Minggu, 06 Desember 2015

Harga diri vs Kata hati

Ini bukan soal cinta,
Bukan juga tentang rindu,
Tapi tentang gengsi dan harga diri.
Terkadang seseorang menempatkan harga diri di atas segalanya dan akhirnya membuat sebuah dinding pemisah antara dirinya dan sekelilingnya bahkan antara hatinya dan otaknya.
Pergolakan itu terjadi terus menerus dalam tubuhnya, dalam dirinya, namun ketika logika lebih dulu keluar sebagai pemenang maka harga diri akan tetap menjadi jurang pemisah.
Mengapa dunia membentuk satu ukuran sendiri untuk sebuah harga? Apakah harga diri itu lebih mahal dari sekedar senyuman yg tulus? Atau apakah harga diri itu tak mampu dibayar dengan kasih?
Padahal, dalam tubuh yg sama hati sementara berteriak, dia ingin sekali keluar dan mengatakan bahwa yg dia rindukan bukan sebuah kemewahan tapi kasih mesra meski beralaskan keserhanaan.
Tapi ternyata, ego telah menutup telinganya, suara hati tak dapat didengar, dan...
Harga diri akan tetap menjadi pemenang dalam kesendirian di tengah keramaian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar