Rabu, 24 Juli 2013

Kolbanonya Kami Atoni Meto

Takut pada bayangan. Mungkin itu ungkapan yang paling tepat digunakan untuk menggambarkan keadaan kami ketika merencanakan segala sesuatu untuk pergi ke sana, darah Amanuban Selatan yang tertimpa bencana banjir. Tapi walaupun demikinan semangat kami untuk ke sana tak hilang karena bayangan itu.
Minggu, 30 Juni 2013, di hari terakhir di bulan itu kami berenam, saya, K Sandra, K Desy, K Joshua, K Grace, K Andy, kami berenam berkumpul di rumah saya dan mempersiapkan diri utuk berangkat ke Kolbano. Oh ya, dua hari sebelumnya Jumat, 28 Juni 2013, K Angel, K Erick dan K Yoce sudah membeli 3 karung beras dan 5 dus Mie Instan dan pada keesokan harinya Sabtu, 29 Juni 2013 saya menitip barang-barang tersebut ke Kolbano melalui Bis Bob Boy dan setiba di sana diturunkan di rumah bapak Boimau yang berada di sebelah jembatan Noesiu.
Pada saat kami berkumpul di rumah saya, keadaan kota SoE sedang diselimuti kabut tebal, hawanya sangat dingin. Tapi semangat kami tidak serta merta membeku. sempat terjadi pembahasan tentang rute yang aka kami lewati. Bapa Yusti (kaka ipar saya yang kebetulan bertugas di daerah Kolbano) menyarankan kami untuk melewati daerah Noemuke dengan alasan lebih cepat, tapi jalannya sedikit kurang bagus dan juga harus melewati kali, ada kemungkinan kami harus digendong agar dapat melewati kali terebut. Membayangkannya saja saya merasa geli dan saya rasa teman-temanpun merasakan hal yang sama. Akhirnya kami memutuskan walalupun harus menempuh perjalanan yang panjang dan memakan waktu kira-kira 2 jam perjalanan, kami tetap akan melewati jalur Batu putih kemudian Bena.
Semakin jauh  perjalanan yang kami tempuh, bayangan yang ada dalam benak kami semakin samar. Ternyata keadaannya tak seburuk yang kami bayangkan  semakin dekat ke daerah Kolbano bayangan itu ternyata diganti kekaguman akan indahnya pantai dan laut yang saya lihat. Keindahannya tetap terpancar meski baru saja digenangi air akibat banjir beberapa waktu yang lalu.
Setibanya kami di rumah bapa Boimau, dengan penuh semangat kami langsung membagi-bagi beras dan juga Mie instan ke dalam kantung-kantung dan siap dibagikan ke masyarakat.  Setelah itu tanpa mengulur-ulur waktu kami langsung menuju ke rumah-rumah masyarakat dan membagikan  sedikit dari apa yang kami bawa, memang tidak seberapa, tapi saya merasa tenang ketika melihat pancaran bahagia dari mata mereka.  Sedikit terharu ketika melihat dalam kesederhanaan, mereka tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk kami yang mereka sebut Kase (sebutan bagi orang- orang yang berasal dari Kota), walaupun sudah kami katakan bahwa kami juga adalah Atoin Meto. Segelas kopi dan beberapa potong kue pisang disuguhkan bagi kami dengan penuh senyuman.  Kembali terharu ketika  seorang kakek yang memperkenalkan dirinya BaI Tlonaen yang ternyata ketika melihat wajah K  Joshua menjadi rindu pada cucunya yang berada di Kupang.
Selain minum segelas kopi, beberapa orang dari kami juga makan sirih pinang dan juga K Grace yang tidak terbiasa dengan kopi akhirnya memutuskan minum air putih  saja. Mungkin karena kesediaan kami untuk berbaur dengan mereka, makan apa yang mereka makan, minim apa yang mereka minum itulah yang membuat kesan akrab itu semakin nyata.
K Sandra yang pada dasarnya adalah seorang tenaga medis dengan suka cita mendengar keluhan mereka dan membagikan obat-obatan yang telah dipersiapkan.  Ada sorotan kaget dalam mata K Sandra ketika mengetahui ternyata ada seorang anak berumur kira-kira 1 tahun yng ternyata belum diimunisasi secara lengkap. Bagaimana mungkin hal penting seperti itu diabaikan? Tercengang juga ketika mendengar bahwa MP ASI yang dibagikan pada saat posyandupun tidak mereka dapat karena tidak lagi mengikuti posyandu dengan alasan jarak rumah mereka dengan tempat pelayanan kesehatan yang jauh.
Setelah kurang-lebih 1 jam bersama-sama dengan mereka kami melanjutkan perjalanan ke daerah Nop-nop. Ternyata benar apa kata orang, jembatan tersebut rusak berat akibat banjir. Selain itu jalan raya penghubung ke daerah Oetuke pun putus bahkan sebagian dari Aspalnya terseret ke arah laut. Tapi keadaan seperti itu ternyata tak mengurangi keindahan laut Kolbano. Seperti Si Bolang dengan suka cita kami mendaki jalanan yang tertutup tanah sisa longsor, kami terus mengabadikan semuanya dalam foto-foto yang indah.
Inilah Kolbano, daerah yang sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat NTT bahkan mungkin ke manca Negara karena keunikan batu warnanya yang terkenal itu. Kolbano yang berada di daerah Pah Meto yang adalah kekayaan alam milik Atoin Meto. Inilah Kolbano yang menjadi kebanggaan kita Atoin Meto tapi harus kita akui ada banyak hal yang perlu kita benahi. Kolbano bukan hanya tentang keindahan pantainya, bukan hanya tentangkeunikan batu warnanya, tapi juga tentang kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan dan hidup sehat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar