Untuk beberapa minggu setelah adanya himbauan pemerintah untuk menghindari keramaian dan jangan menciptakan keramaian masih terlihat banyak orang yang menganggap biasa himbauan tersebut, bahkan di kalangan para pemimpin agama terlihat banyak yang berdebat menggunakan kutipan ayat kitab suci dan menentang pemindahan peribadahan ke rumah-rumah jemaat.
Semakin hari keadaan di dunia, khususnya di Indonesia Semakin memprihatinkan, terjadi peningkatan jumlah ODP (orang dalam pantauan) karena kepulangan orang-orang dari daerah zona merah ke daerah yang masih dinyatakan bebas dari covid 19. Peningkatan status ODP menjadi PDP (Pasian Dalam Pantauan) pun menjadi hal yang mulai semakin meresahkan. Di zona merah jumlah orang yang meninggal karena covid 19 terus bertambah. Dari berbagai media informasi masyarakat mulai melihat peningkatan drastis kasus covid 19. Akhirnya mau tidak mau, setuju tidak setuju orang-orang yang masih ingin bertahan untuk tetap melaksanakan kegiatan keagamaan di tempat ibadah mulai memutuskan untuk mengikuti apa kata pemerintah.
Jumat Agung dan paskah dengan tata ibadah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda. Di tahun-tahun sebelumnya perayaan jumat agung dan paskah selalu diawali dengan berbagai jenis kegiatan seperti perlombaan dan pertandingan antar-rayon atau antar warga jemaat di jemaat. Untuk ibadahnya selalu dipersiapkan dengan sangat matang, liturgi yang dibuat sedemikian rupa hingga jemaat yang beribadah bisa merasakan nuansa jumat agung dan paskah, drama, oratorium, fragmen, nyanyian dan puisi dipersiapkan dengan sangat baik untuk ditampilkan demi kemuliaan nama Tuhan. Semua yang baik dipersiapkan karena orang Kristen sungguh ingin benar-benar merayakan dan memaknai makna pengorbanan Yesus Kristus demi penebusan dosa manusia dan juga mensyukuri kebangkitan Yesus Kristus sebagai tanda telah mengalahkan kuasa dosa dan maut.
Tahun ini berbeda!!!!
Tapi tahun ini Jumat Agung dan paskah terasa lebih menyentuh hati kami. Tanpa perayaan yang wah, tanpa persiapan yang luar biasa, tanpa drama, fragmen, oratorium, dan puisi, tapi hati kami benar-benar berserah dan bersyukur pada Tuhan untuk pengorbananNYA demi karya penebusan.
Kami beribadah dalam keheningan dan juga dalam rasa sedih karena merasakan kerinduan akan suasana tahun-tahun sebelumnya, kami beribadah terpisah dari warga jemaat yang lain, tapi hati kami sungguh dekat pada mereka di dalam doa-doa kami. Kami beribadah dengan khusuk tanpa selingan drama yang memaksa kami untuk membayangkan penderitaan Yesus Kristus tapi hati kami tersentuh ketika mendengar suara kami sendiri menyayikan lagu "Kepala yang berdarah".
Tahun ini menang berbeda, dan kami jadi tahu bahwa pengorbanan Yesus perlu untuk dimaknai dalam hidup masing-masing orang secara pribadi dari hati yang paling dalam dan penyerahan diri penuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar