Menatap dalam nanar,
Memicingkan mata menyusuri berkas cahaya.
Di sana,
Keegoisan merajai.
Adalah kesia-siaan jika ingin menyadarkannya.
Bagaimana dapat?
Khotbah kitab suci seakan menjadi tameng yang selalu dipakai membentengi diri.
Di sana,
Tangan memang tak selalu meninju,
Tapi hati selalu merana.
Dia ingin dimengerti, namun dituntut untuk hanya mengerti.
Dia ingin dibelai, tapi selalu dibiarkan menjadi penolong yang bekerja keras.
Dia mulai mempertanyakan cinta pada awal kisah itu.
Cinta yang dirasa memabukkan hingga tak menyiratkan sedikitpun keraguan untuk mengucapkan janji sakral itu.
Apakah masih ada cinta ketika yang dirasakan hanya kehampaan dalam ketiadaan?
Ketika yang dirasakan hanya kebingungan berujung kesedihan terpendam?
Selasa, 13 Desember 2016
Di sana
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar