Terlahir di sini… Di kota ini… Kota dingin yang menjadi
bagian dari “pah meto”
Kota ini memberiku masa kecil yang
indah… teduh… dan gembira. Masa kecil yang selalu ditemani hawa dingin khas
kota ini.
Saat itu kota ini
bukanlah tanah kering seperti arti dari kata “pah meto” itu. Saat itu kota ini adalah kota hijau yang
menghasilkan banyak jeruk, apel, dan anggur.
Saat itu tarian kupu-kupu bukanlah
sesuatu yang aneh… Kicauan burung adalah nyanyian wajib di pagi hari. Saat itu juga kota ini terkenal dengan keramahnnya,
keteduhannya, kesejukannya.
Saat itu kota ini memang dingin tapi
kota ini berdiam orang-orang yang hangat dalam pergaulannya.
Seiring bergulirnya
waktu…
Tarian kupu-kupu menjadi sesuatu yang
kurindukan tapi tak kunjung terobati. Ada rasa yang kuat untuk kembali melihat
kupu-kupu dengan keunikan sayap mereka menari indah di antara bunga-bunga,
namun sejauh mata in memandang tak pernah terlihat warna-warna indah sayap
mereka menari di sana. Kicauan burungpun menjadi tak seriuh dulu… Kicauannya menjadi
terdengar samar karena berkurangnya populasi mereka di kota ini. Bukan hanya itu,
curah hujan pun menjadi tak beraturan. 20 tahun yang lalu, kami bisa dengan
pasti mengatakan ini adalah musim hujan dan ini adalah musim kemarau, tapi kini
pernyataan itu seolah tak berlandasan. Pada masa di mana seharusnya menjadi
musim panas ternyata hujan turun dengan sangat derasnya. Pada masa di mana seharusnya
menjadi musim hujan, matahari seolah tak mau kalah menunjukkan keperkasaannya. 20 tahun yang lalu, alam seolah dapat memberi sebuah
tanda peringatan bagi kami jika akan terjadi sesuatu, 20 tahun yang lalu alam
bukanlah sesuatu yang berada di luar kami, alam adalah bagian dari kami,
sesuatu yang menyatu dengan jiwa kami.
Kota dingin yang selalu
menenangkan hati perlahan berubah
menjadi kota yang seolah tak
mengenal kasih. Kota yang hangat dengan persahabatan menjadi kota yang
mementingkan diri sendiri. Sesuatu yang dulu tak biasa kini menjadi sesuatu
yang hampir dianggap biasa karena seringnya terjadi. Suami bunuh istri,
pertikaian antara saudara sekandung, pembunuhan di tempat pesta, dan masih banyak hal tak biasa lainnya yang
kini menjadi biasa di telinga.
Ternyata bukan hanya persahabatan dengan
alam yang mulai terusik, persahabatan dengan sesamapun mulai terasa berada di
titik tak aman.
Kota kecil masa kecilku
menjadi kota yang terlihat berbeda dari 20 tahun yang lalu. Menjadi semakin
padat penduduknya, menjadi semakin maju keberadaannya, tapi apakah itu berarti
kasih kepada sesama
dan alam pun harus tenggelam di antara semua kemajuan itu?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar