Bunga kembali bermekaran di taman hati,
Kembali memberi warna dalam kesenduan.
Membiarkan aromanya menjelajahi indra penciuman,
Menghirup asa yang baru dalam taman hati yang pernah gersang.
Jumat, 30 Mei 2014
Taman hati
Selasa, 20 Mei 2014
Dulu dan sekarang
Ketika itu aku masih sangat kecil dan sungguh tak tahu apa-apa selain belajar dan bermain. Saat itu yang aku tahu semua di dunia ini sangat baik-baik saja tanpa sebuah atau bahkan beribu masalah. Aku merasa hidup ini adil karena dibesarkan dalam keluarga yang selalu bersikap adil terhadap kami anak-anak.
Ketika aku mulai beranjak dewasa dan berani menatap keluar zona nyamanku,
Aku mulai sedikit terganggu.
Tempat di mana seharusnya ada keadilan ternyata ketidakadilanlah yang berlaku walau dikemas menjadi begitu sederhana sehingga hampir tak terlihat.
Tempat di mana seharusnya ada kasih yang tulus...
Ternyata di sana ketidakpedulian dengan bebas terbahak dengan alasan "ini sudah seharusnya! Kita butuh yang profesional! Semua sudah terlanjur!"
Kalau di sana saja seperti itu, bagaimana dengan tempat yang lain? Apakah hukum rimba harus berlaku di dunia yang semakin modern ini?
Kamis, 08 Mei 2014
Kisah Klasik
Terpaku menatap malam
Menertawakan kegelapan yang berusaha menyembunyikan kerlipan bintang.
Lidah menjadi kelu
Terdiam kaku tak berucap.
Jemari kembali menari
Menuliskan untaian kata
Mengalirkan aliran kalimat menuruni otak melabuhkan diri pada papirus membentuk sebuah manuscrip tentang sebuah kisah klasik.
Kisah tentang hati yang bercerita pada otak,
Kisah tentang logika yang berusaha memahami hati.
Minggu, 04 Mei 2014
Ekses
Berusaha tetap tegar di atas kaki yang mulai goyah
Berusaha tetap menjalani semua walau tanpa cinta.
Bukan karena ingin
Tapi karena harus.
Di sini...
Sebenarnya cinta itu terpancar
Bukan malah kebencian yang terus menertawai.
Di sini...
Harus ada tawa dalam kasih
Bukan senyum dalam kemunafikan.
Ketika ketidaknyamanan menguasai,
Ketika keinginan untuk mengakhiri memenuhi hati.
Ini bukan inginku...
Ini hanya hasil dari keadaan.
Keadaan yang tak diharapkan tapi terjadi
Jumat, 02 Mei 2014
Rindu
Merindukanmu bagai malam merindukan pagi.
Terus memohon pada bintang agar cepat memudar dan membiarkan kehangatan matahari kembali merangkul.
Kenangan sungguh tak sanggup menenangkan,
doapun seakan tak cukup memberi jawaban.
Hanya pertemuan kembali yang mampu memberi keteduhan hati