Senin, 11 November 2013

Sebelas November Dua Ribu Tiga Belas



Panas... gerah... dan riuh dengan segala kesibukan.
Kota Kasih yang pernah menjadi rumahnya...
Kota yang pernah menjadi saksi persahabatan dan perjuangannya.
Di ujung jalan sana masih tersisa bias perjuangannya.
Di sudut bangunan itu kembali terlihat cuplikan persahabatannya.
Kota ini, kota yang pernah melihat seorang gadis berusia 17 tahun, pertama kali melangkahkan kaki keluar dari cangkangnya, melangkah keluar dari tanah kelahirannya.
Kota ini pernah melihat seorang gadis remaja yang melangkah dengan harapan dapat mencintai kota ini seperti kota kelahirannya.
Kota ini juga melihat gadis berumur 17 tahun itu beranjak dewasa.
Kota kasih, kota yang menawarkan sebuah janji masa depan yang lebih baik baginya.
Kota yang memperkenalkan seorang gadis kecil dengan berbagai tipe manusia dari berbagai suku, agama, ras, dan sikap.
Kota yang melihat perjuangan gadis kecil dalam meraih mimpinya.
Kota yang melihat sorot kerinduan tak tertahankan akan tanah kelahirannya di sudut matanya.
Kota ini juga yang akhirnya menjadi saksi air mata bahagia milik gadis yang tidak lagi berusia 17 tahun.
Kota ini akhirnya melihat akhir dari perjuangan gadis kecil yang datang 7 tahun yang lalu.
Kota ini pun melihat langkah pasti gadis kecil yang telah berubah menjadi seorang wanita dewasa, yang tidak lagi menggunakan pakaian kecilnya namun menggunakan toga wisudanya.
Hari itu, 17 september 2011, kota ini melihat seorang sarjana teologi melangkah meninggalkan podium itu.
Hari ini, 11 november 2013, kota ini masih tetap terlihat sama seperti 7 tahun yang lalu...  2 tahun yang lalu. Kota ini masih menyimpan semua kenangan perjuangan dan persahabatan seorang gadis kecil yang kini  telah menjadi seorang wanita dewasa.

                                                                                                                                Kupang, 111113

Tidak ada komentar:

Posting Komentar