Saya mengenal dia sejak saya betumbuh menjadi kanak-kanak
yang suka bermain di belakang rumahnya. Tapi dia mengenal saya sejak saya
lahir. Sejak kecil yang saya tahu tentang dirinya adalah, dia seorang suami,
dan seorang ayah beranak banyak karena memang ada begitu banyak anak yang
tinggal di rumahnya dan memanggilnya “bapa”.
Seiring
berjalannya waktu saya semakin dewasa, saya mulai memanggilnya juga dengan
sebutan “bapa”. Dia orang yang tenang, humoris dan apa adanya. Saya seriNg
diganggunya dengan guyonan-guyonan lucu. Saya sering dipanggilnya ‘saya punya anak’.
Suatu ketika, di saat saya telah menyelesaikan pendidikan
saya di Fakultas Teologi UKAW Kupang, jika dia kebetulan bertandang ke rumah
saya maka dia akan selalu berkata “saya harus hubungi orang Sinode untuk siap
mimbar khusus buat saya punya anak satu ini” memang terdengar lucu karena
memang tinggi saya harus saya akui hanya
1, 50m (hahahaha... malu...). Lama kelamaan saya mulai menimati candaan itu.
Setiap hari jika saya melewati rumahnya selalu saya ganggu
dia. Jika saya menyapanya dengan mengatakan “syalom Ba’i” dan dia tidak
menajwab maka saya akan berteriak sekencang-kencangnya dan mengatakan “Ba’i beta ada syalom....” hal ini terjadi hampir setiap hari dalam
setahun terakhir ini karena jalan yang harus saya tempuh untuk ke gereja tempat
saya melayani harus melewati samping rumahnya.
Kemarin, ketika saya hendak ke rumah teman saya yang berada
di Oekamusa, saya terkejut melihat
keramaian yang ada di depan rumahnya. Ternyata dia mengalami kecelakaan lalu
lintas. Saya sempat takut tapi saya berusaha berpikir positif dan melanjutkan
perjalanan ke rumah teman saya setelah dia dibawa ke rumah sakit umum.
Apa yang tak pernah saya takutkan tadi ternyata menjadi
kenyataan. Saat saya pulang dari rumah teman saya, ada banyak orang di depan
rumahnya, di jalan tempat dia mengalami kecelakaan ternyata dibakar beberapa
lilin. Oh my God!!! Apakah benar???
Dia meninggal dunia???
Dia yang aku kenal seorang ayah beranak banyak, ternyata
telah tiada. Dia yang ternyata adalah seorang ayah tak beranak kandung. Semua
anak yang saya tahu adalah anaknya adalah anak-anak angkatnya yang dia bimbing,
dia bina, dia kasihi dan dia biayai hingga menjadi orang-orang hebat di kota
ini. Tak ada satupun di antara anak-anaknya yang tak menjadi seorang sarjana. Mereka berjumlah 64 orang menangisi jenasahnya. Istri terkasihnya yang juga
adalah seorang wanita tenang yang luar biasa terlihat pingsan berulang kali tak
menahan kesedihan hatinya.
Dia orang berhati mulia yang akan selalu ku kenang.
Special buat Ba’i
Letuna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar