Jumat, 18 Desember 2015

Kami dan jarak yang ternyata tak jahat

Ombak terus berkejaran menggapai pantai
Dua anak kecil terlihat asyik mempermainkan jemari mereka
Dia atas gundukan pasir karya mereka
Mungkin ingin membuat istana
Namun tak mirip istana.
Mungkin juga ingin membentuk gunung,
Gunung yang miring seperti menara pizza.
Dan aku di sini,
Di samping seorang lelaki
Kami sama- sama terdiam.
Tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Tak ada satu katapun terucap,
Selain mata yang memandang lurus ke depan
Seolah menghitung berapa baris ombak yang sementara berkejaran itu.
Dia lelakiku
Lelaki yang telah menemaniku lebih dari 1000 hari.
Kami sama-sama terdiam
Kami hanya ingin memastika bahwa jarak itu telah mampu kami hapus,
hari ini, di sini dan saat ini kami benar- benar duduk berdampingan tanpa ada jarak yang berarti kerinduan.
Teriakan orang-orang di sekeliling kami, entah teriakan apa itu,
Mampu mengalihkan perhatian kami
Dan kami pun kembali tersadar,
Saat ini, kami berdua sedang duduk bersama.
Ternyata jarak itu tak jahat,
Dia hanya memberi kami waktu untuk benar-benar menghargai setiap kebersamaan kami.
Kebersamaan yang masih harus kamo cicil sedikit demi sedikit
Demi sebuah kebersamaan hingga akhir hayat.

Rabu, 16 Desember 2015

Selamat ulang tahun Tuhan Yesus

Tuhan Yesus...
Selamat ulang tahun ya..
Maaf, saya tidak punya hadiah yang indah,
Saya hanya ada suka cita di hati,
Saya juga tidak bisa bertemu Tuhan Yesus,
Tapi saya bisa berdoa.
Terima kasih Tuhan Yesus karena sudah lahir untuk kami. Jadikan hidup saya seperti lilin yang terus menyala menyinari kegelapan. Amin

Puisi natal utk anak PAUD

Senin, 14 Desember 2015

Belajar saja dari waktu

Di suatu senja ada seseorang bertanya kepadaku:
Mengapa hidup ini harus dibagi dalam rentetan waktu yang mengharuskan kita untuk memiliki masa lalu?

Saya pun menjawab:
Karena dari waktu kita belajar untuk menghargai apapun yang sedang kita miliki saat ini. Mungkin saja detik berikutnya bukan lagi milik kita.

Dia kembali bertanya:
Lantas mengapa Tuhan membiatkan kita melakukan kesalahan di masa lalu?

Saya pun menjawab:
Agar kita belajar menjadi lebih baik di masa sekarang dan akan datang.

Kembali lagi dia bertanya:
Tapi mengapa ketika kita telah belajar dari masa lalu dan telah melupakan semuanya masih ada orang yang tak mampu menerima keadaan kita dan menjadikannya sebagai alasan?

Saya pun menjawab:
Karena dia bukanlah orang beruntung yang berhak memiliki seseorang sepertimu yang telah belajar banyak hal dari masa lalumu, yang telah bangkit dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Sekali lagi dia bertanya:
Lantas apa yang harus saya lakukan?

Saya menjawab:
Bersyukurlah karena sekali lagi hidup mengajarkan padamu untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Jadikanlaj dia masa lalumu yang telah memberi pelajaran berharga, dan mulailah melangkah ke depan. Di depan sana akan ada seseorang yang memang pantas memilikimu karena keberadaanmu bukan karena masa lalumu.

Dan akhirnya dia berkata: aku bersyukur buat setiap kisah yang tergores di masa lalu. Karena telah mempersiapkanku menjadi pribadi yang lebih baik.

Rindu yang aku rindukan

Ada kerinduan yang memuncak di gerbang hati,
Rindu pada sosok yang memberi goresan rindu.
Kadang aku benci pada waktu yang seolah lambat bergerak ketika dilihatnya di sini ada rindu.
Kadang aku juga ingin protes pada ruang,
Mengapa ada jarak yang menjadi pembatas?
Apakah ruang dan waktu punya telinga?
Jika YA,
Ingin ku teriakkan rindu ini agar mereka mendengarnya.
Apakah ruang dan waktu punya hati?
Jika YA,
Ingin ku memohon agar mereka dapat luluh melihat kerinduan ini.
Hahahha.. ini hanya tentang rindu yang ternyata aku rindukan.

Minggu, 13 Desember 2015

Cinta itu buta?

Terlalu berani untuk melangkah,
Terlalu tergesa untuk sebuah keputusan.
Mengejar ketulusan di dunia yang semakin berantakan atas nama kebenaran,
Membutuhkan sebuah pengakuan atas nama cinta.
Salahkah ketika cinta itu ada?
Dan salahkan jika cinta itu butuh sebuah pengakuan?
Terlalu naif ketika cinta terus menoleh pada goresan masa lalu,
Terlalu tak adil ketika ketulusan harus didasarkan atas sepotong cerita yang telah lama dilupakan.
Mungkin benar cinta itu buta,
Karena hanya orang buta yang bisa mengikuti atus cinta tanpa harus menoleh ke belakang.
Mungkin juga karena orang buta sanggup menyamakan rasa di hati dan pikiran di otak nya untuk mencapai tujuannya.
Dan... karena orang buta percaya bahwa cinta takkan menyesatkannya.

Rabu, 09 Desember 2015

Sore ini di 09 Desember 2015

Sore ini setelah hujan mulai reda, saya yang sejak tadi berada di dalam kamar memutuskan untuk pergi ke gereja untuk menunggu anak-anak sekolah minggu yang akan berlatih tari dan prosesi pembakaran lilin. Dengan perlahan saya membuka pintu kayu yang hanya ditahan dengan sebuah bangku dari dalam gedung. Setelah itu saya memutuskan duduk di sebuah kursi plastik yang mengjadap ke arah depan gereja, sambil menatap beberapa anak laki-laki yang sedang berkejaran di halaman gereja. Dalam keadaan santai ini saya mulai merenung. tak terasa hari ini genap 1 tahun saya berada di pulau sumba, setahun yang lalu saya memutuskan untuk melayani di sini dan seperti saat hari ini 09 Desember saya menginjakkan kaki saya pertama kalinya di pulau ini.
1 tahun di sini telah mengajarkan saya banyak hal. Jauh dari sanak saudara, jauh dari sahabat dan jauh dari semua yang selama ini menjadi zona nyaman saya. Di sini saya harus belajar mandiri, karena meskipun sudah pernah tinggal sendiri saat kuliah dulu tapi tentu saja berbeda karena saat itu meskipun tinggal seorang diri tapi saya masih dikelilingi keluarga dan juga untuk pulang ke rumah hanya membutuhkan waktu tak lebih dari 2 jam dan dengan biaya tak lebih dari Rp. 50.000,-  sedangkan di sini sudah pasti berbeda pulau dan untuk pulang ke rumah membutuhkan biaya dan waktu yang  tak sedikit.
Di sini saya juga harus belajar untuk mengenal orang-orang yang tak pernah saya kenal sebelumnya bahkan dalam mimpipun tak pernah sama sekali. :)
Di sini saya juga belajar tentang kerendahan hati seorang pelayan, kesetiaan seorang pelayan dan ketulusan seorang pelayan. Saya benar-benar diijinkan Tuhan untuk belajar banyak hal meskipun harus dari "sisi terbalik".
Dan saat ini, kurang lebih 3 minggu lagi saya akan pindah dari jemaat ini dan melayani lagi di tempat yang baru di wilayah GKS ini, saya tiba-tiba ingin sekali mendoakan jemaat di sini meskipun selama 1 tahun ini ribuan doa telah saya lantunkan untuk jemaat ini. Saya yakin kalau Tuhan memang sungguh tahu yang terbaik buat anak-anakNya di sini.

Minggu, 06 Desember 2015

Harga diri vs Kata hati

Ini bukan soal cinta,
Bukan juga tentang rindu,
Tapi tentang gengsi dan harga diri.
Terkadang seseorang menempatkan harga diri di atas segalanya dan akhirnya membuat sebuah dinding pemisah antara dirinya dan sekelilingnya bahkan antara hatinya dan otaknya.
Pergolakan itu terjadi terus menerus dalam tubuhnya, dalam dirinya, namun ketika logika lebih dulu keluar sebagai pemenang maka harga diri akan tetap menjadi jurang pemisah.
Mengapa dunia membentuk satu ukuran sendiri untuk sebuah harga? Apakah harga diri itu lebih mahal dari sekedar senyuman yg tulus? Atau apakah harga diri itu tak mampu dibayar dengan kasih?
Padahal, dalam tubuh yg sama hati sementara berteriak, dia ingin sekali keluar dan mengatakan bahwa yg dia rindukan bukan sebuah kemewahan tapi kasih mesra meski beralaskan keserhanaan.
Tapi ternyata, ego telah menutup telinganya, suara hati tak dapat didengar, dan...
Harga diri akan tetap menjadi pemenang dalam kesendirian di tengah keramaian.

Minggu, 29 November 2015

Prosesi Bakar Lilin Natal 2


BAKAR LILIN 2

Sebuah Lilin besar dinyalakan pada kaki dian, semua anggota pembakaran lilin maju memegang lilin yang padam.
Orang 1
:
Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah,
Kisah Mahabrata atau tragedi  dari Yunani… (Menyanyikan penggalan Lagu)
Orang 2
:
Ketika kehidupan mulai terasa membosankan karena ada begitu banyak hal yang terjadi.
Orang 3
:
Ada kesimpangsiuran yang tak menentu, semua berlomba menguasai hati…
Orang 4
:
Dosa menguasai tanpa mengenal perbedaan… Sandiwara demi sandiwara… Semua berujung pada dosa…
Orang 5
:
Ketika dosa mulai menguasai… Ada intimidasi yang menuntut penyingkiran diri…
Orang 6
:
Hanya ingin sendiri dengan ego yang tak terkalahkan… Membentengi diri dari dunia dengan pertahanan atas nama kebenaran. Perlahan namun pasti mulai tercipta kesendirian di tengah keramaian. Mulai merasa asing dengan dunia sekitar.
Orang 7
:
Di tengah kekalutan dan kesendirian itu, hanya ada satu kata yang menenangkan. “Keluarga”  yah… keluarga…
Orang  8
:
Keluarga yang mempersatukan…
Keluarga yang mengasihi…
Keluarga yang menjadi teladan Allah…
Orang  9
:
Menyanyikan KJ 451: 1 dan 2 “BERBAHAGIA TIAP RUMAH TANGGA”
Orang 10
:
Bukankah Natal berarti Yesus telah hadir dalam keluarga kita?
Bukankah Natal berarti kebersamaan keluarga Kristen?
Orang 11
:
Natal… sebuah masa perenungan akan kehidupan yang baru, sebuah masa kebersamaan sebagai keluarga Allah,
Natal… adalah milik kita saat Yesus ada di hati kita dan menerangi hidup kita.
Orang 12
:
Yesus berkata :Akulah terang dunia, barang siapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan melainkan ia akan mempunyai terang hidup  (Yoh 8: 12)
Cahaya lilin ini, pohon terang ini akan padam tapi jangan biarkan cahaya hidup kita sebagai keluarga Kristen pun turut padam. Tetaplah bersinar.



Semua anggota pembakaran lilin menuju lilin yang disediakan di kaki dian lalu membakar lilin masing-masing, setelah itu jemaat menyanyikan KJ 92 “ Malam Kudus” sambil membakar lilin secara bersama-sama yang diedarkan oleh ke-12 oanggota pembakaran lilin.

Prosesi Bakar Lilin Natal

BAKAR LILIN
Orang 1
:
Sebuah rahim yang kudus menjadi awal kehidupan baru… Laksana awal sebuah penciptaan.
Orang 2
:
Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi, bumi belum berbentuk dan kosong. Gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.(Kej 1: 1-2)
Orang 3
:
Kekosongan itu mulai terisi satu per satu hingga diciptakanNya sesuatu yang unik dan berharga.
Orang 4
:
Berfirmanlah Allah: Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita, supaya mereka berkuasa atas seluruh bumi. Maka diciptakannya laki-laki dan perempuan (Kej 1: 26-27)
Orang 5
:
Manusia… gambar Allah…
Manusia… bukan sesuatu yang sia-sia…
Namun…  (ekspresi sedih)
semuanya menjadi sia-sia ketika dosa itu mulai menguasai.
Kemuliaan Allah menjadi sirna dalam diri karya suciNya.
Orang 6
:
Dosa… Mulai membangun perbedaan…
Dosa… Mulai menghancurkan persaudaraan…
Dosa… Tidak lagi mempersatukan…
Orang 7
:
Adakah kebenaran yang mampu membenarkan kami? Akankah kami bebas dari dosa ini?
Kami lelah dengan perpecahan ini…
Kami lelah dengan peperangan…
Kami lelah dengan segala ancaman...
Kami lelah dengan ego yang melonjak ini…
Kami butuh persaudaraan yang dulu… Kami merindukan kasih dalam Eden.
Orang 8
;
kasihMu lebih dari mentari yang tak pernah berhenti mamancarkan sinarnya.
cintaMu lebih dari samudra tenggelamku di dalam kesetiaanMu Tuhan… (Reff lagu Kasih Bapa- Judika)
Orang  9
:
kasihNya jauh melebihi ciptaanNya… hanya ada satu kasih yang sempurna.
Orang  10
:
Kasih yang sempurna telah ku trima dariMu, bukan karna kebaikanku,
Hanya oleh kasih karuniaMu, kau Pulihkan aku, layakkanku tuk dapat memanggilMu Bapa…. (Lagu Kasih yang sempurna)
Orang  11
:
Tiada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya. (Yoh 15: 13)
0rang  12
:
(Bicara sambil membakar lilin milik ke-11 orang yang lain)
Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga IA telah mengaruniakan anakNya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. (Yoh 3: 16)

Setelah membakar lilin milik teman yang lain, Jemaat menyanyikan KJ 92 “Malam Kudus” sambil ke-12 orang ini membakar lilin yang dipegang oleh jemaat.

Sabtu, 21 November 2015

Hujan, pohon sepe, natal dan keluarga

Tik... Tik... Tik...
Itu hujan, hujan yang menyejukkan.
Hujan, merahnya pohon sepe, dan Natal.
Ah...
Jadi rindu suatu tempat.
Tempat karya-karya itu dimulai
Tempat permainan dapat berubah menjadi karya.
Akankah ada yang berbeda di Natal kali ini?
Sudah pasti ada!
Akan ada hal baru yang menenangkan
Tapi ada juga ruang kosong yang tak dapat ditutupi.
Ruang kosong itu disebut "keluarga"

Rabu, 18 November 2015

mengucap syukur untuk persahabatan kami

tulisan ini sudah sungguh berdebu di dalam notebook saya, meskipun terlambat tak apalah jika diposting sekarang.


BEDA? TAK MASALAH!!!

Di penghujung tahun 2014 ini, tiba-tiba saya diingatkan kembali akan persahabatan saya dengan dua orang  yang sekarang telah menjadi dua orang yang luar biasa. Perkenalan kami bermula ketika saya dinyatakan lulus di Universitas nusa cendana Kupang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan MIPA dsn Program study Fisika. Kami lebih senang menyebutnya KSF atau Kelompok Study Fisika. Persahabatan kami adalah persahabatan yang unik.

Ifan Selvia Sardjan adalah seorang gadis asal Ende- Flores yang beragama muslim, dia adalah seorang gadis berkaca mata minus 8, yang pintar dan rendah hati. Dia tidak seperti yang biasa diidentikkan dengan orang-orang kutu buku, yang berkaca mata tebal, pendiam dan tertutup, dia adalah seorang gadis yang ceria, sedikit cerewet (walalupun kadang-kadang sangat cerewet. Hahahahah), dan apa adanya. Yang satunya lagi bernama Teresia Tia, seorang gadis asal Maumera masih dalam daratan Flores yang Beragama Katolik, yang sungguh cerewet, berpenampilan modis dan juga berkaca mata, meskipun tak sampai minus 8 seperti punya Ifan. Dan satunya sudah pasti adalah saya, seorang gadis asal SoE, 100 KM dari Kota Kupang, yang juga berkaca mata minus, beragama Kristen Protestan.

Kami bertiga menjalin persahabatan seperti saudara, apapun yang kami jalani selalu bersama, baik itu berjalan kaki sepulang kampus, mengerjakan tugas, bercanda dan berbagi sepotong kue. Yang unik dari persahabatan kami adalah ketika kami akan makan bersama di kamar kos salah satu di antara kami, kami akan memegang piring masing-masing lalu sama-sama menundukkan kepala dan berdoa berdasarkan ajaran agama masing-masing. Tak ada satupun di antara kami yang merasa terganggu dengan itu, bahkan sehabis berdoa biasanya kami akan tertawa dan mensyukuri perbedaan kami.

Itulah persahabatan kami, persahabatan  orang dari daerah yang berbeda, karakter yang berbeda, agama yang berbeda, satu-satunya persamaan kami adalah kami sama-sama berkaca mata.

saat ini kami telah terpisah jauh,  kami sudah menekuni kesibukan masing-masing, tapi kami masih suka berbagi cerita tentang keadaan kami meski sangat jarang dan hanya melalui telpon atau kadang jika kebetulan berkunjung ke kupang kami berusaha menyempatkan diri untuk bertemu meski hanya sekedar berpelukan di pinggir jalan dengan cerita heboh hanya berkisar sepuluh menit, lalu berpisah. hahahha....

Piramida cinta

Cinta itu dapat digambarkan seperti piramida. Bagian paling bawah kelihatannya besar, cinta ini  selalu menuntut pasangan untuk sempurna dan selalu memberikan semua yang terlihat mewah dan wah.  tapi ketika ditanya "apa alasanmu mencintai saya?" Dia akan berkata "karena kamu cantik, ganteng, kamu special dan lainnya" cinta ini ada karena ketertarikan fisik. Pertanyaannya "apakah cinta itu akan tetap ada ketika waktu mulai merenggut kelebihan-kelebihan fisik? Ketika kita tak lagi secantik dan seganteng saat ini baik karena usia atau karena hal lain?

Yang kedua adalah bagian tengahnya. Terlihat besar juga, cinta ini selalu memberikan perhatian yang besar, selalu bersama setiap saat karena hanya berdekatanlah  kenyamanan itu ada.  ketika ditanya "mengapa kamu mencintai saya?" Dia akan berkata "karena kamu baik, kamu pengertian, dan lainnya" cinta ini didasarkan dari kelebihan yang dinilai secara emosi atau perasaan. Pertanyaannya "apakah cinta itu masih tetap ada ketika saat-saat tertentu pengertian itu dikalahkan emosi yang meluap karena keadaan? Apakah cinta itu tetap ada ketika salah satunya dengan pertimbangannya sendiri memilih untuk tidak mengerti dan berkompromi dengan keadaan yang lain?

Yang ketiga, terlihat kecil dan sederhana. Tak banyak menuntut, perhatiannya kadang tak terasa karena berangkat dari hal-hal sederahana, cinta ini tak harus selalu bersama, dalam keadaan apapun selalu ada pengertian yang datang dengan sendirinya. Ketika ditanya "mengapa kamu mencintai saya" dia akan berkata "saya tak tahu mengapa, yang saya tahu saya mencintai kamu apa adanya."

Itulah cinta, cinta yang berawal dari sebuah alasan bisa berakhir karena sebuah alasan pula, namun ketika semua terlihat sederhana dan bahkan hingga hampir tak beralasan, alasan apakah yang akan mengakhiri rasa cinta itu?

Minggu, 11 Oktober 2015

Bijaklah dalam melihat hidup

Hari ini saya banyak merenung. Saya merasa bahwa hidup ini indah apabila dijalani dengan benar-benar bijak. Waktu yg diberikan untuk semua manusia itu sama, semuanya 24 jam sehari, tapi mengapa ada orang yg begitu bijak menggunakan waktunya untuk sesuatu yg bermakna lalu ada yg ternyata merasa hidup ini tak adil karena seolah berpihak pada orang lain.
Dalam perenungan itu saya menemukan bahwa, ternyata dalam hidup harus kita akui kalau kadang-kadang kita kurang menikmati masa sekarang dan merasa adanya ketidakadilan Tuhan karena kita tidak mampu melepaskan diri kita dari bingkai masa lalu. Kita membiarkan diri kita tetap berada di sana meskipun kenyataannya kita telah ada di masa sekarang. Kadang kita memberi ruang untuk sebuah kebencian tak beralasan pada masa lalu menguasai masa sekarang dan membuat kita benar-benar tak menikmati hidup ini. Saat itu kita mulai menyalahkan banyak pihak untuk apa yg kita alami. Kita mulai mencari cela di luar sana utk melemparkan kesalahan-kesalahan itu. Bahkan mungkin kita dengan tega membuat orang lain ikut menderita dengan kita atas dasar dendam kita.
Tapi... apakah itu membuat kita semakin baik dan membuat kita puas serta bahagia?
Sayang sekali tidak!!!
Karena kebahagiaan itu akan ada ketika kedamaian itu ada. Kebahagiaan itu takkan ada di atas ketidaknyamanan orang lain.
Waktu kita sama, 24 jam sehari. Apakah kita masih ingin melihat kebelakang lalu melukai waktu yg sekarang? Apakah kita akan menyia-nyiakan waktu yg sekarang hanya utk sebuah masa lalu?
Pilihan ada di tangan kita. Dunia tidak menunggu. Kitalah yg harus terus bergerak maju.

Sabtu, 12 September 2015

A letter on 28th years old

Buat : orang-orang terkasih

Terima kasih buat semua yang telah kita jalani bersama. 28 tahun hidup bersama kalian adalah anugerah terindah untuk saya.

Papa bo'i dan mama bo'i, kalian adalah inspirator terbesar dalam hidup saya, menjadi anak kalian adalah hal yg tak pernah bosan saya syukuri.

Ma Ny, Ma Dey, Ma Yaya, Ma Dede dan Om Tuan, kalian seperti bintang yg selalu memberi warna dalam hidup saya. Kadang kita bertengkar, tapi setelah itu kita pasti berpelukan dan saling meminta maaf. Kadang kita bercerita dengan sangat heboh, kita berbagi pakaian, berbagi selimut bahkan hingga kita beranjak dewasa kita tetap seperti kanak-kanak yg suka bergurau dengan mesranya.

Bapa Yusti, Bapa Ve dan K Nyoman, kalian hadir setelah kami dewasa, namun kalian benar-benar mampu menyesuaikan diri dengan keadaan kami 6 orang bersaudara yang kalian anggap saudara kandung kalian. Kalian bukan hanya menantu tapi anak bagi papa bo'i dan mama bo'i, kalian bukan hanya ipar tapi saudara kandung bagi kami. Terima kasih untuk kasih sayang kalian untuk kami.

Kaka Ampy, Kaka Greavy (oetao), Kaka Kenny (Kenot), Ade Kheryn, De Ana, Ade Echa, kalian adalah harta tak terkira untuk kami. Kalian hadir dan membawa keceriaan sendiri dengan tingkah kalian yg kadang menjengkelkan namun menggemaskan. Kalian hadir dengan berkat tersendiri yg selalu nampak di manapun kalian berada. Saya dapat pastikan bahwa kalian sangat bangga hadir di dunia dalam keluarga kita.

Dan yg terakhir, buat seorang lelaki terkasih, K Agung, terima kasih untuk hadirmu dalam hidup saya. Saya tak butuh kamu sebagai lelaki hebat, saya mensyukuri setiap keberadaan denganmu. Kamu sosok yg tidak saya cintai karena kamu memiliki segalanya, apa ada mu itulah yg membuat saya bahagia. Kamu lelaki yg dewasa dan bertanggung jawab yg selalu sabar menghadapi saya yg pelupa ini *dan ada banyak kekurangan lainnya* saya sungguh mengucap syukur pada Tuhan karena menempatkan mu di sisi saya sebagai lelaki terkasih.

Dan untuk kalian semua, kalian adalah hadiah terindah dalam usia saya yg ke 28 tahun ini. Sangat mencintai kalian semua.

Dari : saya yang mengasihi kalian

Rabu, 26 Agustus 2015

Cinta dalam perbedaan

Sebuah rahasia sakral milik sang Ilahi
Menciptakan dua insan
Penuh perbedaan dalam keunikan.
Insan yg mencinta di dalam kesucian cinta
Yang menghantarkan mereka pada pengakuan akan kemahakuasaan sang pencipta di dalam cinta.
Cinta yang menjadi satu di dalam dua
Dan tetap mejadi unik di dalam dua.
Cinta yang memberi kekuatan di dalam kekuatan cinta.

Minggu, 23 Agustus 2015

Harapan

Melihat mereka menggunakan pakaian sakral itu
Hati ini bergejolak antara asa dan iri.
Ada asa untuk sebuah janji iman
Dan ada segaris perasaan iri pada waktu yang telah mereka lewati lebih dahulu.
Namun,
Ada juga iman yang teguh
Bahwa segala sesuatu indah pada waktuNYA.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Pencuri waktu

Akulah sang pencuri waktu.
Berusaha mencuri detik-detik tersembunyi
Demi sebuah kenangan
Yang akan aku tertawai di masa akan datang
Atau mungkin juga akan ku sesali dan kutangisi.

Jumat, 24 Juli 2015

Bumi dan langitmu

Bumi telah menjadi bosan dengan langitmu
Langit yang nyata di dalam maya dan maya di dalam kenyataan.
Bumi mulai mempertanyakan keberadaan langit. Apa benar langit itu ada di atas bumi?
Seperti seorang anak yang menanti suapan sang bunda,
Bumi terus dengan tenang 'harus' menerima muntahan kisah tentang langit.
Kadang tangis bumi bukan karena kelaparan yang mengganggu
Namun karena telah kenyang dengan kesemuan langitmu

Senin, 20 Juli 2015

Antara malam dan pagi

Antara malam dan pagi
Inilah jeda waktu milikku.
Inilah saat aku benar-benar menjadi diriku sendiri.
Keluar dari sangkar emas,
Meskipun tidak untuk terbang bebas
Namun penjara itu seolah roboh meski hanya kurang dari 8 jam.
Malam,
Kadang aku berharap kamu mampu membunuh pagi
Agar pagi itu tak usah datang lagi
Malam,
Kadang aku ingin kamu bergerak laksana seekor siput agar pagi sedikit terhalang olehmu.
Pagi,
Aku berharap kamu berganti warna menjadi kelam
Agar aku tak perlu kembali ke dalam penjara batin itu.
Namu kalian,
Pagi dan malam.
Kesetiaan kalian mampu mengajarkan padaku untuk lebih tegar meski harus diawali dengan gesekan terali penjara batin itu.
Aku ingin tetap setia seperti kalian
Meski saat ini aku lebih mencintai sedikit jeda waktu yang ada di antara kalian.

Jumat, 10 Juli 2015

Pernikahan seorang pelayan

Sesaat saya merasa tak mampu berpikir. Saya ditempatkan pada posisi yang tak mampu membuat saya sanggup menentukan pilihan. Saya dituntut untuk berada di dua tempat yang berbeda pada waktu yang bersamaan untuk alasan yang berbeda.
Dalam kebingungan itu saya mulai melihat gambaran bagaimana seharusnya keluarga Kristen dan khususnya seorang pelayan. Seorang pelayan adalah seorang yang pada saat yang sama adalah seorang anak, istri atau suami. Dalam fungsi rangkap itu seorang pelayan dituntut untuk harus mampu mengatur waktu sebaik mungkin agar tak ada yang dikorbankan. Tapi pendamping seorang pelayan pun harus mampu memahami bahwa seorang pelayan butuh dukungan bukan hanya dalam kehidupan keluarga tapi juga dalam pengertian yang penuh ketulusan.
Pendamping seorang pelayan juga dituntut untuk mampu melayani dalam posisinya sebagai jemaat biasa dan pasangan seorang pelayan.

Sabtu, 04 Juli 2015

Pagi

Pagi...
Semua yang baru...
Walau terlihat samar dilapisi kabut... ingin menerbangkan kabut dingin ini agar tak menghalangi keindahan pagi.ini... ingin mengusir hawa dingin hasil keteduhan kabut ini...
Tapi... kesadaran itupun hadir... pagi ini menjadi unik karena dilapisi kabut ini... cahaya matahari seolah memahami kerinduan kabut untuk sedikit bermain-main di belahan bumi ini membiarkan semuanya berjalan apa adanya...
Aku mencintai pagi karena pagi selalu memberiku sebuah ada yang baru meski dikelilingi kabut yang samar dan dingin.

Bintang

Menatap bintang..
Terlalu jauh untuk digapai...
Namun terlalu indah untuk diacuhkan...
Seolah berada di tempat yg berbeda... menikmati kerlipan beribu bintang, ditemani suara jangkrik.
Hening... Teduh... menenangkan jiwa yg letih.
#puisi_malam

Sabtu, 20 Juni 2015

Menghargai sebuah proses

Hari ini, dalam perjalanan menuju gereja dengan mengendarai motor *karena jarak yang harus saya tempuh lumayan jauh*, tiba-tiba saya teringat sebuah film yaitu "saolin soccer" *mudah-mudahan tidak salah karena film itu sudah saya tonton bertahun-tahun yang lalu*. Sedikit cuplikan film itu yang sempat saya ingat adalah ketika seorang anak meminta kepada gurunya untuk mengajarinya sepak bola karena ia sangat ingin masuk dalam tim saolin soccer itu. Saat itu sang guru tidak mengajarkannya sepak bola, sang guru malah menyuruhnya untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti menimba air dari sumur, mencangkul tanah dan beberapa pekerjaan berat lainnya. Saat itu dia merasa kecewa karena yang dia harapkan adalah menjadi anggota tim saolin soccer jadi yang seharusnya dia lakukan sekarang adalah berlatih sepak bola bukan semua pekerjaan itu.
Namun akhirnya dia menyadari bahwa segala yang dia kerjakan itu meskipun tidak ada kaitannya dengan sepak bola namun bermanfaat untuk kekuatan fisiknya saat bertanding.

Dari sedikit cuplikan film itu yang mampu saya ingat, saya belajar bahwa kadang-kadang mungkin kita merasa tak nyaman karena keadaan yang ada tak sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita merasa keadaan yang kita alami tak ada kaitan sama sekali dengan apa yang seharusnya kita alami. Tapi pernahkan kita berpikir bahwa apapun yang kita alami sekarang adalah bagian dari proses untuk menjadikan kita menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dewasa lagi?
Menghargai sebuah sebuah proses adalah cara terbaik untuk menjadi yang terbaik.

Rabu, 27 Mei 2015

Perselingkuhan

Ini seperti perselingkuhan atas nama kebebasan.
Menutupi sebuah hubungan terbuka
Hanya untuk sebuah kemunafikan.
Seperti menipu dunia bahwa durian itu nikmat
Padahal baunya saja mampu membuat pingsan.
Ada pujian yang sia-sia
Pujian yang memuakkan dan memberi segaris rasa berdosa ketika melontarkannya.
Aku mulai berselingkuh dengan kepercayaanku sendiri...
Mengkhianati diri demi kepuasan pujian yang sia-sia.
Terus melontarkan pujian hanya untuk sebuah kekosongan.

Minggu, 24 Mei 2015

Ayah... Ibu... Aku ingin

Ayah...
Ibu...
Jangan batasi langkahku...
Aku ingin berlari seperti mereka.
Jangan beri pembatas ruang untukku
Aku ingin terbang seperti teman-temanku.
Aku tahu Ayah dan Ibu mencintaiku
Tapi jangan kekang aku dalam batas tanah ini.
Aku tahu Ayah dan Ibu ingin melindungiku
Tapi aku ingin seperti mereka yang tetap aman tanpa merasa dibatasi.
Aku ingin berlari, melompat dan menari bersama teman-temanku.
Aku ingin melihat dunia.
Percayalah,
Aku tak akan melupakan pesan-pesanmu,
Aku hanya ingin masa kecilku penuh cerita persahabatan dan cerita indah.
Aku hanya ingin seperti anak-anak pada umumnya.
Ayah...
Ibu...
Tolong ijinkan aku melihat dunia ini meski hanya di sekitar rumah kita.

Senin, 20 April 2015

Special for my little brother

waktu itu saya baru berusia 5 tahun, tapi saya masih bisa mengingat sebuah peristiwa yang luar biasa. saat itu seingat saya rumah saya dipenuhi banyak orang yang adalah keluarga dekat kami. Sebagai anak kecil saya tidak begitu paham apa yang sedang terjadi, tapi dari apa yang saya dengar dari pembicaraan para orang dewasa itu, mama Bo'i akan segera melahirkan. Saya dan keempat saudara perempuan saya (saat itu kami bersaudara 5 orang dan semuanya adalah perempuan) begitu bersemangat karena akan mendapat seorang adik lagi. Setiap ada seseorang yang datang dengan bersemangat kami akan mengatakan "kami su mau dapat adi mea" hahahahaha... ungkapan lugu seorang anak kecil.
Tapi, semangat kami mulai digantikan dengan rasa kantuk karena sampai dengan pukul 23. 00 wita (jam 11 malam) mama bo'i belum juga melahirkan. Adi mea yang kami tunggu-tunggu belum juga lahir. Dalam semangat yang masih menggebu-gebu akhirnya kami pun tertidur di sofa ruang tamu yang dekat dengan kamar tempat mama bo'i dan semua orang dewasa itu ada. (Kami anak-anak tidak diijinkan masuk).
Keesokan harinya tidak seperti biasanya kami bangun sepagi itu, selain karena di rumah memang masih ramai (dengan semua orang yang ternyata tidak tidur semalaman untuk menjaga mama bo'i yang ternyata belum juga melahirkan) dan juga karena berharap cepat melihat adi mea kami (yang ternyata belum lahir).
Tak lama setelah kami bangun, tepatnya pukul 7 pagi, tanggal 21 April 1992, adi mea kami lahir. Hari itu adalah hari Kartini tapi adi mea kami bukan seorang "kartini" seperti kami, adi mea kami ternyata seorang laki-laki.
Secara alami aura kebahagiaan mulai terpancar dengan bebasnya dalam rumah kami. Ketegangan sepanjang malam telah sirna. Adi mea kami, kami beri nama STEVEN TUAN IMANUEL LEO dan disapa TUAN.
Sedikit lucu jika mengingat nama sapaan ini. Waktu itu adik saya Yaya baru berusia 3 tahun dan Dede baru berusia 2 tahun, mereka belum begitu lancar berbicara, tapi karena saking senangnya dengan adi mea kami, maka Yaya dengan penuh semangat memanggil "ade tuhan" sedangkan Dede mamanggil "ade tang". Hahahahha... (sampai saat ini saya masih belum bisa menemukan kaitan antara kata tuan dan tang.)
Itulah kisah 23 tahun yang lalu. Adi mea kami, ade Tuan, ade tuhan atau ade tang kami telah menjadi seorang laki-laki dewasa yang sebentar lagi akan menjadi seorang Analis kesehatan. Dia memang sudah dewasa tapi dia tetap dan akan tetap menjadi "ade tuan, ade tuhan dan ade tang" kami yang selalu kami nantikan dan cintai.
Selamat ulang tahun sayang... selalu mencintaimu adiku sayang...

Selasa, 03 Maret 2015

Rindu yang menggantung

Ada rindu yang menggantung
Tapi tak secerah bintang.
Rindu yang kelabu
Tetap menari di tengah awan
Menenggelamkan rasa
Menyiksa sukma.