Nama
saya Sherly Leo. Saya lahir di sebuah kota kecil di Kabupaten Timor Tengah
Selatan, 27 tahun yang lalu dari dua orang yang luar biasa yang selalu kami
panggil Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i. Bo’ i. dalam bahasa Rote (daerah asal Mama
Bo’ I artinya sayang.)
Saat ini saya tidak berencana menulis tentang siapa
saya, saya hanya ingin menulis tentang dua orang ini, dua orang yang sangat saya
cintai ini.
Papa
Bo’ i lahir di sebuah daerah pegunungan di kecamatan Kuanfatu, daerah selatan
dari Kabupaten Timor Tengah selatan ini, 62 tahun yang lalu tepatnya 18 Juli
1952. Sejak kecil yang saya tahu Papa Bo’ i adalah seorang yang tenang, seorang
yang sangat sabar. Dan sampai sekarang kesan itu masih tetap kokoh, karena
itulah Papa Bo’ i yang selalu tenang dan sabar dalam melihat segala sesuatu.
Mama
Bo’ i lahir di pulau Rote, pulau paling selatan di Indonesia, pada tanggal 27 November
1959. Mama Bo’ i adalah perempuan paling
luar biasa yang pernah saya kenal dan saya sangat bersyukur dilahirkan dari
rahimnya. Mama Bo’ i orang yang sedikit cerewet, tapi memiliki hati yang sangat
lembut. Seorang perempuan sederhana tapi tak pernah ingin melihat anak-anaknya
bermalas-malasan.
Menurut
cerita, perkenalan mereka itu diawali di Kupang, ibu kota propinsi NTT. Ketika
itu rumah Mama Bo’ i letaknya tepat di belakang gereja Koinonia Kuanino tempat Papa
Bo’ i sering berlatih paduan suara, dan ternyata mereka adalah teman paduan
suara di gereja itu. (Mungkin karena itu ada banyak orang yang mengatakan bahwa
kami 6 orang bersaudara memilki suara yang bagus saat bernyanyi. Hahahahha)
Pada
tanggal 26 Februari 1980 Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i diberkati menjadi sepasang
suami istri, yang kemudian diberkahi dengan 5 orang anak perempuan dan seorang
anak laki-laki.
Masa kecil kami, kami kategorikan dalam kategori
bahagia. Kami hidup dengan sederhana tapi bahagia dan teratur. Semuanya masih
sangat kental dalam ingatan saya, bagaimana saat bangun pagi papa bo’ I telah
menempatkan gelas-gelas berisi susu di atas meja. Bagaimana setiap sore kami berebutan
antri di sumur untuk dimandikan Papa Bo’ i sementara Mama Bo’ i menunggu kami
di dalam rumah untuk mengenakan pakaian pada kami. Bagaimana kami berhamburan lari ke dalam kamar
untuk berpura-pura tidur siang saat menyadari kalau sekarang saatnya Papa Bo’ i
pulang dari kantor dan akan memarahi kami jika kedapatan tidka tidur siang.
Setiap
malam sehabis makan, kami diharuskan belajar bersama di dalam sebuah ruangan
yang tidak begitu luas. (waktu itu rumah kami hanya berukuran sempit dan dihuni
oleh banyak sekali orang, ada saudara-saudra kami dari kampung yang bersekolah
di sini tinggal bersama kami). Setelah belajar dan sebelum tidur, kami harus
bersama-sama keluar, kami harus mencuci kaki kami, dan harus embuang air kecil (walaupun tidak merasa ingin buang air kecil
tapi kami harus buang air kecil agar tidak buang air kecil di tempat tidur),
dan setelah itu baru boleh naik ke tempat tidur.
Satu
hal yang masih sangat saya banggakan sampai saat ini, yang mungkin tidak
dialami oleh semua anak kecil pada umumnya, Mama Bo’ i adalah seorang perempuan
yang pandai mendongeng, setiap kali akan tidur, kami semua akan mendengar
dogeng yang diceritakan oleh Mama Bo’ i hingga terlelap. Ada dongeng terjadinya
Bintang Tujuh-Tujuh, Putri Henderina, Cebol, dll.
Sewaktu
kecil kami juga diberi kesempatan untuk berkarya semampunya kami, tak pernah
ada larangan untuk tidak berkarya, walaupun kami masih dibatasi soal waktu
(semua orang tua pasti melakukan ini). Apapun yang kami lakukan selama itu
positif, Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i tak pernah melarangnya. Saking mendukungnya,
jika kami terlambat pulang latihan
menyanyi,, Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i rela mencuci piring yang sebenarnya
adalah tugas kami anak-anak.
Sejak
kecil, tak pernah satu kalipun kami mendengar Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i bertengkar.
Mereka selalu saling mengerti dan memahami dalam segala hal. Hal yang paling
saya suka adalah ketika melihat Papa Bo’ i dan Mama Bo’ i bercanda, mereka
terlihat sangat bahagia.
Mereka
adalah tipe pekerja keras. Tak pernah sekalipun kami melihat mereka duduk dan
berpangku tangan ketika melihat ada sesuatu yang belum beres dalam rumah,
mereka akan mengerjakan apa saja yang bisa mereka lakukan. Bias gender sangat
kuat dalam keluarga saya, Papa Bo’ i tak pernah malu melakukan pekerjaan rumah
yang kata orang banyak adalah tugas seorang perempuan (Papa Bo’ i sering
membuat kue walaupun tak semahir Mama Bo’ i).
Mama
Bo’ i adalah seorang yang sungguh memperhatikan kami anak-anaknya. Kalau ada
kisah-kisah inspiratif yang menceritakan tentang seorang ibu, kisah itu belum
berhasil mengalahkan kisah yang dibuat Mama Bo’ i bagi kami. Kadang Mama Bo’ i
rela makan cuma dengan cabe (kami menyebutnya kurus) hanya agar kami bisa makan
dengan lauk yang seharusnya untuk Mama Bo’ i. Mama Bo’ i belum akan makan
sebelum kami anak- anaknya makan, bahkan hingga kini, kami anak-anaknya sudah
besar, dua orang kaka saya sudah menikah, kami semua sudah bekerja dan adik
saya yang bungsu sudah kuliah, Mama Bo’ i masih tetap membagikan makanan bagi
kami di piring kami masing-masing sebelum Mama Bo’ i makan. Di usia 27 tahun
ini, saya baru akan makan jika sudah disiapkan dalam piring oleh Mama Bo’ i. Menurut
orang lain itu sesuatu yang tidak pantas kami lakukan, tapi bagi kami itu
memilki makna tersendiri, kami masih membiarkan Mama Bo’ i memperlakukan kami
seperti gadis kecilnya di rumah, tapi kami akan selalu menopangnya dan
membahagiakannya di hari tuanya sebagai wanita dewasanya.
Sampai
hari ini, saya belum pernah mencintai seseorang seperti saya mencintai mereka.
Mereka adalah segalanya bagi kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar