Kamis, 02 Oktober 2014

Kisah kami dan dua orang yang sangat kami cintai

            Nama saya Sherly Leo. Saya lahir di sebuah kota kecil di Kabupaten Timor Tengah Selatan, 27 tahun yang lalu dari dua orang yang luar biasa yang selalu kami panggil Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i. Bo’ i. dalam bahasa Rote (daerah asal Mama Bo’ I artinya sayang.)
Saat ini saya tidak berencana menulis tentang siapa saya, saya hanya ingin menulis tentang dua orang ini, dua orang yang sangat saya cintai ini.
            Papa Bo’ i lahir di sebuah daerah pegunungan di kecamatan Kuanfatu, daerah selatan dari Kabupaten Timor Tengah selatan ini, 62 tahun yang lalu tepatnya 18 Juli 1952. Sejak kecil yang saya tahu Papa Bo’ i adalah seorang yang tenang, seorang yang sangat sabar. Dan sampai sekarang kesan itu masih tetap kokoh, karena itulah Papa Bo’ i yang selalu tenang dan sabar dalam melihat segala sesuatu.
            Mama Bo’ i lahir di pulau Rote, pulau paling selatan di Indonesia, pada tanggal 27 November 1959. Mama Bo’ i adalah  perempuan paling luar biasa yang pernah saya kenal dan saya sangat bersyukur dilahirkan dari rahimnya. Mama Bo’ i orang yang sedikit cerewet, tapi memiliki hati yang sangat lembut. Seorang perempuan sederhana tapi tak pernah ingin melihat anak-anaknya bermalas-malasan.
            Menurut cerita, perkenalan mereka itu diawali di Kupang, ibu kota propinsi NTT. Ketika itu rumah Mama Bo’ i letaknya tepat di belakang gereja Koinonia Kuanino tempat Papa Bo’ i sering berlatih paduan suara, dan ternyata mereka adalah teman paduan suara di gereja itu. (Mungkin karena itu ada banyak orang yang mengatakan bahwa kami 6 orang bersaudara memilki suara yang bagus saat bernyanyi. Hahahahha)
            Pada tanggal 26  Februari 1980 Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i diberkati menjadi sepasang suami istri, yang kemudian diberkahi dengan 5 orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki.
Masa kecil kami, kami kategorikan dalam kategori bahagia. Kami hidup dengan sederhana tapi bahagia dan teratur. Semuanya masih sangat kental dalam ingatan saya, bagaimana saat bangun pagi papa bo’ I telah menempatkan gelas-gelas berisi susu di atas meja. Bagaimana setiap sore kami berebutan antri di sumur untuk dimandikan Papa Bo’ i sementara Mama Bo’ i menunggu kami di dalam rumah untuk mengenakan pakaian pada kami.  Bagaimana kami berhamburan lari ke dalam kamar untuk berpura-pura tidur siang saat menyadari kalau sekarang saatnya Papa Bo’ i pulang dari kantor dan akan memarahi kami jika kedapatan tidka tidur siang.
            Setiap malam sehabis makan, kami diharuskan belajar bersama di dalam sebuah ruangan yang tidak begitu luas. (waktu itu rumah kami hanya berukuran sempit dan dihuni oleh banyak sekali orang, ada saudara-saudra kami dari kampung yang bersekolah di sini tinggal bersama kami). Setelah belajar dan sebelum tidur, kami harus bersama-sama keluar, kami harus mencuci kaki kami, dan harus embuang air kecil  (walaupun tidak merasa ingin buang air kecil tapi kami harus buang air kecil agar tidak buang air kecil di tempat tidur), dan setelah itu baru boleh naik ke tempat tidur.
            Satu hal yang masih sangat saya banggakan sampai saat ini, yang mungkin tidak dialami oleh semua anak kecil pada umumnya, Mama Bo’ i adalah seorang perempuan yang pandai mendongeng, setiap kali akan tidur, kami semua akan mendengar dogeng yang diceritakan oleh Mama Bo’ i hingga terlelap. Ada dongeng terjadinya Bintang Tujuh-Tujuh, Putri Henderina, Cebol, dll.
            Sewaktu kecil kami juga diberi kesempatan untuk berkarya semampunya kami, tak pernah ada larangan untuk tidak berkarya, walaupun kami masih dibatasi soal waktu (semua orang tua pasti melakukan ini). Apapun yang kami lakukan selama itu positif, Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i tak pernah melarangnya. Saking mendukungnya, jika kami terlambat pulang latihan  menyanyi,, Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i rela mencuci piring yang sebenarnya adalah tugas kami anak-anak.
            Sejak kecil, tak pernah satu kalipun kami mendengar Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i bertengkar. Mereka selalu saling mengerti dan memahami dalam segala hal. Hal yang paling saya suka adalah ketika melihat Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i bercanda, mereka terlihat sangat bahagia.
            Mereka adalah tipe pekerja keras. Tak pernah sekalipun kami melihat mereka duduk dan berpangku tangan ketika melihat ada sesuatu yang belum beres dalam rumah, mereka akan mengerjakan apa saja yang bisa mereka lakukan. Bias gender sangat kuat dalam keluarga saya, Papa Bo’ i tak pernah malu melakukan pekerjaan rumah yang kata orang banyak adalah tugas seorang perempuan (Papa Bo’ i sering membuat kue walaupun tak semahir Mama Bo’ i).
            Mama Bo’ i adalah seorang yang sungguh memperhatikan kami anak-anaknya. Kalau ada kisah-kisah inspiratif yang menceritakan tentang seorang ibu, kisah itu belum berhasil mengalahkan kisah yang dibuat Mama Bo’ i bagi kami. Kadang Mama Bo’ i rela makan cuma dengan cabe (kami menyebutnya kurus) hanya agar kami bisa makan dengan lauk yang seharusnya untuk Mama Bo’ i. Mama Bo’ i belum akan makan sebelum kami anak- anaknya makan, bahkan hingga kini, kami anak-anaknya sudah besar, dua orang kaka saya sudah menikah, kami semua sudah bekerja dan adik saya yang bungsu sudah kuliah, Mama Bo’ i masih tetap membagikan makanan bagi kami di piring kami masing-masing sebelum Mama Bo’ i makan. Di usia 27 tahun ini, saya baru akan makan jika sudah disiapkan dalam piring oleh Mama Bo’ i. Menurut orang lain itu sesuatu yang tidak pantas kami lakukan, tapi bagi kami itu memilki makna tersendiri, kami masih membiarkan Mama Bo’ i memperlakukan kami seperti gadis kecilnya di rumah, tapi kami akan selalu menopangnya dan membahagiakannya di hari tuanya sebagai wanita dewasanya.

            Sampai hari ini, saya belum pernah mencintai seseorang seperti saya mencintai mereka. Mereka adalah segalanya bagi kami. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar