Sepanjang tahun ini saya selalu berusaha untuk mengikuti perkembangan yang terjadi di luar sana melalui media sosial meskipun dengan keadaan jaringan yang kurang mendukung. Hal yang paling menggelisahkan adalah ketika saya membaca status dari beberapa orang yang benar-benar memberi dirinya untuk melayani secara khusus dalam melihat persoalan yang sementara terjadi namun tak semua orang ingin mengetahuinya. Persoalan itu tak lain dan tak bukan adalah masalah yang berkaitan dengan Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau yg lebih dikenal dengan sebutan TKI, Tenaga Kerja Indonesia.
Ironis memang, di saat pihak lain sementara berlomba untuk menjadi yang "utama" pada saat yang sama untuk alasan sesuap nasi sudah mendekati angka 100 jenasah PMI yang harus dipulangkan ke NTT yang tercinta ini dalam keadaan kaku tanpa nyawa. Saya sedikit bertanya-tanya dalam hati saya, kira- kira jalan keluar seperti apa yang baik untuk mengatasi hal ini.
Sejenak saya melihat beberapa kisah di belakang. Ada beberapa orang yang memang "berhasil" ketika mengadu nasib di luar negeri, mereka berhasil menolong keluarga di kampung halaman untuk membangun rumah, untuk menyekolahkan adik-adik, dan beberapa hal positif lainnya. Tapi entah itu berapa banyak yang bisa dikategorikan dalam kategori "berhasil" itu. Yang nampak dan cukup bahkan sangat meresahkan malah mereka yang memiliki harapan yang tinggi namun dipulangkan tanpa nyawa. Dan yang sangat menggelitik mereka disebut pahlawan devisa.
Sejenak saya juga mengingat satu pengalaman saya ketika mendengar cerita seorang ibu berisi kekuatirannya tentang keadaan anaknya yang sudah hilang kabar 3 tahun lamanya (saat itu tahun 2015), pergi ke "negeri tetangga" untuk "makan gaji" ketika ditanya bagaimana cara anak itu pergi sang ibu hanya bertutur kalau anaknya itu tak bisa baca dan tulis, sudah pernah bekerja sebagai cleaning servis di salah satu hotel di daerahnya, tapi karena tergiur dengan bujukan salah seorang kerabat akhirnya anaknya yang "buta huruf" rela meninggalkan pekerjaannya yang kala itu digaji Rp. 50. 000,-/ hari untuk janji jutaan rupiah. berbekal punya kenalan di salah satu yayasan yang berusaha mencari informasi tentang para PMI ilegal lalu dipulangkan ke tanah air, saya berusaha membantu itu tersebut dengan harapan dapat mengetahui keberadaan anaknya. Tapi memang tak mudah karena data anak tersebut tidak lengkap. Saya sedikit menyesal karena setelah kepindahan saya dari tempat itu saya tidak lagi mengikuti perkembangan pencarian anak tersebut.
Rumput tetangga kelihatan lebih indah dari rumput di halaman kita sendiri.
Mungkin itu yang bisa saya katakan. Ketika saya menatap hamparan lahan tanah kosong yang bisa dijadikan kebun, ketika saya melihat sumber daya alam yang ada disekitar saya, saya bertanya- tanya, pernahkan "mereka" berpikir bahwa tanah ini adalah anugerah yang akan memberi berkat bagi mereka jika dikelola dengan baik? Saya tak ingin berpikir negatif, tapi pikiran inilah yang ada dalam benak saya "kemalasan dipeluk erat oleh gengsi hanya akan menghasilkan harapan menjadi kaya berujung kehancuran.
Menimbang ada beberapa orang yang berhasil di luar sana, saya juga sempat berpikir "ok! Jika memang pilihannya jatuh pada mengadu nasib di negeri orang, pergilah jalur yang benar, yang legal. Ikutilah prosedur yang ada dengan baik dan benar." Tapi ah... rasa- rasanya pikiran ini juga sungguh mengganggu saya, karena saya sungguh tahu bahwa negeri ini sangat kaya, masih sangat banyak potensi yang bisa digali dan dikelola. Untuk menjadi kaya tak perlu bertamu ke rumah orang, cukup dengan melihat potensi dalam rumah sendiri dan dirubah menjadi berkat.
#stop_humantraficking
Tidak ada komentar:
Posting Komentar