Selasa, 28 Mei 2013

Menari di tengah kabut???

Menari di tengah pekatnya kabut, berusaha menikmati setiap langkah kaki mengikuti irama alam. Mengapa harus di tengah kabut? Tak adakah tempat indah lainnya yang dapat dijadikan panggung? Begitu sempitkah dunia sehingga tak menyediakan tempat lain yang lebih indah?
Kabut itu samar, kabut itu dingin. Kabut itu mungkin indah bagi kalian yang berada di luar sana, tapi tidak untuk aku, seorang pencinta mawar, seorang pencinta kupu-kupu. Dapatkah keindahan mawar terlihat di tengah-tengah pekatnya kabut? Dapatkah keindahan tarian kupu-kupu mempesona di tengah kelamnya kabut?
Tapi di tengah kabut itulah seorang peri kesepian mampu menari. Di tengah kabut itulah seorang peri menemukan sedikit kenangan tentang belahan jiwanya. Dingin... Samar...
menari... Apakah ini dapat disebut sebuah tarian? Berputar-putar di tengah kabut dengan mata terpejam, melambaikan tangan mengikuti arah irama jiwa.
yah... Itu tarian, sebuah tarian penuh kerinduan, merindukan belahan jiwanya hadir melengkapi tarian itu menjadi sebuah tarian penuh pesona. Yah... Itu sebuah tarian, tarian di tengah kesepian, di tengah diamnya alam, di tengah samarnya pandangan.
tarian yang mampu memberi sedikit kehangatan tubuh, tarian yang mampu menghadirkan sedikit ketenangan.
mengapa tak ada seekor burungpun yang melintasi kabut ini? Ada asa yang begitu dalam untuk menitipkan sebuah pesan penuh kerinduan kepada belahan jiwanya. Menitipkan sebuah kalimat penuh arti "di sini penuh kerinduan, merindukan sosokmu di setiap detik, di setiap hembusan nafas ini. Di sini, tak pernah letih memelukmu dalam kenangan meski hampa."
tapi bagaimana dapat pesan itu tiba di sana, di tempat tak beralamat, di tempat yang seolah di planet yang lain? Tanpa pesan itu mampukah belahan jiwanya mendengarkan suara hatinya penuh kerinduan? Tanpa pesan itu mampukan belahan jiwanya tau betapa ia dirindukan?
mampukah kabut ini menceritakan padanya? Ataukah kabut akan selalu diam dan dingin?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar