyatu dengan jiwa kami.
Kota dingin yang selalu menenangkan hati perlahan berubah menjadi kota yang seolah tak mengenal kasih. Kota yang hangat dengan persahabatan menjadi kota yang mementingkan diri sendiri. Sesuatu yang dulu tak biasa kini menjadi sesuatu yang hampir dianggap biasa karena seringnya terjadi. Suami bunuh istri, pertikaian antara saudara sekandung, pembunuhan di tempat pesta, dan masih banyak hal tak biasa lainnya yang kini menjadi  biasa di telinga.
Ternyata bukan hanya persahabatan dengan alam yang mulai terusik, persahabatan dengan sesamapun mulai terasa berada di titik tak aman.
Kota kecil masa kecilku menjadi kota yang terlihat berbeda dari 20 tahun yang lalu. Menjadi semakin padat penduduknya, menjadi semakin maju keberadaannya, tapi apakah itu berarti kasih kepada sesama dan alam pun harus tenggelam di antara semua kemajuan itu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar