Senin, 31 Oktober 2016

Pahlawan devisa!!!???

Berlari menghindari api,
Berteduh di bawah matahari.
Menghindari bisingnya kota,
Dan berteriak pada ributnya keegoisan.
Apa bedanya?
Dia hanya berlari,
Tanpa dilirik apalagi diperhatikan.
Dia hanya mampu berteriak,
Tapi, suaranya hanya seperti dengkur di tidur mereka,
Lenyap setelah mereka terjaga.
Dan ketika dia,
Ketika dia terjatuh dan mati,
Setelah dia benar-benar lelah berlari dan berteriak,
Hahaha...
Sebuah predikat pahlawan diberikan padanya,
Tapi namanya tak tercatat dalam buku pahlawan,
Makamnya pun jauh di dalam desa itu,
Bukan di antara makam para pahlawan.
Perlahan, terdengar tangisnya di balik kubur,
Jangan sebut aku pahlawan, karena kamu tak pernah tau dan tak pernah peduli dengan perjuanganku

Kurang-kunang

Kunang-kunang,
tolong jangan pergi,
Berikan aku sedikit saja cahayamu.
Aku hanya ingin melihat,
Di mana letak cinta itu

Sabtu, 29 Oktober 2016

Sekali saja

Sekali saja,
Tahan langkahku
Sekali saja,
Jangan biarkan aku pergi,
Sekali saja,
Katakan "jangan"
Karena aku takut,
Ketika aku pergi
Ternyata tak dapat kembali lagi.

Selasa, 25 Oktober 2016

Gelap, hitam dan rintik

Sendiri dalam gelap,
Rintik hujan menerpa wajah sayu,
Menyamarkan tangis yang bergulir,
Perlahan melembapkan wajah kusam.
Gelap, di tengah hutan kesimpangsiuran,
Menyesatkan logika menjadi rasa yang tak bernama.
Yang ada hanya gelap, hitam dan rintik.

Minggu, 09 Oktober 2016

Petir

Cahayanya membelah langit, memberi getar pada hati yang getir.
Gema memenuhi ruang kosong,
Membahana dalam kalbu yang menangis.

Menggambar bayang dalam gelap

Indra ini melonjak
Merasa, mendengar, mencium, menyentuh di dalam gelap.
Menjamah sebuah halusinasi,
Menggambar bayang dalam gelap.