Jumat, 11 Oktober 2013

Perempuan itu

Perempuan itu berdiri tegak di depan mimbar gereja pada siang itu. Entah apa yang ada dalam benaknya namun  dia terlihat murung... Sedih... Dan terbeban dengan sesuatu. Tak lama setelah itu dengan pasti dia mulai menurunkan tubuh mungilnya dan berlutut di sana...  Di depan mimbar itu... Kedua tangannya dikatupkan menjadi satu.... Terlihat dia mulai berdoa dengan sangat khusuk. Di tengah- tengah doanya terlihat  butiran bening mengalir di sudut matanya...  Air mata... Yah... Itu adalah butiran air mata... Apa gerangan yang  membenani hatinya dan  mengharuskannya untuk menitikkan air mata itu?
Terlihat dia telah mengakhiri doanya... Dengan langkah yang pasti dia mulai melangkahkan kakinya keluar. Langkah yang lebih tegas  jika dibandingkan dengan langkahnya saat datang tadi.
Perempuan itu terlihat biasa-biasa saja... Namun dalam matanya tersimpan banyak hal yang tak gampang untuk ditafsirkan... Di sana ada bias-bias keceriaan yang menjadi samar ditutupi sesuatu yang lain, sesuatu yang kelam.
Berlutut di depan mimbar sebuah gereja kecil  di kota kecil ini adalah sebuah pilihan yang sungguh mengagumkan... Kota kecil penuh kesibukan yang tak peduli mengapa perempuan itu berada di situ. Perempuan muda yang bertelut menangis tanpa suara.
Keesokan harinya pada jam yang sama seperti hari sebelumnya, terlihat perempuan itu kembali melangkahkan kakinya menuju gereja. Seolah yakin bahwa pintu gereja itu tak terkunci tanpa menoleh ke kiri atau kanan dia mulai membuka pintu dan melangkahkan kakinya melewati garis pintu itu. 
Seperti hari sebelumnya dia mulai bertelut, mengatupkan kedua tangan mungilnya dan mulai berdoa. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan pengharapan yang amat sangat... Seolah memohon  pada Tuhan untuk dengan lekas menjawab doanya... Doa yang masih ditemani dengan butiran-butiran halus di kelopak matanya. Doa yang masih tak bersuara namun terlihat memilukan.
Siapa gerangan perempuan ini? Perempuan muda yang seharusnya sedang berkreasi di luar sana, yang sedang tertawa lepas, yang tak pantas menghiasi mata indahnya dengan butiran-butiran bening itu.
Sebuah kebiasaan unik yang selalu dinantikan setiap hari selama hampir 3 bulan ini... Menatap seorang perempuan muda melewati pintu itu, bertelut di depan mimbar dan berdoa, selalu pada jam yang sama  dengan ekspresi pengharapan yang sama. Sebuah kesabaran yang sungguh luar biasa... Sebuah iman yang tak dapat digambarkan... Tetap berdoa di sini, di depan mimbar ini selama 3 bulan, selama  90 hari, selalu pada jam yang sama.
Hari ini, hari keseratus dia kembali ke sini dengan kebiasaan yang sama.  Hari ini terdengar lirih suara lembutnya mulai berdoa:
Tuhan, ketika engkau memperkenankan aku untuk mengenalnya dalam keterbatasan kami dan kekurangan kami. Aku tahu engkau juga yang mengijinkan semua ini terjadi. Berikanku kebijaksanaan agar aku mampu memaknai setiap jengkal hubungan ini dengan benar, sehingga aku mampu menguatkan dia dalam keterbatasanku. Apapun pandangan orang lain terhadap aku, bantu aku untuk dapat membuktikan pada mereka bahwa tak ada yang mustahil bagiMu. Kuatkan dia di sana... Berikan dia pemahaman yang benar tentang arti hidup ini. Aku mengasihiMu dan juga mengasihinya. Amin.
Sebuah doa yang sederhana, doa yang tidak bertele-tele... Doa yang tulus  berisi permohonan untuk dikuatkan agar  mampu memberi kekuatan pada seseorang yang dicintai dalam kelemahannya. Sebuah kesetiaan yang tak bersyarat dari seorang perempuan...  Perempuan yang tak sanggup memberi sebuah nasihat pada sosok berhati keras yang dicintainya...  Perempuan yang hanya mampu berlutut di sini, di depan sebuah mimbar kayu dalam sebuah  gereja sederhana di tengah kesibukan kota kecil ini dan mendoakan sosok yang dicintainya itu. Perempuan lemah yang beriman teguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar