Rabu, 01 Oktober 2014

CILIK (Cinta lama Infeksi Kembali)


            Malam itu aku terlalu letih untuk sekedar menonton sinetron favoritku setiap malam. Tanpa membuang waktu aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur kesayanganku ketika masuk ke dalam rumah, setelah sejak pagi beraktivitas dengan sangat padatnya. Perlahan-lahan mata ini mulai tertutup dan aku hampir masuk ke dunia mimpi, namun seketika aku terjaga karena deringan hapeku yang ternyata lupa ku non- aktifkan. Dengan sedikit memejamkan mata tanganku mulai meraih hape yang kuletakkan di atas meja di samping tempat tidur. Kulihat ada 12 angka tertera di layar hape, nomor yang tak kukenali.

Halo…” Jawabku dengan lemas setelah menekan tomboh answer di layar hapeku.

Halo…” Terdengar suara di seberang sana.

Aku masih tak mampu mengenali suara itu

Halo…” Suara itu kembali terdengar mungkin hanya untuk memastikan kalau aku  masih terjaga dan tidak kembali ke dalam mimpiku.

Iya, halo… maaf ini sama siapa?” Tanyaku masih dalam keadaan setengah mengantuk.

coba tebak ini siapa?” Suara di seberang sana terdengar sedikit menggoda.
siapa ya?” tanyaku sambil mulai memutar otakku dan mengingat-ingat siapa pemilik suara ini.

Pikiranku mulai menjelajahi ruang waktu dan kembali ke beberapa tahun lalu. Pikiranku mulai meraba-raba berusaha menjangkau teman-teman masa kuliahku dan ingin meyakinkan bahwa suara ini milik salah satu di antara mereka. Tapi ternyata tidak, suara ini bukan milik salah seorang teman kuliahku. Lalu siapa dia?

Ayo tebak siapa ini?” Suara itu mulai terdengar tertawa.
Siapa ya? Aku masih saja belum mampu mengenalinya.

Ini sama teman SMA dulu… Ayo tebak… “
Ahaaa… teman SMA dulu? Aku tahu!
Jonathan?” kataku dengan percaya diri
Hahahaha… iya… ini aku! Ternyata masih ingat ya…”

            Itulah awal pertemuan kembali kami setelah perpisahan kami dinyatakan lulus SMA. Waktu yang sangat lama. 2005 sampai dengan saat ini sudah 2014, Sembilan tahun yang lalu.
            SEPULUH TAHUN YANG LALU….
            Sore itu kami pulang sekolah sedikit lebih awal karena peraturan di sekolah kami, setiap hari Sabtu kami yang masuk siang harus masuk lebih awal untuk mengikuti ibadah bersama dan setelah itu Kegiatan Belajar Mengajar akan dilakukan hanya sampai pukul 16. 00 WITA.  Setelah bunyi lonceng tanda kegiatan belajar mengajar selesai dan setelah berdoa bersama di dalam kelas, tanpa membuang waktu kami berebutan keluar dari pagar sekolah yang sudah seminggu ini berhasil menguras tenaga dan otak kami untuk belajar (walaupun sebenarnya tidak demikian juga).

Halo Chichy…” Sapa seseorang dari arah belakang. Spontan aku dan teman-teman menoleh ke belakang.

Halo…” Sapaku pada teman yang ternyata adalah tetanggaku.

Boleh bicara sebentar?” Katanya.
Boleh…” Kataku sambil melangkah meninggalkan teman-temanku sedikit ke belakang mereka.

Kamu dapat salam dari teman saya

Siapa?”

Jonathan, teman sekelas saya

Salam bagaimana ya?” kataku pura-pura tak mengerti apa maksudnya walaupun sebenarnya aku sudah tahu apa maksudnya.

Hmmm… Bagaimana ya… Dia suka sama kamu” Katanya dengan suara yang kedengaran mulai merasa tak enak menyampaikan ini.

Hummmm… iya… tapi nanti saja ya baru aku jawab?” Jawabku dengan lembut.

Oke, kalau begitu aku duluan ya…” Kataku sambil berlalu menhampiri teman-temanku.

            Sore itu, sore yang cerah di hari pertama dalam minggu ini, hari Senin yang indah, yang merubah ungakapan yang sering orang-orang gunakan “I hate Monday” karena Senin ini, tak seperti biasanya aku pulang bersama teman-teman akrabku, lima orang perempuan tangguh dan sangat luar biasa dalam karya dan celotehan mereka. Sore ini sepulang sekolah aku pulang bersama seseorang yang sebenarnya sudah lama ku lihat tapi tak begitu ku kenal. Kami satu sekolah tapi beda kelas. Dia orang yang dibicarakan oleh tetangga sekaligus teman sekolah saya itu di hari Sabtu lalu. Dia adalah Jonathan.

            Sore itu ternyata jadi awal persahabatan kami, aku dan Jonathan resmi berpacaran. Sama seperti pasangan-pasangan yang lainnya, kami selalu terlihat bersama baik itu di sekolah maupun di jalan sepulang sekolah. Bahkan mungkin  terlihat sedikit aneh bagi teman-teman sebaya kami yang lainnya, hubungan kami tidak kami sembunyikan dari keluarga kami, walaupun masih di bangku SMA tapi kami sudah berani memperkenalkan pasangan pada keluarga kami, dia sering main ke rumahku, dan akupun sering main ke rumahnya. Hubungan kami dapat dikatakan hubungan yang sangat baik, walaupun kami masih sangat muda waktu itu.

            Semuanya berubah ketika kami dinyatakan lulus SMA. Waktu itu di kota kami yang memiliki telpon seluler baru segelintir orang saja, kami berpisah tanpa saling memberi nomor hape, bukan karena tak ingin tapi karena belum memiliki barang elektronik tersebut. Aku berangkat ke luar kota dan dia entah ke mana aku tak tahu, yang aku tahu dia kembali ke kota kelahirannya yang berbeda pulau denganku.

Semuanya hilang, tak berjejak hingga malam ini, deringan hapeku menghadirkan dia kembali ke sini.

            HARI INI….
            Setelah sebulan kembali membangun persahabatan. Yah, harus kami katakan ini persahabatan karena semua menjadi begitu bercampur aduk, antara rasa bahagia, rasa haru, bingung, dan semuanya bercampur dalam hati dan benak kami.
Sembilan tahun bukan waktu yang singkat. Kami telah berpisah sangat lama, kami telah hampir saling melupakan dan bahkan berpikir takkan pernah saling bertemu lagi. Kami telah berubah, kami tidak lagi dua insan remaja yang saling jatuh cinta dengan getaran cinta yang membuat kami sering terlihat tersenyum sendiri dan saling menatap malu-malu ketika bertemu. Kini kami telah menjadi dua orang dewasa yang harus kami akui bahwa sangat berbeda dari sepuluh tahun yang lalu. Dia telah menjadi seorang laki-laki dewasa tidak hanya dalam usia tapi juga cara pandangnya akan hidup dan juga sebuah hubungan. Aku telah menjadi seorang wanita dewasa yang tak lagi tersipu malu ketika berhadapan dengannya.
            Dan… Akhirnya hari ini, kami bersama-sama mengakui bahwa rasa yang pernah tertinggal hampir mati itu ternyata masih ada di sudut hati kami, dan kami ingin memulai sesuatu yang baru di lembaran lama yang sempat kami simpan dengan sangat rapi dalam hati.
Kalau orang lain mengatakan CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali) kami lebih suka menggunakan singkatan yang unik walaupun terlihat lucu, kami menyebutnya CILIK (Cinta Lama Infeksi Kembali)



SoE, 1 Oktober 2014



Tidak ada komentar:

Posting Komentar