Sabtu, 30 Desember 2017

Mereka adalah kejora

Aku ingin menulis, tapi bukan sebuah kisah fiksi
Aku ingin menulis, tapi bukan sebuah legenda masa lalu
Aku ingin menulis tentang mereka
Yah! Mereka.
Mereka mungkin hanya orang-orang biasa,
Tapi mereka luar biasa.
Mereka adalah pemikir...
Mereka terus berpikir bagaimana menjadi lebih baik lagi dari hari ke hari.
Mereka adalah pencerita...
Mereka terus bercerita tentang ide-ide yang singgah di benak mereka.
Mereka adalah pekerja...
Mereka selalu mampu mengerjakan apa yang ingin mereka kerjakan dengan suka cita.
Apapun keadaannya mereka selalu menjadi diri sendiri....
Mereka bukan hanya menunggu, mereka mampu menginspirasi,
Mereka tidak hanya diam, mereka mampu menciptakan karya
Dan mereka... adalah mereka.

(Special utk mereka di GKS Omba Rade yang saya singkat KEJORA
K: Kami, E :  pEmuda,  J :Jemaat, ORA : Omba Rade) 
Hahaha...

Rabu, 06 Desember 2017

Lilin natal

Orang I: Menanti keheningan…. Merindukan kicauan burung…. Tarian kupu-kupu…..
Desahan lembut sang angin  dan gemerisik dedaunan…..
Semuanya telah hilang….
Alam seakan saling memusuhi…. Semua keindahan hanya menyisakan fatamorgana….
Orang II :  KJ 333: 1
Orang III : ketenangan tidak lagi hadir…. Malam sunyi senyap telah berubah…
Perang….perpecahan…. kekerasan…. Ketidaksetiaan…. Dan tangisan pilu mewarnai perjalanan waktu…. Luka hati seolah tak berpenawar…. Tangisan seolah tak pernah berujung….
Orang IV  : (Menyanyi) Luka yang bta rasa sasak di dalam dada… rasa hati mau bilang sampe jua…. Luka yang bta bawa…. Sesal bta su seng rasa tetap bertahan biar su luka…
Orang V :Bertahan di dalam luka, terus menantikan uluran tangan penuh kasih… Kasih…. Di manakah kasih itu???? Di mana dapat ku temukan kasih itu???? Timur?? ? Barat???? Utara???? Ataukah selatan?????
Orang VI  : (Menyanyi) lagu “Kasih yg sempurna”
Orang VII : Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan anak-Nya yg tunggal supaya kita, semua orang yg percaya kepada-Nya tidaklah binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Sesungguhnya, hari ini telah lahir bagi kita semua juruselamat yaitu Kristus Tuhan di kota Daud. (Membakar lilin milik  6 orang terdahulu)
 Menyanyikan lagu KJ 92 “ Malam Kudus” (sambil membakar lilin pada pohon natal dan juga pada semua jemaat)

Minggu, 29 Oktober 2017

BBNTT Regio SBD

Beda?
Ya... kami beda,
Saya mengatakan "beta" dan mereka mengatakan "saya"
Beda?
Ya... kami beda,
Saya berkhotbah, mereka ada yang menulis, mengajar, duduk di belakang meja kerja, dan sebagainya
Bahkan cara kami berdoapun beda, meski ditujukan pada Tuhan yang sama.
Ya... kami memang beda.
Tapi kami punya satu kesamaan,
Kami punya kerinduan yang sama,
Kami rindu generasi setelah kami tidak hanyut dalam dunia yang maya,
Kami rindu melihat setiap kampung kami tidak hanya bersesakan dengan gelombang-gelombang elektromagnetik tak nampak,
Kami rindu ada generasi yang mampu mengembangkan dirinya melalui buku.
Kami hanya punya kerinduan kecil itu,
Mungkin bukan kerinduan yang besar atau bahkan menguntungkan kami,
Tapi tak mengapa!
Karena ada rasa yang tak mampu kami jelaskan ketika kerinduan itu terlaksana.
Itulah persamaan kami,
Dan perbedaan pun menjadi tak berarti.

Rabu, 23 Agustus 2017

Merdeka!?

Aku terjaga dari mimpi yang tak sempat terukir dalam ingatan,
Mimpi yang terpaksa diakhiri karena teriakan itu.
Merdeka!!!
Teriakan di mana-mana... Merdeka!!!
Perlahan aku melangkah ingin memastikan pendengaranku.
Mungkin benar kami telah merdeka, tapi mengapa di sudut sana kulihat marak dengan Human traficking? Mungkin benar pendengaranku, tapi mengapa mataku melihat perdebatan dan pertentangan karena isu SARA,  Ada ketidakadilan, ada "pemberontakan" kecil atas nama kelompok?
Aku terus melangkah untuk memastikan satu kata itu yang telah ku dengar berulang-ulang kali itu.
Aku tersesat karena melihat banyak hal di luar sana brrbeda dari yang kudengar, dan akhirnya aku berpendapat "mungkin ini hanya ilusi optik", aku telah tertipu oleh mataku sendiri dan aku memilih mempercayai pendengaranku.

Senin, 17 April 2017

Menertawakan hidup

Terima kasih,
Keadaan ini benar-benar menyiksaku tapi mampu membuatku untuk menertawakan hidup.
Aku seolah berada di dasar jurang. Semua hal terasa begitu jauh fi atas sana, sedangkan aku, aku sendiri di sini, menatap semuanya tanpa bisa berbuat apa- apa. Aku ingin menangis, tapi apakah tangisan dapat merubah  keadaan ini? Aku tak tahu pasti! Kadang aku berpikir menangislah saja, tapi akutak ingin tangisan itu malah melemahkanku.
Kadang aku ingin marah! Tapi pada siapa amarah ini ku lemparkan? Tak ada yang menyadari keadaanku selain diriku sendiri.
Aku ingin meminta pertolongan! Hahahhaa... pada siapa? Mereka hanya tahu kalau aku ada di sini, akan selalu ada untuk mereka tapi tak pernah tahu bahwa mereka tak pernah memahami hakku.
Akhirnya aku mulai menertawakan semuanya. Hahahhaa... tawa ini bukan tawa yang dipaksakan. Tawa ini adalah tawa yang tulus.
Karena aku tahu, kebahagiaan hidup itu ada ketika aku mulai menertawakan hal menyakitkan dalam hidupku.
Terima kasih buat semua ini. Biarkan aku terus tertawa.

Kamis, 02 Maret 2017

Berharap terang itu mampu

Menengadah ke langit,
Mempercayakan diri pada matahari
dengan asa hari akan selalu terang.
Lampu pijar hadir memberikan terang
meski tak menjanjikan kehangatan.
Terang... menarik hati
meluputkan kesadaran akan esensi kehidupan.
Itu hanya pembiasan cahaya dalam seember air,
bagai laron mati tertipu terang yang semu,
mempercayakan diri pada sosok pengikrar janji kesempurnaan,
kesempurnaan yang semu.
Menangis di dalam air
Berusaha terbang meski sayap ini telah benar-benar lelah dikepakkan
Tanpa pernah menyentuh udara.
Tangisan kembali membentuk danau
yang semakin menenggelamkan.
Lebih baik menggali di dalam tanah,
dapat kembali terbang meski tak jauh.
Jangan berikan aku terang yang semu,
berikan saja aku sebuah kail untuk memancing

*sebuah tulisan untuk para PMI*

Minggu, 19 Februari 2017

Dengan atau tanpa dirimu

Hari ini mereka bertanya tentangmu,
Maafkan aku yang mungkin menjadi begitu munafik karena tak pernah sanggup mengatakan yang sejujurnya pada mereka. Mungkin karena aku tak ingin mereka tahu atau juga mungkin karena aku masih merasa kau ada di sini, di sudut hati. Aku tak tahu apa yang pasti, tapi aku memilih berlaku apa adanya seolah tak ada sesuatu yang terjadi di antara kita, di dalam hati kita.
Aku tahu rasa benci saat ini sedang menguasai hatimu, yah, kamu sangat membenciku. Aku takakan memintamu untuk memaafkanku, karena aku tak suka sesuatu yang dipaksakan, aku hanya ingin kau biarkan saja semuanya brrjalan  apa adanya.
Ini inginmu sejak lama kan? Meninggalkanku dan mencari bahagiamu sendiri? Seharusnya aku menyadarinya sejak lama, tapi rasa cintaku ternyata menutup mataku dan tak menyadari ketidaknyamananmu. Aku terus mencinta sedang kamu terus tersiksa.
Aku seorang yang terlalu memaksa! Itu katamu. Mungkin benar, tapi apakah salah jika aku ingin menyadarkanmu kalau kamu bisa menjadi lebih baik dari keadaanmu selama ini, kamu harus berusaha mengasah potensi dalam dirimu?
Mungkin benar aku terlalu memaksamu untuk melakikan apa yang tak kau inginkan, tapi apakah salah jika aku yang  selalu  menatapmu ini menemukan sebuah potensi tersembunyi dalam dirimu dan memintamu untuk mencobanya?
Mungkin benar aku terlalu berlebihan, tapi apakah sebuah kesalahan ketika aku ingin mendorongmu keluar dari zona nyamanmu dan menolongmu menemukan jati dirimu?
Ah... aku memang akan selalu  salah di depanmu. Di matamu aku hanyalah benalu yang selalu salah, selalu ingin kau lenyapkan.
Saat inidi saat kau sudah memutuskan pergi jauh dariku, aku tahu kamu pasti telah bahagia karena terlepas dariku, aku sakit ketika mengingatmu, tapi aku tak ingin membencimu. Aku merasa ingin menangis ketika merindukanmu, tapi aku menepisnya. Aku harus terus melanglah, dengan atau tanpa dirimu.

Selasa, 14 Februari 2017

Sebuah usaha melupakan

Malam ini, aku merasa benar-benar merindukanmu yang jauh di sana. Maafkan aku yang tak pernah bias selalu ada di sampingmu. Hal ini mungkin saja bahkan memang membuatmu benar- benar merasa bahwa kita memang diciptakan bukan untuk bersama.
Maafkan aku yang lebih memilih untuk menghindarimu, karena aku menyadari kalau kamu memang akan lebih baik tanpa diriku yang tak pernah bias selalu berasa di sampingmu. Sejujurnya bukan karena tak ingin, dalam hatiku, aku selalu ingi berada di sampingmu, menemanimu menjalani harimu, namum kenyataan berkata lain, kita memang tak dapat bersama.
Kadang kala di saat kita bersamapun harus aku akui kamu seolah berada di ujung jurang yang dalam yang tak mampu aku salami, kamu tetap menjadi pribadi yang tak mampu aku menegrti arena ketertutupanmu.  Seringkali aku berusaha memahamimu, tapi tetap tak mampu. Kamu tetap ada di sana bersama dirimu yang lain dan aku di sini bersama rasa saying dan rasa ingin tahu ku akan dirimu.
Aku memang bukan orang yang sempurna yang akan selalu kamu banggakan pada sekelilingmu, tapi aku punya cinta yang selalu ada untukmu. Awalnya aku berpikir itu cukup untuk meyakinkanmu, namun nyatanya tidak. Kamu menginginkan aku menjadi sama seperti orang lain, kamu mencintai sisi orang lain dalam diriku, bukan apa adanya aku.
Sesungguhnya aku pernah mencoba menjadi seperti yang kau inginkan, tapi apa artinya cinta jika itu hanya karena kamu melihat aku sebagai orang yang kau inginkan tanpa keinginan untuk melihat diriku apa adanya? Perlahan-lahan aku menjadi sadar, bukan aku yang kau cintai. Aku hanya seseorang yang selalu ada saat kau butuhkan bukan seseorang yang kau inginkan untuk benar-benar ada dalam hidupmu. Aku hanyalah seseorang yang selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu tanpa pernah kau harapkan.
Dan kini, aku merasa benar-benar ingin pergi dari hidupmu meski hati kecilku mengatakan hal sebaliknya. Akhirnya aku mengakui cinta tak harus memiliki. Kamu memang tak bisa aku miliki, karena aku hanyalah bayang gelap yang selalu menghantuimu.
Kini aku pergi, maafkan aku karena sudah tak mampu lagi bertahan di sisimu, tapi aku yakin kamu tahu alasannya karena aku ingin kamu bahagia meski tak bersamaku.

Rabu, 08 Februari 2017

Seribu maaf untukmu

Seribu maafku untukmu,
Dengan terpaksa luka itu tetap menganga,
Merengkuh dalam ringkihnya tubuh,
Membiarkan sakit itu menjadi biasa.
Seribu maafku untukmu,
Menyakitimu meski akulah yang paling terluka.
Mengepalkan tinju hanya karena dada ini mulai sekeras batu.
Meninju, memukul dan menampar,
Tapi tak dapat membalut luka hati.
Seribu maafku untukmu,
Yang hanya menyisakan luka dalam hidupmu.
Kau mungkin tak pernah tahu betapa aku tak pernah ingin melukaimu.
Seribu maaf untukmu,
Yang selalu ingin kupeluk dan kubahagiakan,
Meski dalam  nyatamu, aku hanyalah sebuah penyakit.
Seribu maaf untukmu,
Yang selalu ada dalam doaku,
Walau bagimu aku hanyalah sebakul beban yang ingin segera kau hempaskan.
Seribu maaf untukmu,
Yang selalu kubanggakan pada dunia dan Tuhan,
Meski untukmu aku hanya sosok yang selalu ingin kau tutupi dan kau ingkari.
Seribu maaf untukmu
Yang tak pernah sanggup dan takkan pernah lagi ada di hidupku.
Maaf karena cintaku tak mampu membuatmu bangga dan bahagia.
Seribu maaf untukmu.

Jumat, 03 Februari 2017

Hawa

Seorang Hawa laksana karang
Tegar memahami arti hidup.
Berani menerjang badai
Untuk menatap keindahan busur penuh warna di angkasa
Dia...
Hawa penolong sang Adam
Dia...
Hawa tempat teduh penuh kasih
Penuh kèlembutan tapi tak lemah
Tak pernah berpangku tangan
Jemarinya selalu rindu untuk menari
Mencipta karyanya.
Tak nyaman bersila kaki
Terus melangkah menjemput senja.

Menyerah

Apakah ini yg dinamakan menyerah?
Merasa tak mampu lagi untuk terbang,
Bukan karena tak ingin
Tapi karena berhenti adalah jalan terbaik. Bagaimana mungkin kita  dapat terbang bersama ketika sayapmu mulai merasa terbebani?
Biarkan saja kita menepi,
Biarkan kita turun ke bawah sana,
Kita memang tak dapat terbang bersama.
Biarkan aku melanjutkan hidupku dengan satu sayapku yg hampir patah.

Senin, 16 Januari 2017

Mencintai dalam diam

Mencintai dalam diam,
Unik
Merindu dalam rahasia,
Menantang
Memeluk dalam khayal,
Menenangkan